Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Anak Malas


__ADS_3

Menikahi BOS mafia


Part 15


"Ma, Mas Hansel datang," ucap Mbak Nadin dengan wajah berbinar. Sesekali kulirik laki-laki yang kini dekat dengan kakakku itu. Tak sengaja, aku dan dia kembali bertatapan lalu sama-sama mengalihkan pandangan.


"Oh, Nak Hansel sudah datang? Masuk dulu. Ibu sudah siapkan jajanan pasar buat teman minum teh," ucap Mama sembari membawa nampan berisi serabi dan berbagai macam kue jajanan pasar lainya.


"Nggak perlu repot-repot, Bu. Saya ke sini cuma mau ajak Nadin sama Dira makan bakso di warung pak burhan kok," balas Mas Hansel setelah duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Loh kok sama Dira sih, Mas? Kenapa nggak kita berdua saja?" protes Mbak Nadin sembari mengerucutkan bibir.


"Kemarin sudah jalan berdua, Nat. Kali ini biarlah Dira ikut. Adikmu itu teman baikku," ucap Mas Hansel membela. Mbak Nadin hanya berdecak kesal lalu melirik ke arahku dengan tatapan seakan akan mengancam.


"Aku nggak bisa ikut, Mas. Maaf masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan, lagipula nanti malam kakak dan papa Mas Hansel juga ke sini. Aku mau siap-siap," balasku cepat.


"Benar, Nak Hansel. Nadira harus siap-siap buat menyambut calon suaminya. Nanti malam kami rencananya akan membahas soal lamaran dan pernikahan Dira dengan kakak Nak Hansel itu." mama ikut menimpali.


Mbak Nadin buru-buru mengambilkan segelas air putih untuknya, sementara Mama menepuk-nepuk punggung lelaki itu perlahan.

__ADS_1


"Kamu nggak suka sama Nadira kan, Mas?" Mbak Nadin mengulang pertanyaannya saat aku pamit ke belakang. Mas Hansel hanya menggeleng pelan saat aku melirik ke arahnya. Kuhela napas panjang lalu pamit ke belakang setelah melihat mama komat-kamit memintaku segera pergi dari hadapannya.


Aku tak terlalu mendengarkan obrolan mereka, hanya saja sesekali kudengar gelak tawa di sana. Buru-buru ke kamar setelah mama memintaku pergi dengan kerlingan matanya.


Tak ingin membuang waktu, aku segera membersihkan badan. Setelah itu kembali ke dapur. Seperti biasanya, tumpukan cucian piring sudah menanti. Meja makan pun masih kosong. Hanya ada sisa sayur tadi pagi dan secuil telur dadar. Biasanya Mama dan Mbak Nadin memang menungguku datang untuk menyiapkan hidangan makan malam.


Nyaris semua pekerjaan di rumah ini ditimpakan semua padaku. Mulai dari cuci baju, cuci piring, masak, nyetrika baju sampai ngepel pun dibebankan padaku. Entahlah. Aku kadang merasa bukan bagian dari keluarga ini melainkan seperti pembantu rumah tangga.


Mama memang kerja sebagai buruh cuci setrika di dua rumah tetangga kami. Mungkin pulang dalam keadaan capek, jadi sangat wajar jika tak menyentuh urusan rumah. Sementara Mbak Nadin, nggak mau beberes rumah bukan karena capek pulang kerja tapi karena dia memang anak malas membantu pekerjaan rumah.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2