
Menikahi Bos Mafia
Part 36
"Iyalah, Bude. Masa sekretaris naik ojek terus. Harusnya dia bawa mobil sekalian biar makin keren dan pas dengan jabatan di kantornya," sahut yang lain.
"Iya, nanti lama-lama juga dia beli mobil. Sekarang beli motor dulu, Li," balas Mama lagi.
Ingin rasanya keluar dan menjelaskan semuanya, tapi aku nggak enak melihat ekspresi Mama yang pasti akan malu dan kecewa. Tapi jika tak keluar, petugas dari dealer itu pasti mencari-cariku.
"Maaf, Bu. Ini benar rumahnya Mbak Nadira Syaputri kan?" yang kuyakin itu adalah suara petugas dari dealer yang mengantar motor baruku. Semua mendadak menjadi hening. Hanya Mama saja yang bicara.
"Iy-- iya, Mas. Ini rumah Nadira. Dia anak kedua saya," balas Mama yang sedikit gugup.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu nggak salah rumah saya, Bu. Saya ke sini mau mengantarkan sepeda motor Mbak Nadira. Sudah dibelinya secara cash tadi pagi," ucap petugas itu lagi.
Aku yang kini berdiri di samping pintu melihat begitu jelas keterkejutan di wajah Mama. Tak hanya Mama, tapi juga beberapa tetangga yang kebetulan ada di rumah ini.
"Masa iya Nadira yang beli sih, Mas? Yang benar saja, jangan bercanda deh, Mas." Bu Lina pun tak percaya jika aku yang membelinya.
"Iya, Mas. Mungkin Nadin bukan Nadira. Secara Nadirakan gajinya cuma sejuta loh, Mas. Masa bisa beli motor cash? Second aja mungkin dia nggak bisa," sambung Mama cepat.
"Benar, Bu. Ini namanya Nadira kok, bukan Nadin. Memang Nadira yang datang tadi pagi dan mengurus pembelian motor ini. Baiknya ibu panggilkan Mbak Nadiranya dulu supaya semuanya menjadi jelas." Petugas dealer itu menghela napas panjang lalu meminta Mama untuk mencariku.
"Itu Dia Nadira!" Sebuah suara membuat beberapa pasang mata itu menoleh ke arahku bersamaan. Mendadak kikuk dibuatnya.
"Dira! Ternyata kamu di rumah?" tanya Mama begitu kaget saat melihatku sudah berdiri di samping pintu.
__ADS_1
"Kenapa di rumah? Kok kamu nggak kerja? Bangun tidur kamu ya?" cecar Mama lagi tak memberiku kesempatan untuk bicara.
"Kamu mau gajimu dipotong Tuan Martin? Jangan ngelunjak, Dira. Mentang-mentang mau jadi menantunya, lantas kamu bebas keluar masuk toko begitu saja. Kamu harus punya etika karena masih berstatus karyawannya. Jangan malah enak-enakan tidur siang segala." Mama mulai mengomel seperti yang kuduga sebelumnya.
Tak pandang bulu, Mama mengomeliku di depan orang banyak. Mama memang tak pernah mempedulikan perasaanku. Mau sakit hati atau malu, seolah bukan urusannya. Yang penting amarahnya tersalurkan dan dia merasa lepas dan bebas mengomeliku kapan saja.
"Biarkan Nadira bicara dulu, Bu," ucapku cepat karena tak Mama terus mengomel dan tak memberiku waktu untuk menjelaskan.
"Mau bicara apa? Kamu juga bisa beli motor itu secara cash? Dapat duit darimana kamu, Dira? Si Lina bilang harganya di atas dua puluh juta kalau cash, jangan-jangan selama ini gajimu lebih dari sejuta tapi kamu simpan sendiri ya? Tak peduli bagaimana kebutuhan keluarga yang penting kamu bisa nabung tiap bulan untuk membeli motor baru?" tuduh Mama semakin menggebu.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1