Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
berkata Jujur


__ADS_3

Menikahi bos mafia


part 65


Apakah Bunda akan menggagalkan rencana pernikahan ini seandainya aku jujur jika awalnya karena sebuah keterpaksaan.


"Nadira..." aku terkesiap saat Bunda memanggil nama ku dan mengusap punggung tangan ku lagi.


"Iya bun...." aku tersenyum menatap wajahnya yang sangat begitu ayu, bunda pun tersenyum tipis dan berbalik menghadap ku lalu sedikit menganggukan kepala.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kamu merasa terpaksa atau mungkin kamu dipaksa untuk menikah dengan anak Bunda Ronal?" Bunda mengulangi lagi pertanyaanya.


Ku helakan nafas panjang lalu memejamkan mata sesaat sebelum sebelum aku menjawap pertanyaan dari Bunda yang ku rasa itu cukup berat dan serbah salah.


Aku tak tau apa jawaban ku nanti akan berpengaruh dengan restunya atas pernikahan ku dan mas Ronal. Namun sudah ku putuskan aku akan bicara dengan sejujurnya agar semua tak menjadi salah paham dikemudian harinya dan tak keliru dalam mengartikan jawabanku.


"Maaf sebelumnya ya, Bunda kalau jawaban saya nanti kuran berkenan. Saya ingin mengatakan jujur semuanya agar dikemudian hari tak menjadi salah pahaman." balas ku kemudian, menjeda nafas agar tak terlalu gugup apa lagi gemetaran. Bunda kembali tersenyum tipis lalu segera mengusap kembali lengan ku dengan begitu lembut.


Kedua pelupuk mata ku berkaca-kaca saat menceritakan semuanya ke pada bunda. Wanita paru baya itu pun menyeka kedua sudut matanya yang basah. Dan senyumnya kembali terlukis begitu manis lalu menganggukan kepalanya perlahan.

__ADS_1


"Terus bagaimana." tanyanya lagi yang masih menatap ku dengan lekat


"Bunda... Mas Ronal mengantarkan saya ke dealer motor waktu itu untuk membeli motor karena saya mendapat pesangon waktu itu dari tuan Martin, setelahnya saya juga diantarkan pergi kebank untuk menabung sisah uang pembelian motor itu. Mas Ronal juga membelikan saya ini, bunda." Lalu aku mengeluarkan bendah pipi hijau muda yang baru saja dibelikan mas Ronal di counter tadi.


"Sebenarnya saya tadi nggak mau, tapi mas Ronal bilang gak papa karena saya membutuhkanya. Ini pun dia sendiri yang memilihkanya untuk ku saya juga nggak tau berapa harganya. Awalnya saya minta dibawah harga sejutaan saja, tapi mas Ronal justru memilihkan yang ini. Bunda bisa tanya pak Udin misalkan Bunda kurang yakin dengan jawaban saya ini." Lagi-lagi aku mengusap kedua sudut mata yang basah. Aku takut sekali jika nanti dicap sebagai perempuan matre, apalagi oleh calon mertua sendiri.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa aku bukan rahim cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2