
Menikahi Bos Mafia
Part 16
Kuku-kuku cantiknya takut lecet dan kotor jika harus mencuci baju atau cuci piring apalagi berkutat dengan pisau dan talenan didapur. Begitulah, dia selalu memintaku mengerjakan semuanya sendirian sementara dia sibuk dengan dunianya sendiri dengan handphone di tangan.
"Dira, kamu serius mau menerima lamaran Mas Ronal?" Tiba-tiba Mas Hansel nongol dari belakang saat aku membersihkan sampah di halaman.
"Kalau aku menerima, memangnya kenapa, Mas?" Lalu aku balik bertanya.
__ADS_1
"Nggak kenapa-kenapa, Dir. Cuma khawatir saja kalau nanti kamu tak bahagia jika bersamanya." Mas Hansel tersenyum tipis lalu menghela napas panjang.
"Kenapa kamu nggak jujur saja kalau sebenarnya kamu menyukaiku, Dir?" Pertanyaan Mas Hansel membuatku tersedak seketika. Aku pun tertawa sumbang.
Percakapan Mas Hansel dengan mamanya tiga hari yang lalu kembali terngiang di benak, padahal aku sudah berusaha melupakannya.
"Mama tak perlu khawatir. Hansel sama Dira cuma bersahabat dekat aja, Ma. Hansel juga tahu mana yang pantas dijadikan istri dan mana yang hanya pantas dijadikan teman ngobrol dan cerita banyak hal. Nadira baik dan pengertian. Dia tak seburuk yang mama bayangkan. Dia juga bukan perempuan matre seperti yang mama takutkan. Namun lagi-lagi mama harus percaya jika Hansel dan Dira tak memiliki hubungan apa-apa selain sahabat. Soal istri, mungkin Nadin sedikit lebih baik dibandingkan Nadira. Bukan begitu, Ma?" ucap Mas Hansel berusaha meyakinkan mamanya. Lelaki itu tampak mengusap lengan sang mama perlahan agar mamanya semakin yakin jika ucapannya adalah benar.
Tak menunggu jawaban dari Mas Hansel, saat itu aku buru-buru mundur beberapa langkah lalu melangkah kembali ke toko. Kue brownies yang dititipkan Tuan Martin sengaja kuberikan pada Pak udin, biar dia saja yang mengirimkan ulang ke rumah Mas Hansel. Aku nggak mau dia dan mamanya tahu jika aku sempat mendengarkan obrolan mereka di taman samping rumah mereka.
__ADS_1
"Dira, kamu menyukaiku kan? Jujur saja sebelum semua terlambat. Paling tidak, katakan sejujurnya supaya Mas Ronal juga menolak perjodohan ini. Dengan begitu kamu akan bebas, Dira. Sebagai sahabat, aku cuma takut kamu menderita lahir batin jika menikah dengan dia," ulangnya lagi.
Sahabat. Iya, hanya sekadar sahabat. Dia tak menganggapku lebih dari pada itu. Jadi, buat apa aku jujur soal perasaanku jika hanya akan bertepuk sebelah tangan? Bukankah itu justru memalukan bagiku?
Harusnya dari dulu aku memang sadar diri, jika Mas Hansel hanya menganggapku sebagai sahabat, tak lebih dari pada itu. Hanya saja perhatian dan pengertiannya padaku kadang membuatku berpikir lebih dari itu.
Kupejamkan mata perlahan. Kembali teringat saat Mas Hansel mengatakan pada Mamaku, mama dan teman-teman kuliahnya jika aku hanyalah sahabatnya saja. Dia bahkan berulang kali bilang kalau aku memang hanya cocok dijadikan sebagai sahabat bukan calon istri.
Harusnya aku sadar diri hanya lulusan SD yang kadang tak begitu nyambung jika diajak ngobrol teman-temannya soal pengetahuan atau dunia perkuliahan. Aku juga tak fashionable seperti mereka.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π