
Menikahi Bos Mafia
Part 47
Mas Hansel yang masih mengompres pipinya dengan handuk basah menatap mamanya dengan lekat. Dia membenarkan duduknya lalu meminta sang mama untuk duduk di sampingnya.
"Hansel ke sini karen mau bertemu Nadira, Ma," ucap laki-laki itu lagi.
Tetangga kembali berbisik-bisik. Mereka menoleh ke arahku sekilas lalu beralih menatap Mas Hansel dan Mas Ronal.
"Nadira. Nadira. Nadira lagi! Mama bosan mendengar nama perempuan itu selalu kamu sebut. Memangnya di Batam sana nggak ada perempuan lain yang menarik hatimu? Sampai harus kembali dekat dengan perempuan miskin ini!"
__ADS_1
Deg. Hatiku mencelos lagi dan lagi. Air mata yang sejak tadi kubending kini tak terasa kembali menetes ke pipi. Seperti yang kuduga sebelumnya ibu Sinta pasti akan kembali menghinaku seperti biasanya.
Inilah yang kutakutkan selama ini tiap kali dekat dengan Mas Hansel. Mungkin memang sebaiknya aku menjauh dari laki-laki itu dan segera menikah dengan Mas Ronal.
Dengan begitu Ibu Sinta tak akan pernah khawatir lagi jika aku berusaha mendekati anak semata wayangnya itu. Dia akan lebih lega dan bebas karena aku sudah berumah tangga dengan lelaki lain.
"Ma ... kenapa sih mama selalu saja menghina Nadira seperti itu. Mama--
Aku mendongak tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan ibu Sinta, ku tatap ibu Sinta dan Mas Hansel secara bergantian. Perempuan itu mengalihkan pandangan saat aku menatapnya, sementara Mas Hansel terlihat cukup kaget mendengar penuturan yang sebenarnya dari mulut mama tercintanya.
"Jadi, mama yang sengaja merencanakan perjodohan ini?" tanya Mas Hansel setengah tak percaya. Ibu Sinta melirik sekilas lalu mengiyakan pertanyaan anak sematawayangnya itu .
__ADS_1
"Awalnya memang begitu supaya mama nggak sakit kepala melihat dia selalu minta uang sama papamu. Papa sudah bilang kalau dia menikah, warisan akan dibagi dengan rata. Makanya biar saja dia lekas menikah. Kalau jatah warisannya habis, dia tak punya hak lagi dengan harta kita," ucap Ibu Sinta sembari menunjuk Mas Ronal yang sedikit kaget mendengar kejujuran mama tirinya. Mungkin dia tak menyangka jika alasan itulah yang membuat papanya merencanakan perjodohan ini.
"Mama dan papa masih hidup. Bunda juga masih sehat. Kenapa harus membahas soal warisan segala."
"Jangan bo*oh, Hansel. Warisan itu penting. Kamu mau harta papa dihabiskan sama dia untuk berfoya-foya? Mama sih nggak sudi! Lagipula perjodohan itu tak semata-mata karena permintaan mama kok. Karena apa? Ternyata dia memang sudah sejak dulu memilih perempuan itu sebagai calon istrinya. Jadi, dia langsung saja setuju saat papa merencanakan perjodohannya." Mas Hansel menoleh seketika. Kakak beradik itu saling bertatap muka beberapa saat. Entah apa yang mereka pikirkan detik ini.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku bukan Rahim Cadanga gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1