Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Perhatian mas Ronal


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 49


Ibu Sinta terlihat begitu kesal karena anak kesayangannya itu justru lebih membelaku dibandingkan dirinya.


"Ayo, Din. Antarkan saya ke salon biasa. Mau nyalon aja biar nggak pusing kepala," ucap Bu Sinta cepat lalu masuk ke mobilnya yang terparkir di tepi jalan.


Pak Udin terlihat sedikit menganggukkan kepala dan bicara pakai bahasa isyarat dengan Mas Ronal. Aku tak paham apa maksud bahasa isyarat diantara mereka berdua, tapi Mas Ronal sepertinya cukup mengerti. Dia menganggukkan kepala lalu mempersilakan Pak Udin untuk pergi.


"Mas, aku masukkan motornya dulu ya? Soalnya Mama juga mau berangkat kerja lagi," ucapku pelan mendekati motorku di halaman. Tadi pagi sempat dikeluarkan dan ingin dipinjam Mbak Nadin, tapi kularang. Dia yang emosi tak mengembalikan motorku ke dalam rumah.


Maklumlah, mama memang tak memiliki garasi. Jadi, motor dimasukkan ke ruang tamu agar tak mengundang pencurian. Hanya ada halaman depan rumah yang tak terlalu luas dengan kursi panjang, tempat biasa ibu-ibu ngobrol di sore hari.

__ADS_1


"Aku saja," ucap laki-laki itu dengan singkat, lalu memintaku mengalihkan motor itu padanya.


Kulihat punggung kokoh Mas Ronal yang masih mendorong motorku ke dalam rumah. Setelahnya aku kembali mengunci pintu setelah berpamitan pada Mama yang masih ngobrol di rumah Bi Lina.


Mas Hansel yang masih duduk di atas motornya hanya menatapku dengan lekat sedari tadi. Tak ada sepatah katapun yang dia ucapkan, hanya saja aku tahu detik ini dia berusaha menahan amarahnya.


Tatapannya garang, tak seperti biasanya yang selalu terlihat teduh dan tenang. Sebenarnya tak tega membuatnya seperti ini. Namun, lagi-lagi semua demi kebaikan bersama. Lagipula sejak awal dia tak pernah bilang jika dia memiliki rasa yang sama padaku. Jadi, semua ini tak sepenuhnya salahku juga bukan?


Aku tak tahu Mas Ronal datang ke sini naik apa. Namun yang pasti nggak ada mobil atau motor lain yang terparkir di sini. Laki-laki itu pun membukakan pintu mobil untukku lalu merapikan ujung gamisku yang masih tersangkut di daun pintu. Lagi-lagi tanpa kata, masih dengan ekspresi dinginnya.


Setelah dirasa aman, Mas Ronal menutup pintu taksi perlahan. Dia pun duduk di sebelah supir lalu mengenakan seat belt. Dia menoleh ke belakang, tanpa suara hanya melirik seat belt yang harusnya kupakai.


"Pakai, demi keamanan."

__ADS_1


Terlalu singkat, tapi aku mengiyakan. Gegas kupakai seat beltnya lalu duduk dengan tenang. Laki-laki itu pun kembali menatap ke depan setelah menganggukkan kepalanya saat aku selesai memasang tali pengaman.


"Kejora Butik ya pak. Sesuai aplikasi ya?." pak sopir bertanya setelah mas Ronal duduk disampingnya.


"Betul, pak." jawabnya singkat


sopir pun menganggukan kepalanya pelan, lalu melajukan mobil membelah jalanan kota kembang ini. Keheningan pun mulai terjadi, tak ada obrolan apapun yang mengisih mobil ini. semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Pak sopir juga sibuk dengan laju mobilnya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku bukan Rahim Cadanga gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2