
Menikahi bos Mafia
Part 83
Mas Ronal mengangguk pelan sembari tersenyum tipis namun seperti biasa dia mengalihkan pandanganya, kini yang ku lihat justru mas Hansel yang sedikit terkejut saat melihat ku, mungkin kah make up dari mbak Susi itu yang membuatnya sekaget ini melihat penampilan ku saat ini?
"Cantik" bunda sekali lagi memuji membuatku malu di buatnya.
Ku lihat bu Sinta yang hanya melipat tanganya di depan dada sembari membuang muka. Sungguh sangat berbeda darastis dengan sikap bunda kepada ku. jika sudah begini, tak mungkin aku. Mau menjadi calon menantunya bukan.
Aku tak ingin membuat hidup ku kembali tenggelam dalam kesakitan dan kesedihan karena melihat sikap mama yang sangat terlalu buruk dan di tambah mertuaku. Saat seperti ini jangan lagi ditanyakan masalah cinta, sebab yang ada dalam fikiran ku saat ini bukan hanya sekedar cinta saja tapi juga kebahagiaan.
"Sekarang ayo jawab saja,Dira. Jangan takut, kamu lebih memilih aku atau mas Ronal?" ucap mas Hansel kemudian.
Ku lihat dari kedua bola matanya yang begitu berharap jika aku lebih memilihnya, namun sangat disayangkan aku tak bisa memilihnya, aku beralih melihat mas Ronal yang terlihat sedikit gelisah dia berulang kali hanya menghela nafas lalu meliriku sesaat.
__ADS_1
Tak ada sepata kata pun yang keluar dari mulutnya. Mungkinkah saat ini dia sedang merasakan khawatir jika aku lebih mengedepankan perasaan ku dengan mas Hansel. Sebagai pasangan hidup ku?
"Maaf jika jawaban saya kurang berkenan, Tuan. Soal...
"Sudah tinggal bilang saja pilih siapa, nggak usah banyak drama dan bertele-tele. Kamu nggak lihat sekarang ini sudah jam berapa?" Bu Sinta kembali memotong pembicaraan namun tak ku sangka mas Hansel sudah berani menyentaknya.
"Ma! Sudah cukup jangan keterlaluan dengan Nadira." mas Hansel beranjak dari sofa samping kakaknya lalu menatap tajam ke arah mamanya yang sedang duduk di samping papanya.
"Hansel sudah duduklah, seperti apapun juga dia tetap lah mama mu, tak sepantasnya kamu seperti itu terhadapnya." ucap tuan Martin yang membuat mas Hansel segera kembali duduk lalu menatap ku lagi.
Mas Hansel sepertinya nggak terima dengan apa yang ku putuskan, dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar lalu kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Berbeda dengan sikap mas Ronal yang lebih tenang dengan tatapan haru di kedua matanya. Dia mengangguk kan kepalanya pelan saat bertatapan dengan ku.
Bunda pun nengucap syukur lagi dan lagi sembari memeluku dengan kehangat, ucapan terima kasih pun terdengar, padahal justru seharusnya aku lah yang seharusnya mengucapkan itu pada mereka yang sudah mau menerima ku apa adanya.
"Itu jawaban dari Nadira, Sel. Kamu harus menghargai keputusanya. Sekarang ayo kita pulang, besok mereka akan sibuk dengan akad nikah dan kita. Juga harus menghadirinya bukan?"ucap bu Sinta dengan senyum penuh ke legaan.
__ADS_1
Mas Hansel mulai terbawa suasana, emosi sudah pasti jelas terlukis di wajahnya. Aku tau saat ini dia sangat begitu kecewa, namun ini lah yang terbaik untuk ku dan dia. Semoga dengan seiring berjalanya waktu dia dapat menerima keputusan ku ini dengan lapang dada.
"Ini semua gara-gara mama. Mama tak pernah setuju jika aku berhubungan lebih dari sahabat dengan Nadira. Mama telalu mengengkak kehidupan ku!" mas Hansel pergi begitu saja meninggalkan kami semua.
Jujur sekarang aku justru takut dia kenapa-naaa. Namun lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan berdoa semoga dia baik-baik saja. Setelah mas Hansel pergi, tuan Martin pun pamit pulang bersama istri mudanya.
Sekarang aku bingung bagai mana caranya aku pulang, Sedangkan tadi pak udin sempat bilang akan pulang lebih dulu karena ada keperluan mendadak setelah menerima telepon dari seseorang.
"Terima kasih sudah memilih ku, aku tak akan pernah melupakan momen mendebarkan ini sepanjang hidup ku."
aku mendongak lalu kembali menunduk lalu mengangguk pelan. Tak berani menatap kembali kedua matanya yang berubah sendu itu.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku Buka Rahim Cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..