
Menikahi bos Mafia
Part 72
Ya,rasanya hari ini ingin ku beri judul hari yang penuh senyuman. Maafkan aku jika aku sangat cukup mengagumi senyumanya yang sangat begitu manis itu. Senyuman yang selalu membuat ku rindu dan kagum terhadapnya.
Bunda mengajak ku untuk makan dulu sebelum aku pulang. Jujur saja aku merasa tak enak hati jika harus makan di sini, namun lebih tidak enak hati juga jika aku menolak permintaan calon mertua ku itu. Saat mas Ronal telah pulang, semua hidangan sudah siap dan disajihkan diatas meja oleh Bi Jum yang sehari-hari membantu bunda.
Beraneka ragam jenis makanan dan ada juga pencuci mulut yang sangat segar. Ada tumisan sayur-sayuran, aneka gorengan,soto, ayam goreng, puding, dan beberapa buah-buahan. Aku membantu bi Jum menyiapkan peralatan makan seperti piring,gelas sendok dan garpu ke atas meja. Meski hanya diminta untuk duduk saja, tapi rasanya tak enak. Lagi pula aku sudah terbiasa melakukan semuanya dirumah. Jadi kalau hanya sekedar untuk menyiapkan makan saja itu sudah biasa.
__ADS_1
"Ayo duduk saja Nak Dira, biar bibi saja yang menyiapkan semuanya." ucap bi jum dengam senyum yang sangat ramah.
"Nggak papa bi, saya juga bisa beres-beres rumah kok bi, biar saya bantu lagian saya nggak enak juga kok hanya duduk-duduk saja." balas ku sembari mengelap piring dan sendok yang ada di samping wastafel.
"Oh ya neng, ini gelas adalah gelas favorit mas Ronal, dia suka sekali sama soto kalau neng Dira bisa buatnya pasti mas Ronal makin kelepek-kelepek dan makin cinta deh sama neng Dira." bisik bibi lagi. Perempuan berhijab ungu itu kembali menggoda ku saat melihat tuan mudanya yang baru saja keluar dari kamar.
Koko dan sarung yang tadi di pakainya ke masjid, kini sudah berganti dengan kaus hitam dan dengan celana pendek selutut. Lagi-lagi warna yang senada dengan hodienya. Hitam.
"Duduk aja neng, temani calon mertua dan calon suami mu."
__ADS_1
Dasar bibi, baru saja saling mengenal sudah sehebo ini. Bi Jum ini seperti pak Udin versi cewe, aku pasti bakalan mabuk oleh sindiran jahilnya jika akan tinggal seatap denganya nanti. Menghadapi kejahilan pak udin saja dulu aku selalu kewalahan, sekarang malah bertemu orang yang setipe dengan pak Udin sama-sama jahil.haduhh...
"Nadira kamu duduk saja sini sama bunda., biar Ronal saja yang duduk disebrang sana." pinta bunda, yang ke dua kalinya, dan aku pun mengiyakanya.
Ku lihat mas Ronal menarik salah satu kursi lalu mendudukinya, piring dan sendok baru saja disiapkan oleh bi Jum diatas meja. Sementara aku mulai menuangkan air putih ke gelasnya bunda, gelas ku dan melangkah mengitari meja untuk menuangi air putih ke gelasnya mas Ronal.
"hemm." laki-laki itu berdehem. Kenapa harus berdehem saat aku sedang berdiri disampinya sih? Aku heran dengan sikapnya. lalu perlahan aku menuangkan air putih ke gelas hitam keasayanganya itu. Ku lirik dia dengan ekor mata ku, sepertinya dia melakukan hal yang sama seperti ku.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku Bukan Rahim Cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..