Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Berharap Berlebihan


__ADS_3

Menikahi Bos mafia


Part 41


Rasa sakit dalam dada masih begitu terasa apalagi saat aku lihat Mbak Nadin ngobrol cukup dekat dengan Mas Hansel. Namun, lagi-lagi aku berusaha menepis semua rasa itu. Sadar diri mungkin memang lebih baik untuk saat ini, sebab aku tahu mamanya tak pernah setuju denganku.


Jadi, lebih baik aku yang pergi dari pada nanti makin sakit hati. Nggak mungkin juga melawan restu, karena aku masih begitu yakin bahwa ridho Allah tergantung ridho kedua orang tuanya.


"Diminum, Mas. Maaf cuma teh hangat saja," ucapku sembari meletakkan dua cangkir di atas meja untuk Mbak Nadin dan Mas Hansel tentunya.


Bukannya menjawab, laki-laki di samping Mbak Nadin itu justru menatapku dengan lekat. Seperti ada sesuatu yang ingin dikatakannya namun ditahan karena ada Mbak Nadin di sana. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi selama bersahabat dengannya, aku cukup mengerti bagaimana ekspresi wajahnya saat bingung atau sedang gelisah.

__ADS_1


"Dira, aku mau ngobrol sama kamu sebentar, bisa?" tanya Mas Hansel tiba-tiba saat aku membalikkan badan ingin kembali ke dapur untuk meletakkan nampan.


"Ngobrol apa ya, Mas?" Aku melirik Mbak Nadin yang mulai sewot dan kesal.


"Ada sesuatu yang harus kutanyakan dan katakan sih sebelum kamu benar-benar akan menikah dengan Mas Ronal," balasnya sembari menghela napas panjang.


Mendengar nama itu disebut, kekhawatiranku kembali muncul. Perlahan aku duduk di kursi berseberangan dengannya. Ada meja di tengah-tengah kami yang memisahkanku dengan dia, sementara Mbak Nadin duduk tepat di sofa sebelah Mas Hansel.


Kekhawatiranku tentang Mas Ronal muncul kembali. Rasa takut yang sempat sedikit memudar karena perlakuan manisnya tadi pagi kembali hadir detik ini. Mas Habsel tentu paham siapa kakaknya karena mereka bersaudara dan sering bertemu setiap harinya, meski rumah mereka berjauhan.


Apakah ada hal-hal yang menakutkan dari Mas Ronal yang akan dikatakan oleh Mas Hansel sekarang? Aku menunggunya untuk bicara, namun dia masih bergeming di tempatnya. Tak ada sepatah katapun yang dia ucapkan. Hanya saja kurasakan tatapannya semakin tajam.

__ADS_1


"Jangan di sini, Dira. Ke warung bakso langganan kita saja gimana?" ucap Mas Hansel kemudian. Kedua mata Mbak Nadin membulat sempurna, seakan tak terima jika aku mengiyakan permintaan teman dekatnya itu.


"Di sini sajalah, Mas. Lagipula sebentar lagi adzan maghrib. Nggak bagus juga kalau perempuan dan laki-laki jalan bersama di malam hari apalagi semua orang tahu kalau sebentar lagi aku akan menikah dengan kakakmu."


"Iya, iya aku tahu semua orang tahu kalau kalian akan segera menikah."


Entah mengapa ada nada emosi dan kesal dari suara Mas Hansel. apakah dia cemburu? Ah, mana mungkin dia cemburu. Dia hanya menganggapku teman, tak lebih daripada itu. Jadi, aku tak perlu kepedean jika Mas Hansel memiliki rasa yang sama padaku. Mimpiku terlalu ketinggian, aku tak boleh terlalu berharap terlalu berlebihan.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku bukan Rahim Cadanga gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2