
menikahi bos mafia
"Terima kasih atas pujianya, Tante. Tante sedang sakit?" tanyaku kemudian setelah mengikuti perintahnya untuk duduk disofa. Bunda mas Ronal pun memutar roda kursinya agar dapat lebih dekat dengan tempat duduk ku.
"Sudah lama saya sakit, sudah sekitar 3 tahun yang lalu, tapi tak apa-apa. Insya allah akan segera sembuh jika melihat anak saya Ronal bahagia." ucapnya dengan senyum tipis.
Ku lihat ada keoptimisan diwajahnya saat mengucapkan kalimat itu. Optimis jika seiring berjalanya waktu akan sembuh seperti sedia kala.
"Nadira panggil saya Bunda saja ya nak? Seminggu lagi kan kamu akan menjadi menantu bunda. Tapi ada sesuatu yang akan bunda tanyakan ke pada mu. Boleh?" Tanya wanita lembut disebelah ku itu lagi.
"Boleh Tann..eh bunda. Mau tanya soal apa ya bun?" tubuh terasa kembali bergetar saat menunggu pertanyaan dari Bundanya mas Ronal. Wanita paru baya itu menghela nafas panjang lalu menggusap lengan ku denga lembut.
"Sebelunya, Bunda berterima kasih karena Nadira sudah menjadi penyemangat buat anak bunda Ronal."
__ADS_1
Kalimat pendek yang disampaikan itu sontak membuat ku bertanya-tanya, apa maksudnya. Penyemangat anaknya? Mas Ronal kah? Dalam hal apa aku bisa jadi penyemangatnya, padalah selama ini sekalipun aku tak pernah bertukar pesan atau telponan denganya. Aku juga tak pernah bertemu atau ngobrol berdua saja sebelum perjanjian dan perjodohan itu di rencanakan.
"Jangan bingung gitu" sambung bunda lagi yang membuat ku tersenyum tipis. Aku tak berani banyak tanya, takut dikira calon menantu cerewet dan banyak pertanyaan, ah entahlah. Aku takut salah berucap yang akan berujung menjadi menyinggung perasaan.
"Kamu serius mau menikah dengan anak saya Ronal?" tanya bunda lagi, aku pun menganggukan kepala yakin.
"Sudah tahu siap Ronal dari orang-orang kan?" kembali ku dengar pertanyaan kedua.
"Apa kamu tidak masalah menikah dengan seorang mantan narapidana, pemabuk, penjudi, dan banyak lainya?" aku kembali menghela nafas panjang, sepertinya berita burung tentang kelakuan mas Ronal selama ini benar adanya. Buktinya saat ini Bundanya sendiri yang berkata seperti itu, persis yang kudengar selama ini dari mulut ke mulut.
"Iya bunda, Insya allah saya sudah siap dengan segala sesuatunya." balas ku lagi berusaha untuk meyakinkanya. Dan Bunda kembali menganggukan kepalanya.
"Syukurlah kalau begitu. Berarti kabar yang selama ini bunda dengar itu salah. Kamu tak merasa terpaksa dengan pernikahan ini kan?"
__ADS_1
"Apa maksud dari pertanyaan bunda? Aku benar-benar tidak mengerti dengan pertanyaanya kali ini, sepertinya kali ini aku harus bertanya padanya.
"Jika tak ada perjanjian pelunasan hutang itu, apakah kamu bersedia menikah dengan anak Bunda?" tiba -tiba bunda menggenggam tangan ku lagi.
Apa yang harus ku jawab kali ini? Jujur saja, jika tak ada perjanjian itu mungkin aku juga tak akan mengenal mas Ronal, apa lagi sampai sedekat ini.
Awalnya aku memang takut, tapi beberapa hari belakangan setelah mengenalnya lebih dekat, aku merasa tenang dan nyaman. Meski ketakutan itu tak lantas semuanya sirna. Hanya saja jauh lebih berkurang dari sebelumnya.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa aku bukan rahim cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1