
Menikahi Bos mafia
Part 44
Hatiku kembali bimbang. Jalan mana yang harus kupilih saat ini. Mungkinkah aku bisa bersatu dengan cinta pertamaku? Apakah mimpiku tak terlalu ketinggian? Apakah keluarganya juga merestui hubungan ini jika hubungan ini benar-benar terjadi?
"Bagaimana dengan mamamu? Beliau tak pernah menyukaiku. Status sosial kita jauh berbeda, Mas. Sangat berbeda. Sekuat apapun tak akan pernah bisa sama," balasku lirih.
Tiap kali mengingat Bu Sinta, hatiku kembali terasa sakit. Bayangan kebencian dan kemuakannya padaku seolah lalu lalang di depan mata. Semakin membuatku tak percaya diri dan tak berdaya.
__ADS_1
"Aku akan meyakinkan mama. Kamu bisa kejar paket C lalu kuliah. Aku yang akan membiayai kuliahmu sampai sarjana. Mama pasti akan setuju jika kamu juga memiliki gelar. Aku tahu bagaimana karakter mama. Beliau hanya tak ingin calon istriku nanti dihina oleh teman-temanku yang sebagian besar berpendidikan dan berada. Mama hanya ingin kamu bisa lebih percaya diri menghadapi banyak orang, Nadira. Mama berharap kamu tak minder jika bertemu dengan teman-teman bisnisku nanti. Itu saja."
Laki-laki itu beranjak dari kursi lalu melangkah mendekatiku. Dia menjelaskan sedemikian rupa agar aku percaya dengan kata-katanya.
"Itu artinya mamamu nggak setuju, Mas. Beliau ingin calon menantunya yang setara denganmu, minimal sarjana juga. Sementara bunda Mas Ronal mau menerimaku apa adanya. Beliau tak menuntutku ini dan itu apalagi kewajibanku untuk mengenyam pendidikan hingga sarjana. Beliau menerimaku apa adanya, termasuk Mas Ronal."
Kuseka bulir bening yang menetes di kedua pipi. Tatapan Mas Habsel berubah nyalang. Seolah tak terima dengan jawaban yang kuberikan. Mungkin dia tak suka jika aku terlalu memuji ibu keduanya, atau dia tak ingin aku membandingkan antara mamanya dengan bunda Mas Ronal. Entahlah.
Mas Hansel semakin mendekat. Perlahan aku pun mundur hingga sampai di sudut ruangan. Hatiku semakin berdebar tak karuan saat menyadari tak ada lagi ruang untukku menghindarnya. Begitu cepat Mas Hansel mengunciku.
__ADS_1
Dia berdiri terlalu dekat denganku yang mulai gemetar bahkan keluar keringat dingin. Tatapannya begitu tajam. Jarak yang teramat dekat membuatku merasakan hembusan napasnya yang kasar. Kedua lengan kekarnya kini sudah berada di sisi kiri dan kanan kepalaku.
Air mata yang sedari tadi kutahan tanpa kusadari sudah jatuh bercucuran dipipiku. Begitu pula dengan air matanya. Tak ada kata-kata yang dia ucapkan. Hanya hening dan bulir bening yang mengisi ruang tamu ini. Aku berusaha mendorongnya ke belakang, namun tenagaku yang tak seberapa ini tak mampu membuatnya mundur meski hanya selangkah.
"Katakan, Dira. Apa keputusanmu? Maukah kamu berjuang bersamaku untuk meyakinkan mama tentang cinta kita?" tanyanya dengan penuh harap.
Ketakutan menguasai hati ini. Aku tak mendapati Mas Hansel yang seperti biasanya. Detik ini dia sangat berbeda. Aku takut menatap matanya yang tajam. Dia kembali menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Namun aku masih tetap bergeming. Lidahku mendadak kaku. Aku ingin menjawab, tapi suaraku seolah tercekat di tenggorokan.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku bukan Rahim Cadanga gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..