Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Motor Impian


__ADS_3

Menikahi Bos Preman


Part 37


"Nggak, Bu. Biar Nadira jelaskan dulu." Aku berusaha menenangkan Mama yang semakinmeradang.


Beberapa tetangga mulai membantuku untuk menenangkan Mama dengan memberinya segelas air putih. Setelah Mama lebih tenang, aku mulai menjelaskan secara runtut dari awal diberi pesangon Tuan Martin sampai diantar Mas Ronal untuk membeli motor baru itu secara cash.


Namun aku tak menceritakan pada Mama ada sisa uang pesangon yang kumasukkan kedalam bank atas namaku sendiri. Aku sengaja menyembunyikannya dari mama.


"Jadi, ini pesangon dari Tuan Martin dan kamu mulai hari ini tak bekerja di toko lagi?" ulang Mama setelah mendengar penjelasanku. Aku mengiyakan.

__ADS_1


Satu dua tetangga mulai kagum dengan kebaikan Tuan Martin. Ada pula yang menyebutku beruntung karena mendapatkan pesangon sebanyak itu. Ada pula yang memintaku bersyukur karena mau menikah dengan Mas Ronal hingga Tuan Martin menghadiahiku sebuah sepeda motor itu.


Padahal aku sendiri yang sengaja memilih untuk membeli motor, bukan semata-mata hadiah dari Tuan Martin. Hanya uangnya saja yang memang darinya. Biarlah para tetangga saling adu pendapat, yang penting sekarang permasalahan motor ini telah selesai. Petugas pun pulang setelah menjelaskan tentang surat-surat motornya yang mungkin akan jadi sebulan lagi.


"Dira! Jadi beneran motor ini hadiah dari Tuan Martin karena kamu mau menikah dengan preman itu?!" Suara yang begitu kukenal muncul di belakang. Aku dan Mama menoleh seketika. Di sana ada Mbak Nadin yang cukup shock saat melihat motorku yang baru saja diturunkan dari mobil box.


"Iya, Mbak. Itu hadiah dari Tuan Martin untuk ku," ucapku singkat dengan senyum tipis.


"Bagus banget motornya. Ini kan motor impian aku, Dir," ucap Mbak Nadin dengan mata berbinar.


"Besok aku pakai ngantor ya Dir?" pinta Mbak Nadin lagi. Aku menggeleng pelan. Enak saja. Aku sendiri belum mencobanya kok dia malah mau bawa pergi ngantor seharian pula di sana.

__ADS_1


"Jangan, Mbak. Besok aku mau pakai," balasku singkat spontan membuat binar wajah Mbak Nadin memudar dan kini berubah menjadi masam.


"Kenapa nggak boleh, Dir? Toh kamu juga sudah nggak bekerja di toko Tuan Martin. Kamu bakal di rumah seharian penuh sampai hari pernikahanmu tiba. Biarlah motor ini dibawa Nadin daripada nganggur di rumah. Lumayan bisa sedikit berhemat nggak bayar ojek online," sahut Mama cepat disertai anggukan Mbak Nadin.


"Besok Dira juga mau pergi, Ma. Tadi Mas Ronal ke sini ajak Dira pergi," ucapku. Meski besok ke butik untuk fitting baju kuyakin nggak bakal pakai motor melainkan pakai mobil Tuan Martin seperti yang Mas Ronal katakan tadi, setidaknya punya alasan agar Mbak Nadin tak memakai motorku.


"Memangnya si preman itu ke sini tadi?" tanya Mama sembari mengernyitkan dahi seolah tak percaya dengan apa yang kuucapkan.


"Benar, Dea. Tadi dia memang ke sini sebentar. Dan Aku sendiri yang panggil Nadira di dalam, soalnya anak Tuan Martin itu nggak mau panggil Nadira dan hanya berdiri saja di sini. Nadira mana tahu ada tamu kalau nggak dipanggil," balas Bi titin ikut menimpali jawabanku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2