
Menikahi Bos Mafia
"Jawab saja, Dira. Jangan diam saja," timpal Mbak Nadin lagi.
"Iya. Kalau semua setuju, rencana pernikahan mereka InsyaAllah satu bulan lagi. Biar Ronal yang urus semuanya. Gimana, Dira? Satu hal yang harus kamu ingat, jangan merasa terpaksa atau dipaksakan. Saya juga nggak mau memaksa kamu menikah dengan Ronal, takutnya kamu kecewa. Hanya saja misal kamu setuju, tentu saya akan berterima kasih sekali. Saya yakin kamu akan membawa pengaruh positif buat anak saya Ronal," balas Tuan Martin lagi.
"Atau kamu mau bilang sesuatu, Dira? Mungkin kamu suka dengan orang lain?" Tiba-tiba Mas Hansel menyahut saat aku masih memikirkan ulang baik buruknya perjodohan ini.
"Nadira suka sama siapa, Mas?" Mbak Nadin ikut menyahut.
"Barang kali suka sama laki-laki lain kan? Biar semua jelas. Pernikahan karena terpaksa atau dipaksa nggak bagus juga." Mas Hansel melirikku sekilas lalu menoleh ke arah kakaknya yang masih menatapku tajam.
__ADS_1
"Atau kamu mau istikharah dulu, Nadira?" Seolah tahu kebimbanganku, Tuan Martin kembali memberikan solusi. Namun, Mama kembali mencubit lenganku sembari melirik berkas yang ditandatanganinya tadi. Berkas yang sudah masuk ke tas hitam milik Tuan martin.
"Saya sudah mengambil keputusan yang InsyaAllah terbaik untuk kita bersama kok, Tuan," ucapku tenang. Aku berusaha meredam debar dalam dada yang tak berkesudahan.
mama tersenyum tipis mendengar ucapanku. Tuan Martin pun menganggukkan kepala, sementara dua anak lelakinya menoleh ke arahku bersamaan.
"Jadi, jawabanmu bagaimana, Dira? Setuju atau tidak dengan rencana pernikahan ini?" Juragan kembali bertanya, tak sabar mendengar jawabanku.
Akhirnya kudengar pesan darinya. Dia yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, kini ikut memberikan secuil pesan.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
"Dira, kamu harus ingat pesan mama ya. Jangan menolak perjodohan ini. Kalau memang Tuan Martin ingin kamu dan preman itu segera melaksanakan pernikahan, terima saja. Semakin cepat maka akan semakin lebih baik karena hutang mama juga akan cepat lunas. Maafkan mama, Dira. mama tak bermaksud untuk menjualmu pada mereka, hanya saja ini juga demi masa depanmu juga Dira," ucap Mama sembari menepuk-nepuk lenganku perlahan. Aku masih terdiam di tempat, tanpa menjawab sepatah katapun.
"Calon mertuamu itu orang kaya, Dira. Mama yakin kamu akan bahagia jika menikah dengan Ronal karena tak akan kekurangan uang lagi. Kamu tak perlu capek-capek kerja jika menjadi menantu Tuan Martin. Selama ini Mama cukup prihatin lihat kamu kerja dari pagi hingga sore hanya mendapatkan gaji nggak seberapa. Mama memikirkan masa depanmu juga." Mama menghela napas panjang.
Kulihat dia terdiam sejenak, tapi aku tak berniat untuk menjawab pesan-pesan yang diucapkannya. Kubiarkan Mama menyelesaikan permintaannya dan unek-uneknya. Biar Mama puas menceritakan apapun yang ada dalam benaknya.
Setelah itu, aku akan menjawab semua sesuai isi hatiku. Jika Mama tetap memaksa perjodohan ini, itu berarti Mama memang tak pernah peduli dengan hatiku. Mama egois dan tak mau dibantah. Menganggap semua yang dilakukannya selalu benar, sementara yang lain pastilah salah.
"Mama memikirkan hidupmu ke depan. Bagaimana jika nanti suamimu bukan anak orang kaya, kamu pasti menderita karena selalu kekurangan uang. Kebutuhan dalam rumah tangga itu banyak, Dira. Apalagi setelah kamu punya anak dan mungkin tak bisa mencari penghasilan sendiri.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π