
Menikahi bos Mafia
Part 78
Senyum tipis itu kembali terlukis sangat begitu manis diwajah dengan lesung pipi di kedua belah pipinya. Aku dan mbak Susi pun salin berpelukan kembali lalu dia kembali melanjutkan kegiatanya untuk menata hijabku agar terlihat lebih rapi dan serasi dengan gamis yang akan ku kenakan.
Acara pengajian sederhana pun sebentar lagi akan segera dimulai. Tenda dan kursi kursi sudah tersusun rapi sejak tadi pagi, dan makanan chatring serta beraneka ragam camilan jajanan pasar pun sudah disediakan sebagai jamuan untuk para tamu undangan, rumah papa memang tidak terlalu luas makanya tak begitu cukup untuk menampung semua tetangga yang di undang dan para tamu-tamu, jika hanya mengandalkan ruang tamu dan ruang keluarga. Karena itulah mama menyewa tenda dan kursi-kursi.
Para tamu pun sudah banyak yang berdatangan, banyak suara tawa, canda dan obrolan semakin riuh terdengar dari dalam kamar ku, semua sudah dipersiapkan dengan baik seperti nasi kotak yang untuk dibawa pulang oleh para tamu pun sudah disediahkan.
__ADS_1
Sementara makanan pendamping nasi seperti rendang,capcai,soto,sambal hati/ampela, dan lain-lainnya pun sudah tersusun rapi di mejah panjang yang ada di dekat jendela, aku sangat-sangat bersyukur karena mama dan semua tetangga sudah membantu menyiapkan semuanya dengan baik dan rapi.
"Nadira sepertinya sangat bahagia dengan pernikahannya ini ya Bu Dea, apa Dira tidak takut dengan sepak terjang suaminya itu?" tanya seorang tetangga yang masih sibuk dengan pekerjaanya menggelar tikar dan karpet diruang tamu.
"Kamu beneran nggak kasihan dengan anak mu Nadira, De? Tega kamu ya masukin anak sendiri ke kandang macan, dua kali loh calon suaminya itu sudah masuk dalam penjara karena kasus penganiyayaan terhadap seseorang masa iya kamu nggak denger?" sahut ibu-ibu yang lainya.
''Denger kok, aku juga tahu kebenaran itu semua. Cuma ya sudahlah, biar dia bisa keluar dari sini dan mengurus kehidupanya sendiri, lagi pula kalau bukan sama dia siapa yang akan mau melamar Nadira?" jawaban mama itu cukum membuat sesak dan sangat menusuk hatiku. Mungkin kah mama sengaja mengusirku secara halus agar keluar dari rumah peninggalan papa ini? Entahlah aku pun tak memahaminya
Kalimatnya mungkin terdengar biasa, namun
__ADS_1
bagi ku ada banyak rahasia terdapat di dalamnya.bahkan aku pun baru tau jika ini sebenarnya adalah rumah ku.
Bukanya ini rumah papa dan otomatis rumah ini atas nama papa juga? Kenapa perempuan paruh baya tadi bicara kalau ini adalah rumah ku? Sejak kapan papa mengganti kepemilikan rumah ini?.
Aku pun tak mau ambil pusing lalu membuka layar handpone barang kali ada pesan penting yang masuk disana. Mungkin dari bunda karena bunda memang telah meminta nomor ku saat berkunjung ke rumahnya beberapa hari lalu.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku bukan Rahim Cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..