
Menikahi Bos Mafia
Part 21
Kalau begitu, apa Tuan sudah membuat bukti hitam di atas putihnya soal hutang - hutang keluarga saya?" Ibu mulai menanyakan perihal hutang itu.
"Oh, tentu sudah Bu Dea. Sesuai permintaan ibu, sebentar saya ambilkan berkasnya," ucap Tuan sembari membuka tas yang dia bawa.
"Dibaca dulu, Bu. Kalau sudah oke, bisa ditandatangani sekalian. Saya juga sudah tanda tangan di sebelahnya." Tuan Martin menyerahkan selembar kertas itu lalu Mama mulai membacanya. Kulihat mama tersenyum tipis lalu menganggukkan kepala.
"Saya tanda tangani ya, Tuan? Berarti hutang saya dan suami sudah lunasbya," ucap mama lagi sembari membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. Tuan Martin pun mengiyakan lalu kembali memasukkan selembar kertas itu ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Maafkan saya, Dira. Bukan maksud saya membeli kamu dari ibumu. Hanya saja ...." Tuan Martin menghentikan kalimatnya lalu menoleh ke samping.
Mas Ronal masih diam saja tak menyahut. Laki-laki itu memang jarang sekali bicara. Bahkan sejak lima tahunan bekerja di toko Tuan martin, bisa dihitung jari saja aku mendengar laki-laki itu bicara. Sebelumnya dia memang masih di penjara dan baru keluar dua tahun belakangan. Sejak itulah dia dikenal sebagai preman.
"Hanya saja apa ya, Tuan?" mama pun ikut penasaran.
"Begitulah, Bu Dea. Bukan maksud saya membeli Nadira, hanya saja saya memang memberi pilihan pada Ronal. Siapa perempuan yang ingin dinikahinya, biar segera saya lamarkan. Ronal ini 'kan sudah kepala tiga, seharusnya sudah punya keluarga kecil yang bahagia. Nggak mungkin lontang-lantung tiap hari nggak jelas tujuan hidupnya. Makanya saya minta dia segera menikah dan perempuan pilihannya itu ternyata sehati dengan pilihan saya."
Kedua mataku membulat. Apa maksud Tuan Martin?
Tak hanya aku dan mama saja yang kaget, tapi dari teras terdengar suara laki-laki yang begitu kukenal tak kalah terkejutnya.
__ADS_1
"Apa, Pa? Mas Ronal yang sengaja pilih Nadira menjadi istrinya?" tanya Mas Hansel yang sudah berdiri di samping pintu. Mbak Nadin hanya menatapnya dengan pandangan tak suka.
"Hansel? Ngapain kamu ikut ke sini? Bukannya tadi bilang mau makan di luar?" Tuan Martin pun kaget melihat anak bungsunya tiba-tiba muncul dari teras rumah.
"Iya, Pa. Pergi makan sama Nadin," ucap Mas Hansel lirih sembari menundukkan kepala. Kulihat mimik wajah Tuan Martin sedikit kecewa mendengar jawaban anak lelakinya.
"Papa belum jawab pertanyaan Hansel tadi. Jadi benar jika Mas Ronal yang memilih Nadira untuk menjadi istrinya?" ulang Mas Hansel sembari menatapku sekilas, sebelum aku mengalihkan pandangan ke arah teras.
"Iya. Memang kakakmu sendiri yang memilih Nadira. Ada beberapa calon yang papa ajukan, tapi dia bilang sudah mantap memilih Nadira. Syukurlah. Papa juga berharap Nadira mau menjadi menantu papa. Kamu sendiri bilang ke papa kalau cuma bersahabat dengan Nadira, makanya nggak masalah kalau kakakmu pilih dia kan?" Aku kembali menghela napas. Ada apa ini sebenarnya?
"Oh jadi Mas Ronal sendiri yang memilih Nadira, Tuan?" Mbak Nadin ikut menimpali. Dia duduk di sampingku dengan tatapan sinis.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π