Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
percayalah


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 42


"Nadira bener itu, Mas. Mama juga nggak akan izinin dia keluar malam-malam," sahut Mbak Nadin dengan cepat berharap Mas Hansel membatalkan permintaannya.


"Kenapa nggak boleh? Cuma makan di warung Pak haji doang gak lama juga. Biasanya aku sama kamu juga jalan bakda isya dan ibumu mengizinkan." Mas Hansel beralasan. Aku hanya diam saja, tak ingin ikut berkomentar.


"Itu sama aku bukan sama Nadira mas," ucap Mbak Nadin singkat.


"Kenapa dibedakan? Kalau memang ibumu nggak suka anak gadisnya keluar malam, harusnya kamu dan Nadira juga sama-sama dilarang. Kenapa kamu diperbolehkan, sementara Nadira dilarang?" Pertanyaan Mas Hansel membuat Mbak Nadin terdiam seketika.


"Ayolah, Dira. Sebentar saja gak lama kok. Aku mau bicara penting soal hubungan kita."

__ADS_1


Aku dan Mbak Nadin saling pandang. Dia memelototi ke arahku lalu beralih menatap Mas Hansel yang masih menatapku dengan lekat.


"Hubungan apa sih, Mas? Kita cuma berteman kok dan sebentar lagi kita akan menjadi ipar," balasku kemudian. Kutekan sedemikian rupa debaran dalam dada ku. Aku kembali takut untuk berharap jika semuanya akan percuma dan sia-sia.


"Memangnya kamu suka sama Nadira, Mas? Kalian ada hubungan spesial? Kok selama ini aku nggak tahu. Kenapa juga kamu mendekatiku kalau kamu suka sama perempuan cupu itu!" Mbak Nadin begitu kesal. Dia semakin mencecar Mas Hansel dengan berbagai pertanyaan.


mama yang baru keluar dari kamar mandi pun terburu-buru berjalan ke ruang tamu. Berusaha menenangkan Mbak Nadin yang mulai tersulut emosi.


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut? Malu didengar tetangga mana mau maghrib pula," ucap Mama sembari menatap kami bertiga bergantian. Mbak Nadin masih saja sinis menatapku.


"Bohong, Bu. Mas Hansel mau membicarakan hubungannya dengan Nadira. Aku nggak tahu deh apakah mereka ini cuma sahabatan atau memang sebenarnya pacaran dibelakang kita semua."


"Aku nggak pernah pacaran kok, Mbak," balasku dengan cepat. Tak mau ibu berpikir macam-macam tentangku dan tentang Mas Hansel.

__ADS_1


"Sudah. Sudah. Baiknya Nak Hansel pulang saja soalnya hari juga sudah mulai gelap. Kalau mau ngobrol bisa siang hari," ucap Mama yang menengahi perdebatan diantara kami. Dengan berat hati, Mas Hasel pun pamit pulang.


Dia menatapku beberapa saat sebelum pergi. Tatapan yang membuatku semakin bertanya-tanya, ada apa dengan sikapnya hari ini? Kenapa rasanya berbeda dan tak seperti biasanya?


🌸🌸🌸


"Percayalah, Dira. Aku mendekati Nadin supaya mama tak curiga jika sebenarnya aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku pura-pura tak menyukaimu dan lebih menyukai Nadin supaya penyakit mama tak kambuh lagi. Aku sangat menyayangi mama, tapi aku juga menyayangimu, Dira. Percayalah."


Mas Hansel terlihat begitu memohon agar aku mempercayai ucapannya. Tatapannya begitu tajam. Aku tahu kapan dia bercanda dan kapan dia serius saat berbicara dan aku yakin jika saat ini dia tak sedang berdusta.


"Dira ...." Mas Hansel kembali memanggilku. Aku mendongak sesaat lalu menundukkan kepala ku lagi sebab tak ingin beradu pandang dengannya. Aku takut ada syetan yang menjeratku lewat binar matanya yang sendu itu.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku bukan Rahim Cadanga gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2