
Menikahi Bos Mafia
Mama nggak mau melihat kamu seperti Mama yang hidup seperti ini serba pas-pasan. Jadi, mumpung Tuan mau menjadikanmu menantu, kenapa nggak setuju? Iya, kan? Masa depanmu benar-benar terjamin jika menjadi menantunya."
Mama menasehatiku panjang lebar, lebih tepatnya menekanku untuk menerima perjodohan itu. Kata-kata yang Mama sampaikan sepertinya lembut dan benar, tapi ada beberapa kalimat yang menusuk tajam.
Apa Mama meragukan kuasaNya? Bahwa rezeki, jodoh dan maut sudah ada garisnya masing-masing. Kenapa harus takut kelaparan dan menderita hanya karena tak punya uang?
"Banyak uang tak menjamin kebahagiaan seseorang, Ma," balasku pendek. Aku kembali menyisir rambut panjangku yang basah.
__ADS_1
"Uang menentukan semuanya, Dira. Memangnya sekadar cinta membuat perut kita menjadi kenyang? Nggakkan!" sentak ibu kemudian. Aku kembali menghela napas.
"Cinta memang tak menjamin kebahagiaan, tapi memaksa seorang anak untuk menikah dengan seorang preman, pemabuk, penjudi dan mantan narapidana yang nyaris membunuh orang itu juga bukan hal yang baik bukan?" balasku lagi. Ibu meradang. Wajahnya merah padam menahan amarah.
"Pintar ngomong kamu sekarang ya, Dira! Ibu jauh lebih paham apa yang terbaik buat kamu!" Aku tersenyum tipis.
"Bukankah aku anak yang penurut, Ma. Tak pernah sekalipun aku membantah perintah Mama, asalkan itu bukan perintah buruk. Aku juga anak yang berbakti, perhatian pada keluarga dan anak yang rajin. Tak pernah sekalipun aku berdusta. Bukankah aku berhak memilih calon suami yang baik juga? Aku tak bermaksud membantah perintah mama kali ini, hanya saja kenapa aku harus dijodohkan dengan dia yang sikap-sikapnya begitu bertolak belakang denganku? Tak harus orang kaya, ma. Yang penting tak seburuk itu." Air mataku tak terasa menetes.
Bagaimana mungkin aku bisa menjadi istri shalehah, jika perasaanku selalu diselimuti gelisah? Bahkan sekadar menatap kedua matanya saja aku tak berani. Bagaimana caraku mencintai jika tiap kali dekat dengannya hati ini selalu was-was bahkan tak jarang gemetaran tak karuan.
__ADS_1
"Kalau kamu nikah dengan laki-laki kere, siapa yang akan melunasi hutang almarhum Papamu Dira?! Kamu ingin Papamu tenang kan dialam sana? Lunasi hutangnya karena itu akan membuat Papa kesulitan di sana. Kamu sering mengingatkan Mama kalau hutang dibawa sampai akhirat kan? Nikah dengan Ronal, itu adalah salah satu bukti bahwa kamu memang berbakti dan menyayangi Mama Papamu sendiri!" bentak Mama lagi lalu melangkah pergi keluar. Aku kembali memejamkan mata, mengeja semua pesan-pesan Mama.
Tak terasa air mata kembali menetes membasahi pipiku. Gegas kuhapus dengan tissu lalu kupoles wajah dengan bedak tipis. Bedak yang kubeli nyaris setahun lalu saat wisuda Mbak Nadin dan dia memaksaku untuk memakai make up agar tak terlihat kusam. Bibir pun kupoles dengan lipstik tipis warna bibir agar tak terlihat gelap.
Kupaksai diri ini untuk tersenyum agar tak terlihat dipaksakan. Teringat kembali pesan panjang dari Tuan Martin waktu itu.
"Maafkan saya kalau terkesan memaksamu untuk menikah dengan anak saya Ronal, Dira. Tapi saya yakin kamu bisa membawa Ronal ke jalan yang jauh lebih baik. Ada satu hal yang tak kamu ketahu dari dirinya. Nanti setelah kalian menikah, kamu baru menyadari siapa Ronal sebenarnya.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π