Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Menampar


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 46


"Siapa yang menghajar anak saya? Kenapa semua diam saja heh?!" sentak Ibu Sinta lagi. Semua tetangga masih saja diam dan menundukkan kepala.


"Aku yang menghajarnya, Ma. Hansel ku--


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan mendarat ke pipi. Tak ada kilat marah yang terlukis di wajah lelaki itu. Dia masih menunduk, tak membalas dan berkata apapun. Tak juga melanjutkan kalimatnya yang terpotong.


"Sudah kubilang berulang kali, jangan panggil aku dengan sebutan mama. Aku nggak sudi punya anak tiri seperti kamu ini. Aku sudah yakin kalau kamu biang keroknya dari semua ini. Nggak ada kapok-kapoknya kamu ya, Nal. Pantasnya kamu memang mendekam di penjara seumur hidup supaya nggak nyusahin keluarga dan nakutin banyak orang lagi!" Ibu Sinta kembali menampar pipi anak tirinya itu.

__ADS_1


Para tetangga saling sikut lalu beberapa di antara mereka membubarkan diri. Namun, belum juga pulang melainkan masih bergerombol di rumah Bi Lusi. Aku yakin mereka masih terus mengamati keriuhan di rumah ini.


"Ma, ini bukan salah Mas Ronal. Hansel yang salah," ucap Mas Hansel dengan lirih sembari menarik lengan mamanya agar kembali duduk di sofa.


"Diam kamu! Sudah berapa kali preman ini menghajarmu seperti ini, sel? Jangan kamu tutup-tutupi terus. Mama tahu kalau dia memang iri sama kamu. Dia iri karena kamu bisa lulus kuliah dan sukses berbisnis di kota besar, sementara dia hanya sibuk nongkrong ngak jelas, judi, mabok dan keluaran masuk penjara. Memalukan keluarga dan merepotkan orang tua!" Aku tercengan mendengar cerita Ibu Sinta.


Mungkinkah Mas Ronal semengerikan itu? Buru-buru kualihkan pandangan saat laki-laki itu mendongak dan menatapku beberapa saat. Hatiku deg-degan dibuatnya. Rasa takut yang sempat hilang, kini kembali datang menghantuiku.


"Mama, jangan selalu menyalahkan Mas Ronal seperti itu." Lirih kudengar suara Mas Hansel. Dia tetap membela kakaknya sekalipun sang mama terus menyudutkannya.


"Dia memang dendam sama kamu, Sel. Jadi, selagi ada kesempatan dia akan menghajarmu habis-habisan. Papa harus tahu soal ini supaya dia nggak semakin semena-mena terhadapmu. Mungkin sebaiknya papa mengirim dia ke kampung neneknya sana biar nggak selalu bikin sakit mata tiap kali lihat ulahnya!"

__ADS_1


Aku menelan ludah seketika. Ketakutan itu benar-benar menyergapku. Aku takut jika Mas Hansel jujur tentang perasaan dan keinginannya untuk membatalkan pernikahan itu. Aku takut Ibu Sinta kembali menghina dan meremehkanku di depan orang banyak. Aku takut dia mencibir dan menertawakanku yang dia pikir terlalu berambisi untuk menjadi menantunya.


"Lagian ngapain kamu di sini? Mau ngapain kamu bertamu di rumah ini?" Ibu Sinta menatap sinis rumah sederhana Mama. Sakit sekali hati ini melihat ekspresi menghinanya itu.


"Mama tanya sama kamu, sel! Kalau dia sih terserah mau ngapain juga mama nggak peduli," ucap Ibu Sinta lagi sembari menunjuk wajah Mas Ronal.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku bukan Rahim Cadanga gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2