Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
berdebat


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 35


Di kejauhan, kulihat Mas Ronal masih terus mengawasiku dengan sorot matanya yang tajam.


Setelah semua selesai, laki-laki itu mengantarku kembali ke parkiran dimana Pak Udin berada. Setelah ngobrol beberapa saat, Pak Udin memintaku untuk masuk ke dalam mobil Udin mengantarku pulang. Sementara Mas Ronal lebih memilih naik ojek dan pergi entah ke mana.


"Ciee ... motor baru nih," goda Pak Udin lagi. Selalu saja begitu membuat wajahku merah padam karena malu.


"Jangan lupa traktir bakso, Dira. Anggap saja traktiran terakhir sebelum resmi jadi istri Mas Ronal."

__ADS_1


"Iya, Pak. Nanti aku traktir sama iBu dan yang lain."


"Nah gitu dong. Senyum, calon pengantin nggak boleh keseringan cemberut. Nanti cantiknya hilang. Satu lagi, Dira. Jangan dengerin gosip di luar sana karena tak semua yang kamu dengar itu benar."


Aku melirik Pak Udin yang hanya menganggukkan kepala seolah meyakinkan ucapannya.


"Nanti kamu akan tahu siapa Mas Ronal yang sebenarnya," sambungnya lagi membuatku semakin mengernyitkan dahi.


"Besok jam delapan dijemput Pak Udin ya? Diminta papa untuk segera fitting kebaya."


Dia hanya memintaku untuk siap-siap besok pagi karena harus datang fitting kebaya. Itu saja yang diucapkannya. Singkat dan padat. Kenapa tak menyuruh Tuan Martin atau Pak Udin saja untuk mengingatkanku? Toh tadi sebelum ke dealer aku juga sudah mendengar perintah itu dari Tuan Martin sendiri.

__ADS_1


Lagian aku juga bukan tipe orang yang pelupa, aku masih cukup mengingatnya. Buat apa capek-capek ke sini kalau cuma buat ngomong itu doang? Duh. Kurang kerjaan banget rasanya. Eh tapi, bukankah Mas Ronal memang tak memiliki pekerjaan? Aku lihat dia hanya lontang-lantung nggak jelas setiap harinya.


Mungkin karena uang Tuan Martin banyak, jadi dia merasa mampu memberi nafkah untuk istrinya dikemudian hari, atau sebenarnya dia memang memiliki usaha lain yang tak kuketahui dan tak diketahui oleh banyak orang? Emmm Entahlah.


Tak mau ambil pusing aku melangkah ke kamar dan segera istirahat siang. Nanti sebelum ashar harus segera bangun, kalau tidak, Mama pasti akan ngomel sepanjang masa. Apalagi Mama tak tahu kalau mulai hari ini aku sudah dipecat oleh Tuan Martin.


Tak tahu berapa jam aku terlelap, tapi yang pasti aku terjaga karena suara berisik yang berasal dari luar sana. Sepertinya di teras atau halaman rumah mama. Aku masih berusaha mengumpulkan nyawa dan menata debaran dalam dada saat kudengar suara Mama menyebut motor baru. Mungkinkah motorku sudah datang?


"Bagus banget motornya, Bu Dea. Kalau cash di atas dua puluh juta ini, Bu. Siapa yang beli? Pasti Nadin ya, secara gajinya saja tiga kali lipatnya gaji anak saya," ucap seorang wanita, entah siapa. Aku tak terlalu hafal namanya.


"Dua puluh juta lebih, Lin? Yang bener aja kamu? Nadin memang begitu, dia nggak mau beli barang second makanya dia beli baru sekalian supaya nggak gampang rusak. Dia memang beberapa kali ngomong pengen beli motor sendiri, nggak mungkin naik ojek terus-terusan karena boros, tapi aku nggak nyangka secepat ini dia urus pembelian motor baru itu," ucap Mama begitu percaya diri bahwa motor itu pembelian dari Mbak Nadin.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2