Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Kalung


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Sayangnya, saat bekerja pun tak sesuai dengan harapan. Uang gajiku tak banyak, jangankan buat beli perhiasan, sekadar buat bantu Mama makan dan bayar hutang di warung saja masih kekurangan.


Berbeda dengan Mbak Nadin yang bisa menikmati gajinya karena Mama tak pernah meminta. Alasannya selalu sama, ingin Mbak Nadin menikmati uangnya sendiri sepuasnya. Entahlah. Aku tak mengerti mengapa sikap Mama pada kedua anaknya terlalu berbeda.


"Bagus banget liontinnya, Ma. Aku mau dong dibeliin yang begini," ucap Mbak Nadin saat mengambil dan mengamati kalung pemberian Mas Ronal itu. Kedua matanya berbinar cerah, begitu pula Mama yang mengiyakan ucapan anaknya.


"Benar, Nadin. Bagus banget kalungnya. Kira-kira berapa ya harganya?" Mama mulai penasaran lalu kembali mengamati liontin berbentuk hati itu.

__ADS_1


"Ada nama Nadira, Ma. Berarti ini dipesan khusus, nggak dijual sembarangan." Wajah Mbak Nadin mendadak berubah masam. Dia kembali menatapku beberapa saat.


"Aku pinjam kalungmu dulu, Dira. Besok mau aku pakai ke kantor karena ada acara makan-makan sama teman-teman. Mereka pasti kagum sama kalung cantik ini," ucap Mbak Nadin kembali menatap kalung di tangannya lalu meminta Mama untuk memakaikan kalung itu ke lehernya.


"Nggak boleh, Mbak. Itu kalungku. Kamu bilang cuma pinjam, sini balikin. Aku mau pakai kalung itu seperti janjiku pada Mas Ronal," balasku cepat lalu menarik tangannya. Mbak Nadin tak terima, dia justru mencubit lenganku hingga kemerahan. Saat aku meringis kesakitan, dia dan Mama justru terbahak puas.


"Dekat juga belum tentu dilamar, Mbak. Soal dekat, aku jauh lebih lama dekat dengan dia dibandingkan kamu," balasku lagi membuat kedua mata Mbak Nadin membulat lebar. Dia terlihat cukup murka.


"Kurang aja* kamu, Dira. Memangnya kamu pikir aku bo doh sepertimu? Mau-maunya cuma dideketin dan dimanfaatin. Aku sih ogah. Yang ada justru dia yang aku manfaatin!" Mbak Nadin pergi meninggalkanku begitu saja. Kalung itu masih melingkar cantik di lehernya sementara Mama menarik lenganku kasar.

__ADS_1


"Kamu harus merahasiakan soal kalung itu dari Tuan Martin, Dira. Kalau sampai Tuan martin tahu, dia pasti marah besar. Jangan sampai membatalkan acara pernikahanmu dengan anak sulungnya itu, apalagi membatalkan pelunasan hutangnya. Semua bisa berantakan kalau kamu tukang ngadu. Nggak apalah kalau kalung itu dipakai Nadin, lagipula kamu juga pakai hijab, jadi nggak ketahuan misal kamu nggak pakai kalung dari berandalan itu. Nggak kelihatan. Jadi, biarlah Nadin memakai kalung itu sepuasnya, setelah dia puas baru kamu yang memakainya. Paham?!" Mama kembali mendelik ke arahku.


"Itu kalungku, Ma. Kenapa aku harus menunggu Mbak Nadin memakai kalung itu sampai puas dulu? Harusnya aku yang memakainya pertama kali, bukan terbalik begini!" Aku begitu kesal melihat sikap Mama dan Mbak Nadin yang semakin semena-mena terhadaku.


"Sudah berani membantah kamu, Dira! Kamu mau jadi anak durhaka, ha?! Nggak ingat siapa yang merawat dan membesarkan kamu hingga sebesar ini?!" sentak Mama lagi membuatku terdiam seketika. Aku begitu takut jika Mama sudah menyebut anak durhaka. Jelas aku tak menginginkannya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2