
Menikahi Bos Mafia
Part 57
Kuhela napas panjang. Entah sudah berapa kali Mas Hansel membujukku untuk pergi dari kota tercinta ini. Entah berapa kali juga Mas Hansel menceritakan rencananya ini padaku. Meski berulang kali kutolak, ternyata dia tak menyerah juga. Masih terus berusaha merayuku agar mau melakukan apa yang dia rencanakan.
[Dira, ini bukan berarti kamu mengingkari janji sama papa dan ibumu. Intinya kamu melakukan ini juga demi kebaikan bersama. Lagipula kamu juga akan tetap membayar hutangnya kan? Nanti aku bantu bayar, atau kalau kamu nggak mau kubayar sepenuhnya hutang itu. Percayalah, Dira. Aku hanya ingin yang terbaik buatmu]
Lagi, kudapatkan pesan itu darinya sebelum aku membalas pesan-pesan yang dia kirimkan sebelumnya. Rasanya capek untuk membalas pesan-pesan itu. Penolakanku berulang kali seolah tak didengar Mas Hansel. Dia masih saja merayu dengan hal yang sama.
__ADS_1
Kuletakkan handphone itu di atas meja begitu saja. Tak membalas pesan dari Mas Hansel, aku mulai menikmati nasi gorengku dengan telur dan berbagai sayuran juga cabai rawit yang baru saja kumasak. Segelas air dingin pun kusiapkan. Baru tiga suapan, tiba-tiba handphone kembali berdering tepat saat Mbak Nadin muncul dari arah pintu sembari menggerutu.
"Dira, itu pasti telepon dari Mas Hansel. Iya kan?!" tanyanya kasar sembari berlari ke arahku.
Aku ambil bendah pipi itu dari atas meja untuk mengetahui siapa yang menelponku sekarang. Ternyata dugaan mbak Nadin benar, nama mas Hansel muncul dilayar handpone ku.
"Tuh kan bener, ku telpon berulang kali nada sibuk, rupanya dia telpon ke kamu!, sini biar aku yang angkat." seruh mbak nadin cepat seraya menarik paksa hanpone yang sedang ku pegang.
"Sini, ayo bawa sini dira!" sentak mbak nadin lagi. Dia terus saja menarik handpone ku itu lalu membawanya ke ruang tamu. Aku dan dia saling tarik menarik. Mbak Nadin pun cukuo egois, tak mau melepaskan handpone ku. Dia bersikeras ingin mengangkat telepon dari mas Hansel yang masih saja terus berdering.
__ADS_1
Brak, hanpone yang kusayang dan dulu ku beli second itu terlempar ke lantai begitu saja dan terpental hingga ke teras rumah. Aku dan mbak Nadin terhenti sesaat. Dia cukup kaget melihat bendah pipi kesayangan ku itu kini sudah remuk bahkan bagian belakangnya sudah terpental entah kemana.
"Mbak! kamu berani-beraninya keterlaluan, egois banget sih kamu mbak jadi orang." ucapku dengan sangat kesal sembari mendorong kasar bahu mbak Nadin.
Meski aku bisa membeli hanpone baru lagi dengan uang sisa pesangon yang diberikan oleh Tuan martin, tapi tetap saja aku tak berniat menjual handpone ini meski aku sudah membeli hanpone baru karena terlalu banyak kenangan yang tersimpan didalam hanpone ini.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku Bukan Rahim Cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..