
Menikahi Bos Mafia
Part 48
"Mama kira bakal ada drama yang panjang, ternyata nggak ada. Justru kamu yang bikin drama seperti ini. Gimana sih, sel? Malu-maluin mama saja kamu ini. Masa rebutan perempuan model begitu sih. Memangnya kamu perjaka tua yang nggak laku apa?!" sentak Ibu Sinta lagi membuat beberapa orang entah mengapa justru menahan tawa mereka
"Dia memang pantas dengan kakak premanmu itu. Cocoklah. Klop. Sama-sama nggak ada istimewanya," sambung ibu Sinta sembari mengipasi wajahnya dengan tangan.
Cukup lama perdebatan ini terjadi antara ibu dan anak itu. Tiba-tiba mama datang dengan napas terengah-engah. Dia menatapku tajam seakan menahan amarah yang memuncak.
"Maaf, Bu Sinta. Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di sini?"
__ADS_1
"Pakai tanya lagi. Nasehati anakmu itu Dea, supaya nggak keganjenan sama anak orang. Ajari sopan santun dan tahu diri dong. Dia ini siapa dan Hansel ini siapa!" sentak Bu Sinta membuat ibu mengangguk dengan cepat seraya meminta maaf. Maaf yang seharusnya tak mama ucapkan karena aku tak ada salah apa-apa.
"Bikin ulah apalagi kamu Dira?!" sentak mama sembari mendorong bahuku dengan kasar. Sungguh, aku benar-benar malu diperlakukan seperti itu di hadapan para tetangga, terlebih di depan Mas Ronal dan keluarganya.
"Jawab, Dir! Kamu bikin ulah apa? Sengaja merayu Mas Hansel supaya mau mendekatimu? Nggak tahu malu kamu ya Nadira? Tahu diri kamu, Dir! Sudah beruntung ada yang mau nikah sama kamu, masih saja merayu lelaki lain! Apakamu lupa sama janjimu?!" Lagi-lagi Mama mendorong tubuhku. Namun kali ini Mas Ronal menangkap lenganku dan membantuku untuk berdiri kembali.
Laki-laki berbadan kekar itu berdiri di tengah antara aku dan Mama. Dia berusaha menghalangi tangan mama yang masih saja ingin mencubit lenganku.
Mas Hansel mengusar rambutnya dengan kasar lalu pergi begitu saja meninggalkan mamanya yang masih mematung di samping pintu. Aku tak tahu apakah keputusanku detik ini sudah benar, tapi yang aku yakini, aku tak boleh egois dan mementingkan hati ku sendiri. Semoga saja keputusan ini akan mengalirkan kebaikan dan kebahagiaan di kemudian harinya.
"Motor siapa ini?" Tiba-tiba Ibu Sinta menunjuk motor baruku yang masih terparkir di halaman rumah.
__ADS_1
"Motor baru Nadira, Bu," sahut salah satu tetangga yang masih bergerombol di rumah Bi lina.
Aku dan Mas Ronal keluar rumah. Dia menatapku sekilas lalu memintaku berjalan lebih dulu sementara dia mengiringiku di belakang.
"Kamu rayu suamiku supaya kasih pesangon puluhan juta begini?" tuduh Ibu Sinta dengan tatapan sinis.
"Mana mungkin Nadira begitu, Ma. Sudahlah, ayo pulang. Papa pasti punya alasan khusus memberikan pesangon itu untuk Nadira. Lagipula dia pantas mendapatkannya karena selama ini ulet dan cekatan dalam bekerja dan sudah cukup lama kerja di toko papa," bela Mas Hansel.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku bukan Rahim Cadanga gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..