
Menikahi bos Mafia
Part 74
"Oh ya Dira, kalau masaknya enak ayo nambah lagi Dira, makan mu terlalu sedikit nak, makan yang banyak Ronal tak masalah kok nal jika kamu Geuk nantinya, iya kan Nal." lalu bunda menoleh ke arah mas Ronal yang ku tau ia masih sedang curi-curi pandang dengan ku sedari tadi. Aku tau sebab aku sempat memergokinya.
"hmmm.. Iya bun, gemuk, kurus tak menjadi hal bagi ku karena tetap terlihat cantik dan menarik di mata ku." jawabnya dengan santai sembari menyuapkan kembali soto ke dalam mulutnya.
"Aduhh... Bibi yang jadi baper nih mas Ronal. Bagai mana ini?" goda bi Jum lagi, aku hanya bisa terdiam tak bisa berkata apa-apa, aku hanya menunduk saat bunda kembali menimpuk anak laki-lakinya itu dengan gulungan tisu.
Makin lama disini, aku semakin tak kuat dengan kejahilan mereka, rasanya aku ingin segera pulang. Tak enak jika terlau berlama-lama di rumah orang, meskipun itu calon mertua sendiri. Mama juga pasti sudah pulang dari tadi dan pastinya sudah menunggu ku.
Mungkinkah ia akan ngomel-ngomel karena aku belum menyiapkan makan malam. Masakan ku tadi pagi pasti sudah habis dimakan oleh ku dan mbak Nadin tadi pagi, dan aku sangat yakin anak kesayangan mama itu pasti tak peduli dengan meja makan yang tak ada isinya.
__ADS_1
Jam lima sore mas Ronal dan pak Udin mengantarku pulang. Sesampainya dirumah aku buru-buru membersihkan tubuhku, dan tak lupa aku mengganti pemb*lut ku karena saat ini aku sedang datang bulan.
Saat aku mandi, biasanya mbak Nadin pasti akan masuk ke dalam kamar ku begitu saja dan pasti akan mengacak-acak semua barang-barang ku sesukanya. namun sepertinya sekarang akan berbeda karena mbak Nadin sangat takut dengan mas Ronal.
Dia juga takut akan ancaman ku tadi, yang akan melaporkannya ke mas Ronal jika dia selalu mengganggu ku. Bagaimana tak ketakutan jika dia harus berhadapan dengan seorang preman yang banyak diketahui orang-orang jika preman itu sudah banyak menghabisi nyawa banyak orang.
''Wooowwww... Bagus sekali handponenya, merek terbaru pula. Gila ini handpone siapa? Masa Nadira sih? Kayaknya sangat-sangat nggak mungkin deh, harganya aja nyaris hampir tujuh jutaan. Nadira dapet uang dari mana sebanyak itu? Pesangon dari tuan Martin juga nggak mungkim sebanyak itu kan. Apa lagi sebagian uangnya sudah dibelikan motor kan, nggak mungkin masih sisa sebanyak ini." suara mbak nadin terdengar dari dalam kamar ku yang terbuka sangat lebar.
"Ngapain kamu mbak?" pertanyaan ku membuat mbak Nadin terkejut hingga ia melompat dari tempat duduknya dikursi samping jendela. Untungnya handpone yang dipegangnya tak terlempar seketika.
"Ini handpone dari mana?" tanyanya dengan cepat sembari berjalan mendekati ku yang berada di samping pintu. Belum juga sempat menjawab dia telah mencecar ku
"Kamu dapet duit dari mana bisa membeli barang yang sangat mahal seperti ini?" tanyanya lagi sembari mengusap layar handpone baru ku itu
__ADS_1
"Memang berapa harganya, Mbak?" aku kembali bertanya kepadanya karena aku memang tak memahami harga atau pun merek hanpone terkini.
"Hampir tujuh jutaan Dira, gila aja kamu punja duit sebanyak itu Dira!" balasnya dengan cepat sembari menepis tanganku dengan kasar saat akan mengambil handpone itu dari tanganya.
"Bawa sini mbak, itu handpone dibeliin sama mas Ronal, bukan aku yang sengaja beli."
Aku kembali menarik tanganya yang sedang asik memencet sana sini, mbak Nadin memang selalu begitu jika melihat barang-barang miliku. Seolah dia ingin
memiliki
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku bukan rahim cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..