
Menikahi bos mafia
Part 85
Aku tak akan menyia-nyia kan kesempatan dan kepercayaan yang sudah kamu berikan, Nadira." lagi-lagi ku dengarkan ucapan mas Ronal yang sangat begitu dalam bagi ku. Aku hanya mengangguk pelan, tanpa sepata kata pun yangbkeluar dari mulut ku sebagai balasan.
"Bunda juga, Dira. Terima kasih kaerna kmu telah memilih kami, bunda sayang sekali sama kamu, kamu adalah anak perempuan yang bunda harap-harapkan selama ini."
Wanita yang lebih dari setengah abat itu pun tersenyum padaku lalu meminta ku kembali untuk memeluknya.
"Besok gantian ya." mata ku seketika membulat sempurna saat mendengar kata-kata singkat itu. ku lepaskan pelukan bunda perlahan, lalu ku lirik laki-laki yang masih duduk santai di sofa. Seolah tak pernah mengucapkan kata-kata yang baru saja membuat ku kembali berdebar.
"Bunda...cantik" mas ronal menatap bundanya dengan sangat lembut lalu kembali merebahkan badanya ke sofa.
__ADS_1
"Siapa yang cantik Nal?" Bunda? Bunda kembali tersenyum sembari melirik ke arah ku. Lirikan bunda dan tatapan dari anak lelakinya itu sekilas membuatku kembali menjadi salah tingkah. Aku tak enak jika wajah ku kini kembali menjadi bersemu merah. Masa iya aku di bilang cantik, ha...mungkin aku lagi salah pendengaran.
"Bunda lah yang cantik." balas mas Ronal, bunda menganggukan kepala perlahan lalu mengusap lengan ku dengan begitu lembutnya.
"Kamu cantik, Dira. Calon suami mu yang memuji mu." ucap bunda berbisik di samping telinga ku.
Ada rasa desiran yang seakan bergeliyar di dalam dada. Ah, aku cantik? Senyum tipis pun terukir di bibir ini, baru kali ini ada seorang laki-laki yang menyebutku cantik. Dan itu adalah calon suami ku sendiri.
"Ayo di minum teh hangatnya,Dira. Setelah ini aku akan antar kamu pulang. Ini sudah sangat terlalu malam, dan kamu juga nggak biasa keluar malam kan?" aku mendongak tepat pada saat mas Ronal sedang menatap ku dengan lekat sembari membawa secangkir teh hangat di tanganya.
"I--ni buat ku?" aku tergugup seraya menunjuk diri ku sendiri.
"Enggak, tapi ini buat calon Bidadari syurga ku." ucapanya dengan santai lalu segera membuang pandanganya ke arah lain setelah aku menerima cangkir pemberiannya.
__ADS_1
Aku tak peduli lagi, mungkin pada saat ini wajah ku sudah bena-rbenar seperti kepiting rebus. Memerah dan merasa salah tingkah karena menahan malu.
"Ronaaaallll...sudah jangan terus-terusan menggoda calon istri mu, lihat wajah Nadira sekarang sudah sampai memerah karena kamu terus-terusan menggodanya,dasar kamu ya sekarang mulai usil."bunda sedikit mencubit pinggang anak lelakinya. Seketika ku lihat tawa itu berderai di bibir keduanya.
Baru kali ini aku melihat tawanya seperti itu, sungguh ada sedikit aura yang berbedah yang terpancar jelas di wajahnya. Entah mengapa hari demi hari kau semakin mengagumi sosoknya. Semakin terpesona dengan kepribadianya yang begitu sederhana dan sangat unik bagi ku.
Ku lihat jarum jam sudah nyaris menunjukan pukul sebelas malam. Aku pun mulai semakin gelisa karena tak juga di antar pulang. Mas Ronal justru kembali masuk ke dalam kamarnya, entah mau ngapain. Tak selang begitu lama dia pun keluar kembali ke ruang keluarga dengan membawa sesuatu di tanganya.
"Ini sweater buat kamu. Cantik" ucap mas Ronal lagi sembari menyodorkan seweater berwarna peace pink itu untuk ku.
"Nggak usa mas, aku nggak terbiasa pake jaket kok mas." balasku menolak. Aku tak ingin terus-terusan dibelikan ini itu olehnya karena belum sah menjadi istrinya. Sekali pun rencana acara akad akan digelar hari esok pagi.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku Bukan Rahim Cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..