Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Calon Menantu


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 31


Dada kembali berdebar. Fitting baju? Mendengar kata kebaya aku kembali membayangkan bagaimana pernikahanku dengan Mas Ronal nanti. Duh, benar-benar menakutkan.


"Kamu nggak ada niat membatalkan pernikahan ini kan, Nadira?" Sedikit terbatuk saat mendengar pertanyaan Tuan Martin, namun aku masih bisa menguasai diri.


"Ngg-- nggak kok, Tuan," balasku sedikit gugup.


"Syukurlah. Saya berharap kamu bisa menjadi jembatan Ronal untuk mengenal TuhanNya. Mungkin bersamamu nanti dia bisa lebih bebas mengungkapkan perasaannya selama ini. Apa yang membuatnya seperti ini dan mungkin saat bersamamu dia bisa berubah lebih baik. Tak lagi berbuat onar yang membuat keluarganya pusing kepala. Apalagi Mamanya kini sakit-sakitan, kasihan dia selalu dipusingkan dengan ulah Ronal. Saya dan Mamanya sudah berusaha menyadarkan anak itu, tapi dia tetap saja tak berubah. Rasa-rasanya kami sudah menyerah."

__ADS_1


Tuan Martin menghela napas panjang. Terlihat jelas gurat lelah di wajahnya. Mungkinkah yang orang-orang katakan tentang Mas Ronal adalah benar? Buktinya, Tuan Martin sendiri seolah angkat tangan dengan perilaku anaknya.


Jika mama dan Papanya saja angkat tangan, haruskah beban itu dialihkan padaku yang baru saja mengenalnya? Jika aku tak mampu membuatnya berubah ke jalan yang lebih baik bagaimana? Apakah Tuan Martin dan istrinya akan kecewa?


"Tapi satu hal yang saya tekankan, Nadira. Kamu jangan menganggap semua ini beban. Jalani saja semuanya dengan baik. Saya tahu kelembutan hatimu, makanya saat Ronal memilih kamu untuk menjadi pendampingnya saya langsung setuju."


Lagi-lagi Tuan Martint meyakinkanku bahwa memang Mas Ronal yang memilihku. Jadi, pernikahan ini bukan semata-mata pilihan kedua orang tua, melainkan aku yang dipilih untuk mendampinginya.


"Ini pesangon buat kamu, Nadira. Kamu bilang pengin beli motor matic baru, iya kan?" Pertanyaan Tuan martin membuyarkan lamunan. Aku menelan saliva begitu saja.


"Jangan Tuan, panggil saja papa. Seperti Ronal memanggil saya seperti itu."

__ADS_1


"Belum terbiasa, Tuan. Nanti saja kalau sudah sah menikah dengan Mas Ronal, akan saya biasakan."


"Baiklah kalau begitu, terserah kamu. Ini pesangon kamu. Terima kasih sudah membantu saya selama Enam tahunan ini, Nadira. Saya akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu dan Ronal. Ini cukup untuk membeli motor yang kamu inginkan," ucap Tuan sembari melirik Pak Udin. Aku yakin Pak Udinlah yang membocorkan mimpiku itu pada Tuan Martin.


Aku memang sempat ngobrol dengan Pak Udin beberapa minggu lalu. Aku ingin punya motor sendiri, setengah pakai pun tak apa asal bukan kredit. Kupikir semua itu hanya mimpi yang tak mungkin terwujud, namun Allah memang begitu menyayangiku.


Kini, kulihat setumpuk uang itu di dalam amplop coklat. Uang yang konon cukup untuk membeli motor baru secara cash. Tapi, entah mengapa ada rasa tak enak dalam hati. Takut karyawan lain iri melihatku mendapatkan pesangon yang jauh lebih besar dibandingkan mereka.


"Ini terlalu berlebihan, Tuan. Biasanya karyawan lain dapat pesangon dua bulan gaji. Kenapa saya dapat pesangon sebanyak ini?" tanyaku gemetar saat mengambil amplop itu. Rasanya cukup berat, itu artinya uang di dalamnya sangat banyak.


"Kamu bukan karyawan, Nadira. Kamu calon menantu saya, makanya berbeda." Tuan Martin kembali tersenyum.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2