Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Memberi nasehat


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


BAB 11


"Dira, dengar-dengar kamu mau dijodohkan sama Mas Ronal ya? Untuk melunasi hutang - hutang keluargamu ya?" bisik Bu Tuti setelah melirik kanan kiri tak ada orang di sekitar kami.


"Sepertinya begitu, Bu. Apa ibu tahu sesuatu?"


Aku menghentikan suapan nasi goreng ku dan tempe goreng yang kubawa dari rumah. Tiap hari aku memang membawa bekal makan siang.


Selain hemat, aku juga malas jika harus keliling cari warung makan yang hanya akan menghabiskan waktu istirahat yang hanya satu jam saja itu.

__ADS_1


"Kamu tahu dong siapa Mas Ronal? Masa kamu mau dijodohkan dengan preman seperti dia sih, Dir?" Bu Tuti terlihat gundah lalu menghela napas panjang. Seolah tak rela jika aku benar-benar akan menikah dengan laki-laki sangar itu.


"Nanti mau coba istikharah dulu, Bu. Kalau memang nggak yakin mau bilang sama Tuan Martin saja sekalian kalau Dira nggak setuju dengan perjodohan itu. Misal ngomong sama mama rasanya percuma sebab apapun yang sudah menjadi keputusannya seolah nggak boleh diganggu gugat gitu."


"Kamu anak baik dan solehah, Dira. Ibu sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Rasanya nggak tega kalau kamu harus menikah dengan laki-laki mantan narapidana seperti Mas Ronal dan kini hanya sebagai pengangguran tak ada pekerjaan. Ibu tahu orang tuanya kaya, tapi kamu akan semakin tersiksa jika menikah dengannya yang hanya bermodalkan uang orang tua. Sebagai kepala rumah tangga, dia harus punya penghasilan sendiri supaya lebih berwibawa dan bertanggungjawab pada keluarga kalian nantinya. Nggak terus-terusan menyusahkan orang tuanya."


Bu Tuti memberi nasehat sembari mengusap lenganku perlahan. Aku lagi-lagi mengangguk mengerti. Paham sekali jika maksud Bu Tuti untukku memang baik. Dia tak ingin masa depanku semakin hancur jika menikah dengan Mas Ronal.


Sudah menjadi rahasia umum jika sikap Mas Ronal memang seburuk itu. Bahkan dengar-dengar, sikap buruknya itulah yang membuat ibu naning sempat shock, hipertensi hingga kini stroke dan duduk di kursi roda.


Sesekali kulihat Bu Naning datang ke toko bersama perawatnya untuk bertemu dengan Tuan Martin. Mungkin membicarakan soal sikap anak lelaki mereka yang ura-urakan itu.

__ADS_1


Namun, yang membuatku terheran-heran, Mas Ronal memang urakan, tatoan, suka mabuk Dan judi, tapi semenjak keluar dari penjara dua tahun lalu dia tak lagi memukuli orang.


Jika dia tak suka dengan seseorang, dia hanya menatap orang itu dengan mata tajam dengan rahang tegas dan tangan mengepal. Tak ada sepatah katapun yang keluar hingga akhirnya dia pergi begitu saja.


Aku sering memergokinya melakukan hal seperti itu, termasuk pada Mbak Nadin kemarin saat dia akan pergi bersama Mas Hansel ke luar rumah.


"Dira, aku bawakan bakso sapi kesukaanmu. Aku boleh duduk di sini ya? Kita makan sama-sama. Aku juga belum makan siang." Ucapan itu membuatku dan Bu Tuti mendongak seketika. Kami yang tadi masih asyik ngobrol ngalor-ngidul mendadak berhenti saat laki-laki itu sudah berdiri di sampingku dengan dua porsi baksonya.


"Dira, makan yang banyak. Biar agak gemukan kamu. Ibu sholat dulu ya?" Seolah tak ingin mengganggu, Bu Tuti justru meninggalkanku dengan Mas Hansel di ruang makan khusus karyawan di samping gudang.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2