
Menikahi Bos Mafia
Part 60
Aku tak mau jika terlalu banyak barang berharga yang kupunya sebelum hari pernikahan tiba. Pasti banyak yang mencibir dan memfitnah keluargaku, termasuk mama. Setidaknya nama baik keluarga harus tetap terjaga meski hidup kami pas-pasan saja.
"Kenapa, Dira? Dibeliin handphone sama calon suami sendiri kok nggak mau sih. Lagian handphone jadulmu itu sudah nggak layak pakai lagi, Dira. Retak di sana-sini kan?" Pak Udin ikut angkat bicara.
"Bukan retak lagi, tapi hancur, Pak," balas Mas Ronal singkat.
"Nah, lebih parah. Sudah hancur gimana mau makai, Dira. Sudahlah, yang penting bukan kamu yang minta beliin. Bapak saksinya nanti kalau ada yang menuduhmu macam-macam."
Seolah tahu apa yang kupikirkan, Pak Udin berniat menjadi saksi untukku jika ada sesuatu di kemudian hari. Mas Ronal menganggukkan kepal pelan saat aku menatapnya beberapa saat.
__ADS_1
"Tapi, Mas. Kita juga nggak pernah bertukar pesan atau teleponan. Jadi, ngapain juga dibeliin handphone." Aku kembali beralasan. Pak Udin cukup kaget mendengar jawabanku barusan.
"Nggak pernah ngobrol di hape, Mas?" Laki-laki paruh baya itu menoleh ke kiri di mana Mas Ronal duduk sembari membenarkan hoodienya. Jaket berbahan kaos yang selalu dia pakai, entah punya berapa biji dia. Namun yang kulihat sering kali berganti model meski selalu dominan dengan warna hitam.
"Nggak, Pak. Ngobrol banyak kalau sudah sah. Face to face," balas Mas Ronal lagi membuatku salah tingkah.
Face to face katanya? Sekadar menatap matanya saja aku masih takut apalagi jika harus ngobrol dengannya bertatap muka. Duh, bayanginnya kok jadi serem ya.
"Face to face maksudnya apa to, Mas? Bapak nggak paham lah," sahut Pak udin lagi.
"Cihuiii, dari hati ke hati ya, Mas? Asik itu, bapak jadi inget masa-masa muda. Cuek dan dingin gini, persis Mas Ronal. Tapi sekarang berubah bawel gara-gara istri bapak cerewet banget. Tiada hari tanpa ocehan."
Pak Udin geleng-geleng kepala saat menceritakan istrinya.
__ADS_1
"Bisa gitu, Pak?" Lagi-lagi Mas Ronal bertanya dengan kedua alisnya yang tertaut.
"Serius, Mas. Nanti Mas Ronal juga ngerasain kalau sudah hidup seatap, seranjang apalagi kalau sudah punya anak. Ribet tapi seru dan ngangenin."
Mas Ronal berdehem sembari melirik ke arahku sekilas. Pak Udin pun melakukan hal yang sama dari balik spionnya. Mereka berdua ngobrol sendiri seolah tak ada aku sebagai kaum perempuan di sini.
Sampai didepan counter pak udin menghentikan mobil, tak ingin diperlakukan seperti ratu.aku segera buru-buru membuka pintu mobil dan bergegas untuk turun lalu menutup pintunya kembali. Mas Ronal agak kaget saat melihatku sudah turun sementara dirinya baru saja mau menutup pintu mobil.
"Ayo masuk!" ajaknya saat melihaku yang masih belum beranjak dari samping pintu.
"Duluan aja mas, aku mengikuti dari belakang." agak kikuk saat aku memintanya untuk jalan duluan, namu ia justru menggeleng pelan.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa aku bukan rahim cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..