
Menikahi Bos Mafia
Aku mulai berjalan perlahan karena takut akan jatuh, sepatu high heels ini benar-benar sudah membuatku tak nyaman, rasanya ingin sekali ku ganti dengan sendal jepit saja.
Detik ini aku tak sengaja beradu oandang dengan mas Ronal yang sudah duduk di samping papanya. Dia terlihat sangat cukup kaget dengan kedatangan ku lalu kembali mengalihkan pandanganya setelah senyum tipis terlukis di bibirnya.
Dua orang saksi pun sudah siap duduk di sampingnya, sementara seorang laki-laki yang tak kukenal duduk tenang di depan mas Ronal yang di pisahkan oleh meja kecil. Dan yang aku yakini beliau adalah penghulunya yang juga akan bertugas menjadi wali hakimku sekarang.
Detik ini juga hati mulai kembali terasa perih, andaikan papa masih ada pasti beliau lah yang akan duduk di sana dengan gagahnya. Beliau yang akan menjabat tangan calon menantunya saat akan mengucapkan janji suci itu di hadapan yang maha kuasa. Bukan laki-laki yang saat ini menjadi pengganti papa, iya andaikan papa masih ada tangis bahagia akan mengisi hati kami berdua.
Tak seperti saat ini yang hanya ada mama dan mbak Nadin yang begitu acuh dan biasa-biasa saja saat menyaksikan detik-detik momen kebahagiaan ku. Tak adakah rasa bahagia di hati mama dan mbak Nadin melihat ku seperti ini? Mungkin kah benar kasak kusuk yang sempat ku dengar tadi dari beberapa tetangga bahwa aku sebenarnya bukan lah anak kandung mama?
__ADS_1
Aku dan mama duduk di samping bunda yang sudah diriasi sangat cantik dan anggun dengan busana kebaya yang berwarna coklat muda. Senyumnya yang sangat begitu tulus membuat hati ku kembali tenang dan nyaman. Setelah bersalaman dengan mama bunda kembali menatap ku.
"Aduh cantik banget calon menantu bunda. Ronal sampai tak berkedip saat melihat kedatangan mu tadi, Dira. Bunda sangat yakin pasti dia sangat terpesona saat melihat kecantikan kamu.". Bisik bunda di telinga ku, yang membuatku tersenyum kembali.
Bunda memang sangat sering sekali memujiku. Padahal bunda tau aku sangatlah pemalu. Namun bunda tak bosan-bosanya untuk menggodaku dengan pujian-pujian dan godaannya itu.
"Pengantin perempuan dan juga saksi sudah siap, apakah akad nikah ini bisa kita laksanakan sekarang?" penghulu mengedarkan pandangan ke. Arah mas Ronal,tuan Martin hingga para tamu yang hadir.
"Giaman mas Ronal? Apakah sudah siap? Tanya penghulu lagi, mas Ronal pun mengiyakan dan membenarkan duduknya.
Mungkin kah dia sangat begitu frustasi dengan pernikahan ku hari ini? Apakah dia tak berniat hadir disini dan menyaksikan kakaknya mengucapkan janji suci akad nikah yang begitu sakral untuk setia porang?
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kita mulai sekarang ya?" penghulu kembali menoleh ke arah mas Ronal dan para saksi.
"Para saksi-saksi sudah siap?"
"Siap pak."
"Baiklah kalau begitu kita lakukan akadnya sekarang." ucap penghulu sembari mengulurkan tangan kananya. Mas Ronal Ronal pun segera menjabat tangan penghulu sembari menghela nafas panjang.
Ku pejampan mata perlahan untuk mengurangi rasa debaran dalam dada yang semakin lama kurasakan semakin cepan degupanya.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku bukan Rahim cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..