
Menikahi Bos Mafia
Part 19
Batinku kembali bergejolak. Apakah ucapan tuan Martin waktu itu benar jika mas Ronal tak seburuk yang kupikirkan? Tapi kenapa harus aku yang dipilih Tuan untuk menemani laki-laki menyeramkan itu? Kenapa bukan memilih orang lain jika memang alasan utamanya bukan karena hutang?
"Jikalaupun ibumu tak memiliki hutang pada saya, saya tetap ingin menikahkanmu dengan Ronal. Hutang itu hanya sebagai penjamin saja agar kamu tak dilamar orang lain. Maafkan saya, Dira. Saya terpaksa melakukannya. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya kan, Dira?"
Lagi-lagi aku kembali mengingat ucapan itu. Kalimat panjang yang terucap dari bibir hitam sang calon mertua saat aku masih sibuk mencatat beberapa pesanan-pesanan consumen toko di catatan.
Lamunanku buyar saat ku dengar salam dari luar. Suara Mama pun terdengar sangat riang. Aku buru-buru memasukkan kembali bedak dan lipstik itu ke dalam lemari lalu duduk di tepi ranjang. Sengaja diam di sini sembari menata hati sampai Mama memanggilku untuk keluar.
__ADS_1
Sepertinya Tuan Martin dan Mas Ronal sudah datang. Kudengar obrolan mereka dari dalam kamar, lalu terdengar langkah kaki Mama menuju ke kamarku dengan tergesa-gesa.
Ceklek. Pintu kamar sedikit terbuka. Wajah Mama yang tadi kulihat merah padam menahan amarah, kini sedikit lebih tenang. mama nggak mungkin memperlihatkan kekesalannya pada calon besan. Aku tahu itu.
"Calon suami dan mertua sudah datang Dira. Kamu nggak ada niat keluar kamar? Sambut mereka, jangan membuat Mama malu karena ulahmu!" sentak Mama kembali meninggalkanku.
Kuhembuskan napas panjang. Tak ada waktu untuk berpikir lebih panjang. Aku harus menghadapi semuanya sekarang.
Sebuah kalimat dari calon mertuaku waktu itu semoga benar adanya. Aku akan bahagia meski menikah dengan seorang brandal. Berharap dia bukan seorang brandal biasa, tapi brandal yang berusaha menemukan jalan TuhanNya. Brandal penuh kasih, cinta, perhatian yang akan membawaku ke dalam istana cintanya.
Sayangnya, berulang kali hanya dianggap sahabat tetap saja aku masih terus berharap jika dia memiliki perasaan yang sama untukku. Aku memang bodoh. Tak juga peka jika aku dan dia memang jauh berbeda.
__ADS_1
Ah sudahlah! Kini aku mulai sadar jika aku memang tak pantas bersanding dengan lelaki sepertinya. Sekalipun dia sangat baik, perhatian dan pengertian, nyatanya dia hanya menganggapku teman biasa tanpa ada kata spesial apalagi istimewa.
"Mas, ayo berangkat. Cuma makan bakso aja kan? Habis itu pulang ya? Aku mau ikut dengerin obrolan Mama dan papa Mas Hansel soal pernikahan Nadira," ucap Mbak Nadin sembari melirik ke arahku.
"Iya, Nat. Nanti aku juga mau ikut antar Mas Ronal," balas Mas Hansel singkat.
Pergi dulu ya, Dir. Jangan lupa, siap-siap dandan yang cantik supaya kamu nggak malu-maluin keluarga kita. Jangan sampai preman itu menolak perjodohan ini. Kamu harus ingat, Dira. Mumpung ada yang mau, apalagi pernikahanmu itu bisa melunasi hutang almarhum papa dan mama. Kalau kamu nggak punya make up, pakai saja make up bekasku di meja rias bagian kiri ya. Masih cukuplah kalau cuma dipakai sekali atau dua kali daripada mukamu kucel begitu. Aku pergi dulu sama calon suami," bisik Mbak Nadin ke telingaku. Senyum sinisnya mengembang, membuatku kembali merasa tersisih dan terbuang.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1