
Menikahi Bos Mafia
Part 20
Harapanku cuma satu. Semoga Mas Ronal tak seburuk yang mereka kira dan aku bisa bahagia hidup bersamanya. Itu saja pinta ku.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
Hati berdebar tak karuan saat melangkah perlahan keluar dari kamar. Mama sudah duduk sembari ngobrol dengan Tuan Martin, sementara Mas Ronal duduk di samping papanya dengan wajah tenang dan tatapan tajam seperti biasanya. Sesekali kulirik dia seperti mencari sesuatu, apa dia sedang mencariku? Aku yang masih sembunyi di balik tembok sebelum menuju ruang tamu?
"Dira, tolong ambilkan camilan di meja makan ya,,,!" perintah Mama membuatku tersadar, tak bagus juga aku mengintip mereka di sini. Harusnya aku hadapi semuanya dengan lapang dada. Mengintip atau keluar terang-terangan bahkan pingsan sekalipun tak akan mengubah keadaan takdirku. Aku harus menerima takdirku, bahwa aku harus menyetujui perjodohan ini.
Aku kembali ke dapur, ada beberapa camilan yang sudah disiapkan mama di sana. bergegas kubawa dengan nampan kecil, perlahan melangkahkan kaki ke ruang tamu. Kedua mataku tak sengaja papasan dengan laki-laki itu. Dia menatapku beberapa saat lalu mengalihkan pandangan kembali.
"Camilannya Tuan, Mas Ronal. Silakan," ucapku lirih sedikit gemetar. Laki-laki yang kini duduk di depanku itu hanya melirik sekilas lalu menganggukkan kepalanya perlahan. Sementara Tuan Martin mencicipi jajanan pasar buatan Mama lalu memuji rasanya.
__ADS_1
Aku tahu mama sengaja memujiku seperti itu agar Tuan Martin dan anaknya mau menerimaku. Sekalipun pujian mama benar, tapi rasanya risih aku mendengarnya. Seolah mama menawar-nawarkanku untuk segera dilamar.
"Iya, Bu Dea. Saya juga sudah paham betul bagaimana Dira. Persis seperti yang ibu katakan. Makanya saya senang sekali jika Dira mau menikah dengan anak saya Ronal. Dira juga rajin beribadah. Dia tahu soal larangan dan perintah dalam agamanya. Saya yakin Dira bisa mengajak Roanl ke jalan yang benar. Makanya di antara banyak gadis di desa ini dan desa sekitar sini, saya lebih cocok dengan Dira. Lima tahun menjadi karyawan saya, tak pernah sekalipun Dira berdusta apalagi mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dia juga sangat menghormati orang tua. Saya salut ibu Dea bisa mendidik Dira dengan begitu baik," balas Tuan Martin yang tak kalah panjangnya dengan jawaban mama tadi. Intinya sama-sama memuji.
Aku masih tak mengerti mengapa Tuan begitu menginginkanku menjadi menantunya. Begitu yakin jika aku bisa mengubah Mas Ronal menjadi laki-laki yang lebih baik dibandingkan saat ini. Lantas jika nanti aku gagal bagaimana? Bukankah berubah atau tidaknya seseorang itu bukan tergantung pada yang mengajak, tapi niat yang tertanam di dalam hatinya sendiri?
"Baguslah kalau memang Tuan sudah tahu betul soal Dira, jadi saya nggak perlu menjelaskan lagi dan lagi tentang anak saya ini.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π