
Menikahi Bos Mafia
"Benar. Ronal yang memilih Nadira. Dia juga sudah ngobrol banyak dengan bundanya. Bundanya setuju. Jadi, sekarang tinggal Nadira saja, setuju atau nggak jika menikah dengan Ronal?" tanya Tuan Martin sembari menatapku.
"Nadira jelas setuju dong, Tuan. Sudah saya bilang kalau Nadira ini anak yang sabar dan penurut. Dia nggak pernah membantah perintah orang tua, Tuan. Apalagi kalau menyangkut hutang keluarga. Dia bilang akan melunasi hutang almarhum bapaknya supaya tenang di alam sana," sahut mama tergesa.
Tuan Martin manggut-manggut, sedangkan kedua anak lelakinya menatapku bersamaan. Sepertinya ada banyak tanya yang mereka pikirkan.
"Kalau bukan tentang hutang atau kewajiban membayar hutang, apakah Nadira tetap setuju menikah dengan Ronal? Tentu Nadira tahu bagaimana sepak terjang Ronal selama ini. Saya juga nggak akan memaksa bila Nadira nggak setuju." Tuan Martin kembali memintaku berpikir.
"Setuju, Tuan. Nadira bilang kemarin bilang setuju kok. Iya kan, Dira?" mama menyenggol lenganku sembari tersenyum tipis. Kedua matanya berkedip seolah memberi ancaman agar aku mengiyakan.
__ADS_1
"Kalau Dira setuju, Ronal akan mengikat Dira supaya tak dilamar orang lain," ucap Tuan Martin dengan senyumnya lagi.
"Jadi, kedatangan malam ini sebagai tanda jadi dan pengikat ya, Tuan?" Lagi-lagi Tuan Martin mengiyakan pertanyaan mama.
Ada kelegaan yang terlukis di wajah mama. Mbak Nadin pun tersenyum senang mendengar penjelasan Tuan bahwa hari ini adalah proses lamaran.
"Saya pikir hari ini cuma ngobrol-ngobrol saja, Tuan. Makanya saya nggak mempersiapkan makanan ini itu, cuma camilan seadanya." mama merasa tak enak hati.
"Nggak apa-apa, Bu Dea. Ini sudah lebih dari cukup, lagipula cuma buat kita saja. Sengaja nggak bawa keluarga besar, takutnya ditolak Nadira. Biar nggak malu." Tuan Martin terkekeh, Mama pun tertawa kecil mendengar ucapan Tuan Martin.
"Mas Ronal benar, Dir. Jangan merasa terintimidasi. Katakan saja sesuai isi hatimu. Mau nggak menerima perjodohan ini," ucap Mas Hansel ikut menimpali. Aku tersenyum tipis lalu menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Saya terima perjodohan ini, Tuan. Saya siap menjadi istri Mas Ronal. Semoga pernikahan kami nanti diridhoi Allah, bahagia dunia dan akhirat," balasku. Kuhembuskan napas panjang setelah menjawab pertanyaan dari mereka. Ketegangan yang sedari tadi kurasa pun mulai hilang.
Ada ekspresi lega, ada pula ekspresi kaget dan tak percaya apa yang didengarnya. Tak ada balasan apapun yang terucap dari Mas Ronl. Dia hanya diam tak berkata apapun, tapi sempat kulihat dia mengangguk pelan.
"Ka-- kamu menerima perjodohan ini, Dir?" Lagi-lagi Mas Hansel yang bertanya, seolah tak yakin dengan jawaban yang kuberikan.
"Kamu sudah istikharah?" tanyanya lagi. Mbak Nadin kembali gelisah. Dia Menyenggol lenganku kasar.
"Belum sempat istikharah, Mas. Lagipula masih datang bulan. Aku percaya pilihan mama yang terbaik untukku, lagipula Tuan Martin bilang kalau Mas Ronal sendiri yang memilihku. Jadi, aku lebih tenang karena semua sudah ridho," balasku meyakinkan.
Laki-laki di depanku itu pun manggut-manggut mengerti, kecuali Mas Hansel. Dia masih geleng-geleng tak percaya dengan apa yang kukatakan.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π