
BAB 8
"Bu Dea, memangnya kabar yang beredar soal Dira itu benar ya?" tanya Bu Tina tiba-tiba yang sontak membuat kakiku berhenti untuk melangkah. Aku terdiam sejenak, bermaksud mendengarkan obrolan mereka.
"Iya benar, Bu. Ya mau gimana lagi, hutang peninggalan suami sampai seratus lima puluh juta lebih. Saya nggak mungkin sanggup membayar hutang - hutang sebanyak itu, dapat duit darimana coba? saya hanyalah Buruh cuci gosok cukup buat makan sehari-hari saja itu sudah alhamdulillah," ucap mama dengan ekspresi sedihnya.
Aku tak paham apakah dalam hati mama memang benar-benar sedih atau hanya bersandiwara dihadapan para ibu-ibu tetangga, sebab tiap kali mama bicara denganku tak ada ekspresi serupa. Yang ada mama hanya bentak-bentak dan menatapku tajam agar menuruti semua keputusannya tanpa perlu bertanya apalagi menolaknya.
__ADS_1
"Sekarang Nadin'kan sudah kerja, Bu. Kata ibu dia jadi sekretaris, tentu gajinya sangat besar. Bisalah bantu-bantu untuk dicicil tiap bulannya. Kasihan loh nak Dira, masa iya harus menjadi tumbal buat melunasi hutang-hutang peninggalan papanya," sambung ibu yang lain.
"Iya, Bu Dea. Kasihan Dira kalau harus menikah dengan anak Brandal begitu. Lihat aja wajahnya yang suram, bertato, mana pernah jadi napi pula. Ngeri misal mereka berantem nanti Ronal bisa main tangan terhadap nak Dira yang orangnya lemah lembut."
Aku menelan saliva begitu saja. Jadi, kabar yang selama ini sering terdengar jika Mas Ronal pernah menjadi napi dan membunuh orang itu benar? Ya Allah. Ngeri sekali sikapnya. Aku benar-benar seperti ditumbalkan oleh mama. Tak peduli bagaimana perasaan dan ketakutanku, yang penting mama tak lagi memikirkan hutang - hutang keluarga.
Cerita demi cerita tentang pergaulan buruk Mas Ronal membuatku semakin takut dengan pernikahan ini. Mungkinkah aku hanya akan dijadikan boneka saja setelah menikah nanti? Ya Allah ... aku benar-benar takut menghadapi perjodohan ini.
__ADS_1
"Nadin kerja buat hidup dia sendiri dong, Bu. Masa buat melunasi hutang-hutang. Kasihankan dia masa kerja capek-capek cuma buat bayar hutang keluarga," balas mama dengan suara kesal.
"Wajarlah bu kerja capek buat bayar hutang, kalau memang punya hutang, Bu. Hutang 'kan tanggung jawabnya sampai akhirat, dari pada ditagih di sana nantinya mending dibayar di sinikan. Kalau Nadin ikut bayar juga lumrah namanya. bukannya duit itu dia juga yang pakai buat kuliah dan buat kebutuhan -kebutuhan hidupny? Dari pada Dira yang harus menjadi tumbal dan menikah sama anak brandal itu, lebih kasihan dia dong, Bu Dea. Masa ibu tega nyemplungin anak sendiri ke kandang singa sih." Beberapa ibu saling adu pendapat membuat wajah mama menjadi merah padam.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1