Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Menetapkan Acara Resepsi


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


"Alhamdulillah, akhirnya kamu akan menikah juga, Dira. Aku senang sekali karena beban Mama tentunya akan berkurang." Semua mata tertuju pada Mbak Nadin. Mas Ronal menatap kakak kandungku dengan tajam, seakan tak suka dengan kalimat yang dia ucapkan.


"Karena Nadira sudah setuju, nanti akan segera saya siapkan resepsinya. Rencananya saya akan membuat acara cukup meriah di rumah Santi, Bu Dea. Dia yang meminta karena Ronal memang anak satu-satunya. Kalau acara di sini mau yang meriah atau sederhana?" tanya Tuan Martin sembari menatap mama di sampingku.


"Di sini acaranya sederhana saja, Tuan. Lagipula teman saya juga nggak banyak, jadi undangannya sedikit. Mungkin cukup mengundang para tetangga saja. Syukuran kecil-kecilan," balasku cepat.


"Iya, TuAn. Lagipula kalau acara besar-besaran jelas kami nggak ada biaya," balas Mama langsung pada intinya. Biaya.


"Baiklah kalau begitu, kita sepakat kalau di sini syukuran kecil-kecilan saja sementara di rumah Ronal acara yang lebih besar ya?" mama mengangguk. Aku dan Mas Ronal pun mengangguk bersamaan. Tak sengaja menatap matanya, aku mendadak berdebar tak karuan. Desiran aneh mulai terasa dalam dada.

__ADS_1


"Kira-kira biayanya berapa, Bu? Saya yang akan tanggung," ucap Tuan Martin lagi sembari mengambil tas hitamnya tadi. Mama kembali membulatkan mata saat melihat lembaran merah yang ada di tangan sang Tuan.


"Gaun yang akan dipakai untuk acara, akan kami siapkan. Nanti biar Dira dan Ronal fitting baju di butik adik saya. Ronal yang akan menjemput Nadira, terserah mereka kapan sempatnya. Uang ini khusus buat acara syukuran saja," sambung Tuan Martin lagi. Mama kembali menelan ludah saat melihat tumpukan kertas merah dengan nominal seratus ribuan itu.


"Sepuluh juta cukup, Bu?" tanya Tuan Martin sembari menyodorkan setumpuk uang itu ke hadapan Mama.


"Sepuluh juta, Tuan? Cukup, sudah cukup karena cuma syukuran sederhana saja," balas Mama sedikit gugup.


"Syukurlah kalau sudah cukup, misal kurang nanti bilang saja sama Ronal, Bu. Biar dia tambahkan kekurangannya," sambung juragan lagi. Mama hanya mengiyakan lalu meminta Mbak Nadin menyimpan uang itu di dalam lemari baju Mama.


"Uang segitu sudah lebih dari cukup, juragan. Nggak perlu ditambah lagi. Terima kasih banyak sudah membiayai acara ini, harusnya kami yang menyiapkannya sendiri," ucapku lagi. Tuan Martin hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Harusnya memang pihak lelaki yang menyiapkan, Dira. Kami nggak mungkin membebani kamu dan Mama untuk acara ini. Kalau begitu sekarang Ronal akan berikan tanda pengikat buat kamu ya? Intinya supaya kamu nggak dilamar orang lain. Tentu banyak lelaki yang ingin memiliki istri seperti kamu."


"Nggak ada kok, Tuan. Mana ada lelaki yang mau sama saya."


"Saya mau kan?" Lagi-lagi aku kembali mendengar suara laki-laki itu. Tatapannya yang biasanya tajam entah mengapa kini mendadak teduh kurasakan.


"Eheemmm." Mas Hansel berdehem. Dia melengos ke arah lain setelah Mas Ronal mengucapkan kalimat singkat itu. Hatiku kembali berdebar saat tak sengaja Menatap dengan mata itu. Mata yang mulai memancarkan keteduhan di sana.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2