
Menikahi bos Mafia
Part 71
Aku mendongakan kepala ku, sesaat aku melihatnya sedang meliriku dengan dari sudut ekor matanya, lalu dia beranjak dari sofa dan menyisir rambutnya yang setengah gondrong itu dengan jari-jarinya.
"Bi buatkan minuman buat Nadira dan Bunda." suaranya terdengar diarea dapur, bunda memergoki kedua mata ku yang mengekor kepergian anak laki-laki semata wayangnya. Aku pun mendadak jadi salah tingkah, lalu aku pun kembali duduk ke sofa.
lima menit kemudian adzan ashar pun berkumandang. Ku lihat pak Udin beranjak dari teras lalu melangkah perlahan keluar rumah. Yang ku yakini lelaki paruh baya itu akan pergi mencari masjid untuk melaksanakan shalat berjabaah.
__ADS_1
Tak berselang lama, mas Ronal pun muncul dengan pakaian rapi, lengkap dengan koko,sarung, dan peci yang sudah dipakai diatas kepalanya. Terlihat dia sedikit gugup saat ingin melewati ku dan bundanya yang hanya tersenyum tipis saat melihat kepergian anaknya.
Tak berapa jauh dari pintu, laki-laki itu kembali menoleh ke arah belakang yang sontak saja membuat ku tersentak, karena sejak tadi kedua mata ku terus saja memperhatikanya. Aku tak memintanya, hanya saja kedua bola mata ku ini tak ingin melepas pemandangan indah itu dari pandangan mata. sangat wajar bukan? Sebab baru kali pertama ini aku melihat laki-laki itu memakai pakaian yang berbeda. Aku sudah bosan melihatnya memakai pakaian hoodie.
"Nanti aku antar pulang setelah aku pulang dari masjid." Ucapnya singkat lalu kembali melangkah pergi. Aku pun tersenyum sendiri melihat sikapnya yang begitu unik. Dia cuek, tapi sangat perhatian pada ku. Sikap laki-laki tulen yang sering kali membuat banyak para perempuan dilanda rindu dan kagum.
"Dia berubah sejak mengenal kamu, Nadira. Dia selalu berusaha memperbaiki dirinya lagi dan lagi. Masih banyak sekali keburukan-keburukan yang ada di dalam dirinya yang belum dia sadari, tapi bunda sangat yakin jika Ronal bersama mu dia akan menjadi jauh lebih baik lagi."
Lagi-lagi beberapa pertanyaan itu kembali melewati fikiran ku seperti gerombolan lebah-lebah yang mengeromboli fikiran di kepalaku. Aku kembali tersenyum saat menginggat kembali beberapa hal yang unik yang ada di dalam dirinya.
__ADS_1
''Tersenyum lah Nadira, kamu akan terlihat sangat lebih cantik jika selalu tersenyum seperti ini." ucap bunda tiba-tiba. Aku cukup terkejut dibuatnya.
Ku tutupi wajah ku dengan kedua tangan saking malunya diri ku. Aku yankin saat ini wajahku semakin merah seperti tomat yang sudah matang. Ya allah betapa malunya diriku, saat ketahuan senyum-senyum sendiri dan salah tingkah dibuatnya.
Please Nadira. Biarkan mas Ronal saja yang menjadi setengah gila karena mu. Kamu jangan terlalu besar kepala dengan semuanya.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku bukan Rahim Cadangan uda bab 200+ gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..