Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Beli Kalung


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Bulir bening menetes di kedua pipi. Sejak saat itu, aku tak lagi mengusik Mbak Nadin. Kubiarkan saja dia dengan kebiasannya. Mau bangun kesiangan pun aku tak peduli, toh Mama juga membiarkannya. Aku tak mau terus disalahkan, lebih baik memperbaiki diri sendiri daripada terus menerus merajut pertengkaran.


"Ma! Gimana doooongg!" Teriakan Mbak Nadin dari kamarnya membuatku terjaga dari lamunan.


Suara Mama dan Mbak Nadin yang berisik dan bersahutan membuatku penasaran. Aku pun melangkah perlahan ke kamarnya.


"Kenapa sih, Mbak? Tumben jam segini sudah bangun?" ucapku dari depan pintu kamar Mbak Nadin. Dua perempuan terdekatku itu masih mematut di depan cermin. Mereka menoleh ke arahku seketika.


Tak ada lagi kalung dari Mas Ronal itu melingkar di lehernya. Mbak Nadin sedikit gugup saat tahu aku tengah mengamati penampilannya.

__ADS_1


"Ng-- nggak ada apa-apa. Memangnya nggak boleh sesekali bangun pagi?" sahutnya sedikit gugup saat menatapku.


"Boleh kok. Bangun pagi juga bagus untuk kesehatan. Ohya, mana kalung dari Mas Ronal? Aku pengin lihat," ucapku lagi lalu berjalan mendekat.


Mbak Nadin mengeratkan tubuhnya ke samping Mama. Entah apa yang disembunyikannya dariku. Tangan kanannya masih menggenggam sesuatu. Mungkinkah dalam genggamannya itu kalungku?


Kenapa dia melepasnya? Padahal sejak kemarin dia begitu bangga bahkan berulang kali kulihat dia berlenggak-lenggok di depan cermin karena mengagumi kecantikan kalung itu.


"Patah, Dira. Semalam nggak sengaja kutarik kuat-kuat karena kaget kupikir ulat. Lupa kalau aku pakai kalung cantik itu." Mbak Nadin memperlihatkan kalung itu di telapak tangannya.


"Janji ya, Ma. Nanti siang sudah beli kalung baru? Soalnya sorenya mau aku ambil, aku mau pakai di acara makan bersama teman-teman," rengek Mbak Nadin sembari bergelayut manja di lengan Mama.

__ADS_1


"Iya, Mama janji. Agak siangan Mama ke pasar buat beli kalungnya," balas Mama sembari mengusap puncak kepala anak kesayangannya itu.


"Memangnya Mama punya uang buat beli kalung Mbak Nadin?" tanyaku spontan membuat Mama tercekat seketika. Apa uang dari Tuan Martin akan dipakai Mama untuk membeli kalung itu?


"Uang buat beli kalung Nadin?" tanya Mama lirih lalu melirik anak kesayangannya.


"Iya. Bukannya kemarin Mama bilang nggak punya uang, makanya nggak belanja sayuran? Aku juga cuma bisa kasih lima ratus ribu seperti biasanya,nggak mungkin cukup buat beli kalung Mbak Nadin. Apalagi Mama bilang sebagian mau buat bayar hutang di warung Bi Mimi. Mama nggak akan pakai uang dari Tuan Martin kan?" tanyaku lagi. Mama tampak menelan saliva lalu melotot kecil ke arahku.


"Jangan nuduh sembarangan, Dira. Kalaupun pakai uang dari calon mertuamu itu juga nggak masalah, kan sudah dia kasih ke kita. Terserah dong mau dipakai apa saja," sahut Mbak Nadin cepat sambil melipat tangan ke dada seolah menantangku.


"Jelas masalah dong, Mbak. Itu hakku. Uang untuk syukuran pernikahan, bukan untuk beli perhiasan. Lagipula kalau kamu nggak mau menikah dengan Mas Ronal, ngapain juga mau sama uangnya?" Mbak Nadin mendelik. Dia bersungut kesal menatapku.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2