
Menikahi bos Mafia
BAB 9
"Maaf kalau kata-kata kami menyakiti hati ibu. Kami tak bermaksud begitu, hanya saja Bu Dea tahu sendiri Ronal seperti apa anaknya. Saya cuma kasihan kalau anak penurut dan berbakti seperti Dira harus menjadi istri brandalan seperti Ronal. Nggak cocoklah, Bu," sambung Bu Tina lagi.
"Lantas yang cocok sama Dira siapa, Bu? Sama Nak Hansel, adiknya Ronal itu? Makin nggak cocoklah buk. Dira itu cuma lulusan SD, Bu. Sementara Hansel itu lulusan sarjana bahkan sekarang punya usaha yang sukses di Batam. Mana mungkin dia mau menikah dengan Dira, bukan level dia. Lagipula Nak Hansel itu sekarang dekatnya sama Nadin, bukan sama Dira. Hubungan Dira sama anak bungsu Tuan Martin itu juga sekadar teman aja kok, bukan pacaran." Ibu terlihat bangga sekali saat menceritakan kedekatan Mbak Nadin dengan Mas Hansel. Ah, sebangga itu dia.
"Memangnya Bu Sinta setuju jika Hansel menjalin hubungan sama Nadin? kalo aku yakin dia nggak setuju sih, Bu."
__ADS_1
mama mulai tersulut emosi. Wajahnya merah padam menahan amarah. Tak terima mendengar komentar dari Bu Ida seperti itu.
"Memangnya Nadin kenapa, Bu? Dia anak yang baik dan nggak neko-neko kok. Dia juga sarjana seperti Hansel. Dia juga sudah kerja kantoran, wajar jika Hansel lebih memilih dia dibandingkan dengan Dira kan? Kalau Bu Sinta nggak setuju biar saja. Misalkan Hansel benar-benar menyukai Nadin, pasti dia akan berusaha meyakinkan mamanya."
Mama tersenyum tipis. Sepertinya begitu besar harapan mama akan cinta mereka. mama pun begitu yakin jika Mas Hansel dan Mbak Nadin memang pasangan serasi. Semua ucapan mama semakin membuatku sadar diri. Siapa diri ini sampai memiliki keberanian untuk mencintai Mas Hansel. Rasanya seperti pungguk merindukan bulan saja.
"Maksud ibu apa? Mau menjelek-jelekkan Nadin lagi?" tanya mama sedikit emosi.
"Nggak, Bu. Cuma selama ini Nadinkan memang cukup manja, nggak mau bantu-bantu urus rumah, beda sekali Dengan Dira yang lebih mandiri dan pekerja keras."
__ADS_1
"Sudahlah, Bu. Ibu-ibu di sini sepertinya julid banget lihat kedekatan Nadin sama Hansel. Selalu jelek-jelekin Nadin seolah dia bukan calon istri yang baik buat Hansel. Kalau soal status sosial yang berbeda, okelah saya mengerti. Kami dengan keluarga Hansel memang seperti bumi dengan langit, tapi nggak seharusnya ibu-ibu jelek-jelekin Nadin terus. Wajar kalau Dira lebih mandiri, dia sudah cukup lama kerja sementara Nadin baru setahun. Dia masih berusaha lebih baik kok, Bu. Kalau nggak mau urus rumah, bagi orang kaya seperti Tuan Martin itu hanya perkara kecil. Ada banyak asisten rumah tangga juga yang bisa membantu mereka. Sudah ya, Bu. Jangan mencampuri urusan percintaan anak saya, Nadin." mama menekankan kalimat terakhirnya membuat beberapa ibu-ibu saling pandang lalu.
"Ngapain kamu berhenti disana dan nguping pembicaraan, Dir? Bukannya langsung berangkat. Malu dengan Tuan Martin kalau kamu keseringan telat gitu!" sentak mama membuatku kaget. Dadaku sampai berdebar saking kagetnya.
"kebetuln Dira, kamu sudah dengar obrolan kami kan? fikirkanlah dulu sebelum memutuskan sesuatu, apalagi soal pernikahan yang menyangkut masa depanmu. Bagi ibu, kamu sudah seperti anak ibu sendiri. Jadi, sayang sekali kalau harus menikah dengan preman itu. Kamu bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dibandingkan dia."
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1