Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
ngak ikhlas


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 30


"Jadi, kamu sudah mendengar semua obrolanku dengan Mama?" Mbak Nadin kembali berkomentar.


"Iya. Semuanya. Aku nggak mau menikah dengan Mas Ronal kalau hanya dijadikan sapi perahan saja. Cukup Mama menjualku dengan seratus dua puluh juta. Jangan tambah dengan yang lainnya."


"Mama nggak menjualmu, Dira. Jangan selalu berpikir seperti itu."


"Sudahlah, Ma. Nyatanya memang begitu. Mama menjualku untuk melunasi hutang Papa. Aku dijual dengan seorang preman yang sudah dikenal buruk akhlaknya. Andai calonku adalah Mas Hansel, tentu Mama akan menjodohkan Mbak Nadin dengannya. Sayangnya yang dijodohkan denganku Mas Ronal, makanya Mama menarik Mbak Nadin jauh-jauh dan membiarkanku terjebak di dalamnya."


"Aku nggak mau jual kalung cantik ini, Ma. Aku sangat menyukainya," rengek Mbak Nadin. Kulihat Mama mengusap-usap lengan kiri anak emasnya itu.

__ADS_1


"Gajimu banyak, Mbak. Gaji sebulan saja cukup untuk membeli kalung seperti itu kalau kamu mau. Jangan terus memanfaatkanku!" ucapku lagi. Mbak Nadin mendelik ke arahku.


"Apa kamu nggak ikhlas menyetujui perjodohan ini demi melunasi hutang Papa?" sambung Mama cepat.


"Akan berusaha ikhlas, asalkan Mama dan Mbak Nadin tak menambahi bebanku lagi dan lagi. Jual kalung itu dan bayar hutang Jeng Lina kalau Mama mau aku menikah dengan Mas Ronal. Kalau nggak, hutang itu harus dibayar bertiga. Mbak Nadin harus ikut menanggungnya. Jangan aku saja!" ancamku lagi. Mbak Nadin terdengar mengomel tak karuan. Aku tak peduli.


Kutinggalkan Mama yang masih berusaha menenangkan anak kesayangannya itu. Gegas ke pasar untuk mencari tukang emas. Semoga saja kalungku bisa diperbaiki. Aku nggak mau melanggar janjiku sendiri untuk memakai kalung ini.


Waktu terus bergulir. Hari pernikahanku pun semakin dekat. Tanggal lahir yang biasanya kulalui bersama Mas Hansel, sepertinya kali ini akan berbeda. Ada laki-laki lain yang akan menggantikan sosoknya.


"Dira, mulai besok kamu nggak bekerja di toko ini lagi ya?" Suara tegas yang biasa menemani hari-hariku di toko ini terdengar tiba-tiba. Aku yang dari tadi melamun mendadak menoleh ke arahnya.


"Sa-- saya, Tuan?" tanyaku gugup. Laki-laki penuh wibawa itu tersenyum tipis seraya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Iya, kamu, Dira. Jangan panggil Tuan. Nanti saya akan jadi mertua kamu," ucap Tuan Martin dengan senyum tipisnya.


"Belum terbiasa, Tuan," balasku dengan menundukkan kepala.


"Belajar untuk membiasakan. Lama-lama akan terbiasa," balas Tuan Martin lagi.


"Ohya, seperti yang saya katakan diawal. Hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja di sini, Dira. Nggak mungkin kan kamu jadi karyawan terus?" Tuan Martin masih tersenyum tipis. Pak Udin pun mulai menimpali.


"Iya, Tuan. Nadira bingung itu kenapa diberhentikan. Dia pasti juga lagi mikir, mau kerja apa nanti setelah menikah. Iya, kan, Dira?" Aku mencibir kecil ke arah Pak Udin yang masih terkekeh, sesekali menggodaku.


"Masa calon pengantin kerja di toko terus. Waktunya kamu kerja di rumah, Dira. Urus suami," timpalnya lagi.


"Benar, Nadira. Ronal yang meminta saya untuk memberhentikan kamu. Besok kalian harus fitting kebaya. Terserah mau model yang bagaimana ya?" ujar Tuan martin lagi.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2