Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Perempuan Matre


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 75


Sangat berbanding terbalik jika dia memiliki sesuatu barang apa lagi baru dan harganya mahal, jangankan meminjamkan hanya semenit, sekedar untuk melihatnya pun matanya mulai melotot seperti mau melompat dari tempatnya.


Mbak Nadin berjalan cepat keluar rumah, dia bilang mau coba selfi sebentar di halaman supaya bisa terlihat lebih jelas karena diluar pastinya terkena cahaya.


"Bawa sini mbak, itu dari mas Ronal. Kalau sampai rusak aku nggak enak." kataku lagi sembari mengikutinya dari belakang.


"Pinjam dulu kenapa sih Dira, pelit amat sih kamu jadi orang. Baru juga handpone kayak gini doang, aku juga bisa minta beliin sama mas Hansel kalau aku mau, sayangnya aku tak sematre kamu Dira."


"Maksud mu apa mbak, bilang aku seperti itu? Dari segi apa kamu bisa menyebutku matre kayak gitu?" tanya ku dengan kesal

__ADS_1


Mbak Nadin memang terlalu sering asal bicara apalagi jika aku yang jadi sasaranya, tak peduli itu benar atau pun salah, tak peduli menyakiti atau tidak, dia pasti langsung nyerocos seperti petasan yang sangat berisik.


"Motor itu buktinya dan gamis mahal yang ada di lemarimu itu, skin care dan ini juga buktinya." mbak Nadin kembali menunjuk bendah pipih di tanganya itu.


"Ternyata kamu ini diam-diam menghanyitkan juga ya Dira. Belum juga jadi istrinya kamu sudah meminta-minta ini dan itu padanya, apalagi kalau kamu sudah jadi istrinya." sambung mbak Nadin dengan cepat sebelum aku sempat membalas ucapanya.


"Maaf ya mbak, aku nggak mater, matre itu jika aku yang memintanya untuk membelikan semua barang-barang itu, ini semua dia yang ingin beliin kok, bukan aku yang sengajaerayu, mengiba dan memintanya. gimana sih kamu mbak. Masa iya seorang lulusan sarjana nggak paham arti matre yang benar." sindirku kemudian, biar saja mbak Nadin marah-mara, aku tak peduli.


"Aku nggak pamer kok, bukanya kamu yang masuk kekamar ku dan mengacak-acak semua barangku tadi, ya mbak."


Seketika saja wajah mbak Nadin mulai merah padam,bukanya mengakui kesalahanya dia justru semakin kesal dan dendam pada ku. Begitulah sifatnya yang sangat sulit untuk di ubah dan hanya mau menang sendiri.


"Kalau kamu mata duitan ya mata duitan aja. Nggak usah sok-sokan lugu segala, ku pikir kamu yang akan terjebak dalam perjodohan ini, ternyata malah terbalik preman begok itu yang terjebak oleh sikap kepura-puran lugu mu itu. Kasihan dia hanya dijadikan sebagai sapi pera, besok-besok kamu mau minta apa lagi sama dia, Dira? Tanya mbak Nadin dengan sinisnya lalu selfi menggunakan handpone baru ku itu. Dasar tak tahu malu.

__ADS_1


"Nadira bukan perempuan matre seperti apa yang kamu katakan, bahkan dia tak pernah meminta apa-apa dari ku. Dan tak ada yang terjebak dalam perjodohan ini karena kami sama-sama menyetujui. Berikan handpone itu padanya dan jangan pernah untuk mengganggunya. Kamu ingat , jika kamu masih terus mengganggunya itu artinya siap berhadapan dengan ku."


Aku benar-benar terkejut saat melihat laki-laki yang katanya sangat garang itu tiba-tiba sudah berdiri dibelakang ku. Entah sudah sejak kapan dia berdiri di sana, aku tak terlalu memperhatikanya. sama seperti ku, mbak Nadin pun sama kagetnya. Dan buru-buru mengembalikan benda pipi itu dengan tangan yang bergeta lalu segera lari ke dalam rumah.


"Tak perlu dimasukan ke dalam hati kata-kata yang diucapkan oleh kakakmu itu tadi. tenang saja, mulai sekarang aku akan selalu menjagamu. Masuklah, aku pergi dulu."


Laki-laki itu menatap ku beberapa saat lalu melangkah dengan cepat keluar halaman. Mata ku terus mengikuti langkahnya sampai ku lihat sebuah mobil yang mengantar ku pulang tadi masih terparkir disana. Tepat di sebrang jalan rumah ku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku Bukan Rahim Cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2