Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Teganya


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


"Lihat anak Mama itu. Belagu banget baru punya duit segitu. Duit segitu cuma dua bulan gajiku, Dira! Dua bulan, ingat itu. Jadi, buat apa aku pakai duit dari calon suami brandalanmu itu!" sentak Mbak Nadin kemudian. Mama mendadak terdiam, entah apa yang ada dalam benaknya saat ini.


"Gajimu dua bulan itu sepuluh juta, Nat? Bukannya kamu bilang cuma tiga jutaan saja dan selalu mepet tiap bulan makanya nggak bisa ngasih bulanan buat Mama. Tapi kok sekarang bilang kalau gajimu--


Mbak Nadin tersentak kaget mendengar ucapan Mama. Mungkinkah selama ini dia pura-pura memiliki gaji tiga jutaan saja supaya Mama tak minta jatah darinya padahal gajinya lima juta?


Jika memang begitu, teganya Mbak Nadin pada Mama, padahal Mama sering kali mengeluh nggak punya uang tapi dia tetap saja pura-pura tak tahu dan tak mendengar.


"Eh, nggak, Ma. Tiga jutaan kan gajinya," balas Mbak Nadin gugup.


"Kalungku patah begini, kalau ditanya Mas Ronal atau Tuan Martin gimana, Ma?" Kubolak-balik kalung dengan liontin yang patah itu di tanganku.

__ADS_1


"Bilang aja nggak sengaja ketarik saat mimpi atau apa kek! Masa gitu aja mesti diajarin sih, Dira?!" sentak Mbak Nadin kemudian.


"Kamu yang rusakin, Mbak bukan aku. Aku nggak mau bohong, nanti kalau ditanya ya kujawab aja kalau kamu yang pinjam terus patah," sahutku lagi.


"Kamu mau mereka membatalkan acara pernikahan ini? Mereka akan nuduh kita ceroboh dan curiga macam-macam. Apa itu yang kamu mau, Dira? Lebih baik sebelum kamu dan preman itu sah menikah, lebih baik nggak usah banyak tingkah. Ikuti saja kemauan mereka, jangan bersikap aneh-aneh apalagi membuat mereka tak menyukai keluarga kita. Sudah untung mereka mau menjadikanmu bagian dari keluarga, nggak pandang miskin, pendidikan atau kecantikan. Kamu harusnya bersyukur, Dira. Jangan banyak drama!" Mama kembali menyahut panjang lebar.


"Bawa saja ke tukang mas di pasar, mereka juga tahu caranya benerin perhiasan yang patah begitu. Ribet banget cuma patah doang," sambung Mbak Nadin sembari beranjak ke kamar mandi.


***


"Bagus banget kalungnya, Ma? Berapa harganya?" Kudengar suara Mbak Nadin dari kamarnya. Aku yang baru saja pamit keluar untuk ke pasar tiba-tiba balik ke rumah karena handphoneku ketinggalan di kamar.


"Jangan berisik. Nanti Dira dengar," sahut Mama kemudian.

__ADS_1


"Dia kan sudah pamit ke pasar, Ma. Mau benerin kalungnya yang murahan itu."


"Iya juga ya? Mama sampai lupa. Kalung ini harganya lima juta, Nat. Jangan sampai patah apalagi hilang. Mama juga beli, cuma tiga jutaan," ucap Mama lagi.


"Cantik juga punya Mama, tapi masih cantik punyaku sih."


"Jelas iya, sengaja Mama pilihkan yang cantik buat anak Mama yang cantik ini," puji Mama lagi. Tawa mereka kembali terdengar.


Aku menghela napas panjang. Sejak dulu, Mbak Nadin selalu dihujani perhatian, cinta dan kasih sayang oleh Mama. Apapun yang dia inginkan, akan selalu Mama usahakan. Sikap Mama pada Mbak Nadin sungguh bertolak belakang dengan sikapnya padaku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2