
Menikah dengan bos mafia
Part 62
"Itu nggak maha, itu sangat cocok sama kamu."
Tak banyak tanya, pada akhirnya aku hanya diam saja. Setelah melakukan pembayaran, mas Ronal memberikan paper bag yang berisi handpone itu ke pada ku.
"Mahal ya mas?" tanyaku lagi karena tadi aku tak terlalu memperhatikan harga handpone itu.
"Itu nggak mahal, apa lagi itu buat kamu."
__ADS_1
"Eeeaaaaa piwitttt..." Pak Udin bersorak kegirangan sambil tertawa geli. Saat ini aku benar-benar terasa mati kutu, wajahku pasti sudah memerah seperti udang rebus. Ya ampun, ya allah. Laki-laki ini sudah benar-benar membuatku salah tingkah.
Perjalanan menuju kerumah mas Ronal pun dilanjutkan. Tak berselang lama, mobil memasuki sebuah perumahan standar yang tak terlalu elit. Pak udin pun menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah minimalis dengan warna cat coklat muda.
Aku sampai lupa untuk turun lebih dulu hingga seperti biasa mas Ronal membukakan pintu mobil untuk ku. Dia pun mengajak ku untuk masuk ke dalam rumah. Tampak sebuah taman bunga kecil dan juga ada sebuah kolam ikan koi kecil disamping garasi menjadi pemandangan utama saat memasuki rumah ini.
Sungguh rumah Bunda mas Ronal sungguh jauh sangat berbeda dengan rumah Mama mas Hansel yang sangat luas dan sangat begitu mewah. Perbedaan yang sangat mencolok adalah rumah ini hanya memiliki satu lantai sedangkan rumah mama mas Hansel memiliki dua lantai. Apa kabar yang selama ini ku dengar itu semua benar, jika Tuan Martin lebih mementingkan istri barunya itu dibandingkan dengan istri pertamanya yang tak lain adalah Bundanya mas Ronal.
"Ayo masuk, bunda sudah menunggu mu didalam" ucapan mas Ronal membuyarkan semua lamunan ku. Ku lihat pak Udin sedang duduk diteras saat aku mengucapkan salam.
"Bunda sudah menunggu diruang keluarga, ayo masuklah." ajaknya lagi saat aku sudah duduk diruang tamu.
__ADS_1
Kini hatiku berdebar-debar tak karuan saat kaki ku melangkah untuk masuk ke dalam, binggung apa yang harus aku bicarakan sama calon ibu mertua ku nanti. Aku benar-benar habis kata-kata dibuatnya.
"Sore Bun, calon menantu bunda sudah datang" ucap mas Ronal pada seorang wanita berhijab hijau tua yang duduk dikursi roda. Wanita itu sedang menikmati pembandangan yang ada di luar jendela.
Saat ia menoleh kearah ku, ku lihat senyum ramah terlukis di bibirnya. Aku pun mencium punggung tanganya lalu memperkenalkan nama ku padanya.
"Nadira, nama yang sangat cantik, secantik orangnya. Ayo silakan duduk nak, maaf Bunda duduknya di kursi roda ya." ucapnya dengan senyum ramah yang masih terlukis dibibirnya, mas Ronal pun pamit ke teras depan untuk menemani pak Udin, sepertinya sengaja meninggalkan ku di sini berdua bundanya agar aku leluasa ngobrol sama bundanya.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa aku bukan rahim cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..