Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Kebayak


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part


Karena itu pula aku mengurungkan niat untuk membeli gamis cantik itu. Tak kusangka jika detik ini Tante Tania memiliki gamis serupa, bahkan yang membuatku terheran, Mas Ronal memilihkannya untukku.


"Kamu suka gamis ini kan?" tanyanya saat menunjuk gamis yang terpajang di manekin itu. Aku berusaha menyembunyikan binar mataku, kagum melihat gamis impian kini ada di depan mata. Mirip banget dengan gamis yang dipakai oleh seorang artis berhijab yang biasa sering wara-wiri di layar kaca.


"Su-- suka, Mas," balasku singkat dengan gugup saking bahagianya aku. Mas Ronal pun kembali menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kebaya buat akad biar di sini saja ya, Dira. Menjelang akad nanti, Tante akan bawa sekalian tante ajak teman Tante untuk merias wajah cantik kamu itu. Tante yakin kamu akan terlihat lebih cantik saat acara spesialmu nanti," ucap Tante Tania lagi.


Aku pun mengiyakan. Lagipula mau taruh di mana kebaya sebagus itu? Rasanya tak banding jika disimpan di dalam lemariku yang sebagian sudah dimakan rayap itu.


"Untuk gamis ungunya bisa dibawa pulang buat acara pengajian di rumahmu nanti. Gimana?" sambung Tante Tania.


Sepertinya wanita cantik di sebelahku ini sudah tahu rangkaian acara hari pernikahanku dengan Mas Ronal nanti, termasuk rencanaku untuk mengadakan pengajian sebelum hari pernikahan akan digelar.


"Oke, Ronal. Sebentar Tante pilihkan sepatunya dulu, Dira. Sekalian ambil skin care yang dibelikan Ronal buat kamu. Dia yang beli lalu dititipkan ke keranjang Tante saat di mall kemarin, Dira. Bukan Tante yang beli. Ngarang aja dia." Tante Tania melirik keponakannya kembali lalu menepuk pundakku pelan. Setelahnya wanita cantik itu pun kembali turun ke lantai bawah.

__ADS_1


Benarkah yang kudengar barusan bahwa Mas Ronal menyiapkan skin care buatku juga? Kira-kira merk apa yang dibelikannya? Soalnya kulitku cukup sensiti dengan skin care. Beberapa kali mencoba membeli skin care, namun aku cuma cocok satu merk saja.


Dulu aku sering membelinya sepaket sekalian tiap gajian karena harganya cukup ramah di kantong dan cocok di kulitku. papa pernah bilang kulitku terlihat lebih cerah jika rutin memakai skin care itu. Hanya saja setelah papa pergi tiga tahun lalu, aku seolah tak memiliki hak untuk memanjakan diri ku sendiri.


Uang lima ratus ribu yang menjadi jatahku sebulan biasanya juga habis untuk kebutuhan rumah dan sehari-hari. Entah bayar listrik, bayar air, arisan mama atau belaja kebutuhan sehari-hari. Kehidupanku sehari-hari memang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kehidupan Mbak Nadin.


Dia bisa dengan bebas menggunakan uang gajinya bahkan aku dan mama tak tahu pasti berapa gaji per bulanannya. Sementara aku masih terikat dengan kebutuhan rumah tangga.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2