
Menikahi Bos Mafia
"Aku sudah patuh pada Mama untuk menerima perjodohan ini, tapi kenapa saat aku mendapatkan hadiah spesial dari calon suamiku, aku kembali harus mengalah demi Mbak Nadin? Kalau begitu, Mbak Nadin saja yang menikah dengan Mas Ronal!" Aku kembali memberikan jawaban. Jawaban yang justru membuat Mama semakin meradang dan tak terima.
"Nadin? Kamu suruh nikah sama preman itu? Kamu nggak buta kan, Dira? Memangnya nggak ada lelaki lain yang jauh lebih baik daripada dia untuk kakakmu?!" sentak mama membuatku terdiam seketika.
"Jangan perhitungan sama saudara sendiri. Nadin bilang cuma pinjam kalung itu, bukan minta. Tenang saja, nanti juga dibalikin kalau sudah bosan!" Mama pergi meninggalkanku begitu saja. Kuhapus sudut mata yang basah.
Rasanya benar-benar tak betah tinggal di rumah ini. Aku ingin segera pindah dari sini. Semoga saja dugaan dan ketakutanku tentang Mas Ronal selama ini tak benar dan aku akan mendapatkan cinta tulus darinya. Setidaknya, dia bisa membawaku keluar dari rumah penuh luka dan nestapa ini.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali tumben Mbak Nadin sudah bangun. Biasanya dia selalu telat. Entah salat subuh entah nggak, aku pun tak tahu. Dulu, tiap kali aku bangunkan dia,mama selalu melarang. Alasannya kasihan kalau mengantuk saat di kantor nanti.
Tak hanya melarang, tapi Mama juga memintaku untuk tak terus mengurusi hidup kakakku itu. Mama ingin aku membenahi hidupku sendiri yang katanya lebih berantakan.
Iya, berantakan hanya karena gajiku tak jauh lebih besar dibandingkan gaji Mbak Nadin. Mama seolah lupa, bagaimana mungkin gaji karyawan lulusan SD dibandingkan dengan sarjana?
"Kalau kamu ngantuk saat kerja juga tinggal ngumpet di pojokan rak dan tidur di sana. Sementara Nadin? Dia kerja di lingkungan yang punya CCTV dan selalu diawasi atasan, kalau ngantuk di jam kerja bisa dipecat. Cari kerja nggak mudah, apalagi dengan gaji besar seperti sekarang, jadi performa Nadin harus tetap terjaga. Nggak boleh asal saja. Jadi, jangan ganggu dia apalagi di pagi buta seperti ini!" ucap Mama lagi.
"Tapi kewajiban muslim itu salat subuh, ma. Kalau bangun jam enam pagi jelas telat subuhnya," balasku kemudian.
__ADS_1
"Jangan sok ngatur! Memangnya dengan salat lima kali sehari menjamin masuk surga?" sentak mama membuatku terkejut seketika.
"Tak ada yang bisa menjamin, Ma. Tapi yang pasti kita sudah berusaha menjalankan kewajiban, memenuhi perintahNya. Surga neraka biarlah itu menjadi urusanNya. Aku menyayangi Mbak Nadin, makanya berusaha mengingatkan dia tentang salatnya. Kalau nggak sayang, masa bodoh dia mau ngapain juga, Ma." Saat itu aku mulai terisak. Sepertinya, apapun yang kulakukan selalu salah di mata Mama dan Mbak Nadin.
"Lebih baik kamu tak mencampuri urusan kakakmu. Dia jauh lebih mengerti tentang hidupnya sendiri dibandingkan kamu. Urus saja surga dan nerakamu sendiri! Jangan sok suci!"
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1