
Menikahi Bos Mafia
Part 40
Ketegangan yang tadi sempat terasa pun mulai memudar dan berangsur sirna. Aku sesekali tersenyum tiap kali mengingat perhatian kecil dari Mas Ronal. Saat dia membuka dan menutup pintu mobil untukku, mengantarku ke dealer, menunggu dan mengawasiku saat berada di bank, sampai dia meminta Pak udin untuk mengantarku pulang kerumah dengan selamat.
Dia juga berpesan agar Pak Udin melajukan mobil dengan kecepatan normal saja sebab tak ingin aku kenapa-kenapa saat di jalan. Melihat sikapnya yang seperti itu kepadaku, rasanya membuatku terharu dan bangga terhadap dirinya.
Meski Mas Hansel pun memperlakukanku sama seperti mas Ronal, tapi dia tak pernah menganggapku istimewa. Hanya teman biasa saja. Teman. Iya, teman. Dengan begitu, bisa jadi dia terbiasa juga melakukan hal yang sama dengan teman-teman yang lainnya bukan?
__ADS_1
Ditambah obrolannya dengan sang mama waktu itu cukup membuatku terhina. Aku nggak mungkin akan bersamanya sampai kapan pun, apalagi kini aku sudah menandatangani perjanjian itu.
Walau bagaimanapun aku akan tetap menikah dengan Mas Ronal. Meski sampai detik ini aku belum tahu pasti siapa dan bagaiman karakternya, tapi aku tak akan pernah melanggar janjiku sendiri. Semoga saja ucapan Tuan Martin benar jika Mas Ronal akan luluh dengan cinta dan kesabaran yang miliki.
Aku kembali menghela napas lalu memejamkan mata beberapa saat. Kulihat mukena dengan segera saat kudengar suara dari teras. Sepertinya ada tamu sebab mama memanggilku. Tak sabar melihatku keluar, mama pun membuka pintu dengan tergesa-gesa.
"Ngapain sih kamu di kamar terus? Buatkan minum, ada Nak Hansel tu datang," ucap Mama kemudian. Mas Hasel? Mau ngapain dia ke sini?
Kulihat sekilas Mas Hansel telah duduk di kursi tamu bersama Mbak Nadin. Entah mengapa tiap kali melihat mereka bersama, ada perasaan tak rela. Namun aku harus bisa menepis perasaanku ini. Aku tak boleh terlihat cemburu, setidaknya aku harus bisa menghargai perasaan calon suamiku.
__ADS_1
"Hansel ke sini tentu cari mau cari Nadin, mungkin mereka janjian mau ke mana gitu. Kurangi sikap percaya dirimu itu, Dira. Masa iya dia datang ke sini cari kamu. Kamu harus bisa melupakan dan menerima takdirmu sendiri jika Ronallah calon suamimu. Jangan iri jika nanti Hansel bersama Nadin. Tiap orang memang beda nasib dan masa depan, jadi harus diterima dengan ikhlas dan lapang dada."
Air mataku menggenang. Pesan mama yang begitu menusuk membuat hatiku kembali berdenyut nyeri. Teganya mama menyakitiku perlahan seperti ini. Gegas kuhapus bulir bening yang nyaris menetes ke pipi. Aku tak boleh terlihat terluka di depan mereka semua. Aku harus lebih tenang sekarang.
Ya Allah, mungkinkah firasatku selama ini benar jika aku bukan anak kandung Mama? Jika memang benar aku hanya anak angkatnya, darimana aku bisa mendapatkan bukti itu? Bukti bahwa aku memang terlahir dari rahim orang lain, bukan dari rahim mama.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku Bukan Rahim Cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..