Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Cerita


__ADS_3

menikahi bos mafia


Part 86


Setelah mereka pamit untuk pulang, ternyata beberapa tetangga masih ada yang di rumah. Mungkin mereka masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka menungguku pulang begini.


"Apa yang terjadi,Dira? Kenapa kamu di suruh untuk datang ke rumah mas Ronal?" Tanya mbak Susi yang juga masih menunggu kepulangan ku di ruang keluarga.


Sedangkan tetangga yang belum pulang hanya beberapa tetangga dekat saja, ada sekitar tujuh orang. Mereka semua segera beralih pandang ke arah ku, untuk mendengarkan cerita apa yang akan ku sampaikan.


"Ayo cepetan cerita dong, Dira. Semua sudah nggak sabar menunggu dari tadi. Memangnya calon suami mu itu mabuk-mabukan lagi ya? apa berjudi? atau bawa wanita pulang ke rumah?" sahut mbak Nadin yang dengan wajah sinisnya. Beberapa tetangga mulai mirik kesal mendengar kata-kata mbak Nadin.

__ADS_1


"Eh ngomong itu otaknya di pakek mbak, jangan asal-asalan gitu aja ngomongnya." Balasku dengan kesal


"Buruan cerita makanya, jangan sok-sokan ngartis deh kamu. Ditunggui banyak orang juga, nggak nyadar-nyadar." Tak mau mengalah mbak Nadin terus saja mengoceh tak karuan, membuat ku sakit kepala saja di buatnya.


"Udah diem dulu deh kamu,Din. Kalau kamu ngoceh terus gimana Nadira mau cerita." dan akhirnya mbak Susi pun ikut berkomentar.


Dia juga terlihat sangat kesal dengan tingkah kakak ku itu. Mbak Nadin tak menjawab, dia justru hanya melengos sembari melipat kedua tanganya ke depan dada sementara mama hanya menghela nafas panjang lalu menepuk-nepuk lengan anak kesayanganya itu.


"Jadi begini, saat aku sampai di rumah mas Ronal telah ada tuan Martin, bu sinta, mas Hansel dan juga mas Ronal dan bunda. Tadi sebelum aku sampai di sana mas Ronal dan mas Hansel berantem. Baku hantam gitu. " semua yang hadir pun membulatkan ke dua matanya. Saling menoleh dan geleng-geleng kepala.


"Apa karena Hansel tak terima jika kamu lebih memilih kakaknya dan akan segera menikah denganya." tebak salah satu tetangga kemudian, mbak Nadin pun sudah terlihat mulai kesal.

__ADS_1


"Idih jangan sok kecantikan deh, mana mungkin mas Hansel berbuat seperti itu, dia juga cuma anggap Nadira sebagai sahabat kok ngak lebih, dan lagian juga dia sekarang deketnya sama aku." Ucap mbak Nadin dengan bangganya. Aku hanya melirik sekilas lalu mengangkat bahu ku. Malas mendengarkan sikap sombongny itu.


"Bu Tuti benar. Tuan Martin miminta saya untuk memili diantara mereka berdua mas Ronal atau mas Hansel supaya mereka berdua tak lagi saling baku hantam." jawab ku yang kemudian membuat semua para tetangga melongo tak berkata-kata. Mbak Nadin tak terima dengan semua itu, ia pun mencak-mencak bahkan mengatakan jika aku adalah ratu halu. Aku pun tak peduli sebab semua yang ku katakan memang benar adanya dan sesuai dengan kenyataan yang ada.


"Ya uda tanya aja sama tuan Martin atau nggak tanya sama bundanya mas Ronal kalau masih nggak percaya." aku kembali menjawab perkataan mbak Nadin, dia terlihat sangat begitu kesal lalu segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan kasar sekali.


Setelah aku selesai menceritakan sekilas tentang rumah bunda tadi, para tetangga pun mulai pamit untuk pulang satu per satu, suasana pun menjadi hening dan mama juga tak banyak bicara. Dia pergi dan masuk ke dalam kamarnya begitu saja. Aku pun masuk ke dalam kamar ku dan berusaha untuk memejamkan mata, meski bayang-bayang mas Ronal dengan segala kemisteriusanya kembali lalu lalang didepan mata.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku bukan rahim cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2