Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Binggung


__ADS_3

Menihaki Bos Mafia


Part 59


Tak ingin membuatnya semakin ketakutan, aku buru-buru pamit keluar dan bilang kalo calon mertua ku ingin bertemu dengan ku. Tak ada jawaban dari mbak Nadin, dia justru buru-buru untuk menutup pintu kamarnya setelah ku utarakan niat ku.


Ku lihat mas Ronl sedang duduk dikursi teras, dia pun segera beranjak setelah melihat ku telah menutup pintu utama. Tanganya terulur kearahku. Rupanya dia telah menemukan penutup hanpone miliku itu.


Aku hanya menatapnya sekilas lalu memasukan benda kecil itu kedalam tas. Aku dan dia berjalan beriringan menuju mobip yang di sopir oleh pak Udin. Seperti biasanya dia membukakan pintu mobil untuk ku.


Teringat sikapnya waktu itu, aku buru-buru merapikan ujung gamis ku sendiri. Sebelum duduk dikursi belakang, laki9laki itu sedikit tersenyum saat melihat kegugupanku lalu


menutup pintu mobil dengan perlahan.

__ADS_1


"Hai Dira, ketemu lagi kan kita? , rasanya suasana toko mendadak sepi ngak ada kamu dira, Kamu dapet salam dari bu Tuti dan yang lainya." ucap pak Udin saat aku duduk dibelakang. Dia melihatku dari sepion kecil yang ada di samping kepalanya.


"Salam balik ya pak buat mereka, saya juga kangen mereka dan pengen bekerja lagi, Tapi--


"Jangan lah Dira. Sebentar lagi kan kamu jadi nyonya, ngapain kerja ditoko seperti biasanya. Iya kan mas?" pak Udin melirik mas Ronal yang baru saja memasang seat belt.


Laki-laki itu hanya berdehem mendengarkan kata-kata dari pak Udin. Sebelum diminta aku pun memasangkan sabuk pengaman seperti biasanya. Lagi-lagi ku lirik dia yang terlihat tersenyum tipis karena melihat tingkahku namun dia pura-pura membuang muka dan beralih melihat jendela.


Gimana sih, bukanya tadi dia mengajaku kerumahnya untuk bertemu dengan bundanya? Kenapa sekarang dia melarang pak Udin melajukan mobilnya ke rumah bunda.


"Kita mau kemana, mas?" ulang pak Udin sambil meliriku dari kaca sepionya lagi. Mungkin ikut binggung dengan perubahan mas Ronal yang begitu mendadak.


Ke conter handpone, handpone Nadira rusak, kita beli dulu disana." ucap laki-laki itu lagi masih dengan gaya cuek dan santainya.

__ADS_1


Aku membulatkan mata mendengar jawaban singkat itu darinya. Rasanya tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata, aku tak menyangkat jika dibalik sikap dinginya, Mas Ronal memperlakukan aku dengan begitu istimewa.


Masa bodoh dengan kabar gosip yang beredaran diluar sana tentang laki-laki itu sebab yang kurasakan saat ini malah sebaliknya. Mas Ronal adalah laki-laki yang pengertian dan sangat menghargai seorang perempuan. Kini aku semakin yakin dengan keputusan yang telah aku ambil, dan aku pun berharap tak akan ada penyesalan dikemudian harinya karna telah menerima perjodohan ini.


"Mas, nggak usah beli handphone." Aku berucap tiba-tiba.


Kebahagiaanku atas perhatiannya tadi mendadak sirna saat aku mengingat ucapan Ibu Sinta kemarin. Aku bukan perempuan matrealistis seperti yang dia kira. Tak pernah sekalipun merayu Tuan Martin ataupun anak-anaknya untuk membelikan ini dan itu untuku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa aku bukan rahim cadangan uda part 145 gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2