
Menikahi Bos Mafia
Part 51
Siapa sebenarnya mas Ronal? Kenapa dia tahu banyak hal tentangku? Apa sebelum menerima perjodohan ini dia sudah banyak bertanya kepada Tuan Martin? Tapi, sepertinya tuan Martin sendiri sepertinya tidak tahu Jika aku menyukai warna itu. Bahkan teman-teman yang ada ditoko pun tidak ada yang tahu warna kesukaan ku.
Hanya mas Hansel saja yang sepertinya tahu banyak mengetahui hal tentang ku, karena kami bersahabat memang sudah dari sejak dulu. Tapi apa mungkin mas Ronal bertanya padanya. Sepertinya tidak mungkin jika dilihat sekilas mereka saja sangat jarang ngobrol bersama dan terlihat ada jarak diantara mereka berdua.
"Warna pich pink. Cantik sekali ini. Mau?"
tante Tania kembali dengan membawa kebaya bewarna pich pink yang begitu cantik dan cukup tertutup tapi tetap tak mengurangi kecantikan pada model kebayak itu.
__ADS_1
"Cantik, gimana Nadira mau?" lagi-lagi mas Ronal meminta pendapatku, aku tersenyum tipis dan menganggukan kepalaku.
"Ayo dicoba dulu sayang, nanti kalo kegedean kita ukur badan kamu dan kita buatkan kebayak yang serupa." ucap tante Tania lalu mengajakku untuk mencoba kebayak ke fitting room.
Aku benar-benar menyukai kebayak ini, warnanya yang lembut dan tak begitu meriah, hiasan payetanya pas dan enak dipandang dengan perpaduan swarovski yang membuatnya terlihat semakin elegan. Saat ku pakai tak terlalu ketat dan tak terlalu longgar. Cukup enak di badan, kurasa tak perlu ukur ulang karena ini pun sudah membuatku nyaman.
Aku tersenyum sendiri saat ku lihat pantulan diriku di depan cermin, lalu perlahan keluar dari fitting room untuk meminta pendapat dari tante Tania soal kebayak yang ku kenakan.
Laki-laki dingin itu pun menganggukan kepalanya sembari mengacungkan ibujarinya kearahku, lalu mengalihkan pandanganya. Tak tahu apakah aku salah lihat atau tidak, kurasa ada senyum tipis yang terukir dikedua sudut bibirnya saat bertatapan mata denganku beberapa saat lalu.
"Jadi gimana, mau diukur ulang atau mau yang ini saja?" tanya tante tania yang menoleh kearahku lalu beralih ke arah mas Ronal yang kini kembali menatap ku.
__ADS_1
"ini saja tante." Aku dan dia tak sengaja kompak menjawab pertanyaan tante Tania, tante Tania kembali tertawa saat mendengar jawaban yang sama dan kompak dari kami, membuatku tersipu malu. Detik ini aku tak sengaja melihat kembali senyum tipis itu, namun lagi-lagi ia mengalihkan pandanganya seolah tak ingin aku melihat senyum manisnya itu.
Kebaya untuk acara inti pun sudah siap. Mas Ronal kembali memilihkanku gamis berwarna pich ungu yang sangat begitu menawan. Aku pernah menginginkan gamis itu yang terjual di sebuah market place, sayang harganya melebihi gajiku sebulan.
Karena itu pula aku mengurungkan niat untuk membeli gamis cantik itu. Tak kusangka jika detik ini Tante Tania memiliki gamis serupa, bahkan yang membuatku terheran, Mas Ronal memilihkannya untukku.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku bukan Rahim Cadanga gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1