
Kenan mengangguk dan meraih ponselnya untuk menghubungi Axe. Untung saja Axe mengangkat telfonnya, karna kalau tidak entah apa yang terjadi setelah ini.
Sudah satu minggu ini Axe direpotkan tiap malam oleh Kenan karna permintaan istrinya. Setiap malam dini hari Thalita selalu terbangun karna lapar, dan Axe lah yang selalu jadi sasarannya, yang lebih Axe kesal lagi ia harus mencari makanan yang Thalita mau. Terkadang kekesalannya bertambah saat sampai dirumah Kenan Thalita sudah tidur, hingga ia merasa sia sia sudah mencari makanan itu.
Ueekkk... uekkk...
Pagi jam menunjukkan pukul 6 pagi, Kenan terbangun karna rasa mual diperutnya. Thalita yang mendengar suara suaminya itu langsung bangun dari tidurnya dan menghampiri suaminya.
"Sayang.. kamu kenapa?" tanya Thalita
"Perutku mual, mau muntah tapi tidak ada yang keluar" jawab Kenan dengan suara yang lesu.
Ueekk...ueekkk...ooeekk..
Thalita memijat tengkuk suaminya berharap bisa memberikan sedikit rasa nyaman.
Wajah Kenan terlihat sangat pucat dan tubuhnya lemas, membuat Thalita tak tega melihatnya.
"Duhh..kita kedokter aja yuk.. muka kamu pucet banget tuh" ujar Thalita sambil membersihkan mulut suaminya denga tisu.
Kenan menggelengkan kepalanya menolak ajakan istrinya untuk ke dokter. Tubuhnya benar-benar tak mampu untuk berjalan.
"Aku tidur saja, badanku lemas" ucap Kenan, Thalita mengangguk dan membantu Kenan untuk berjalan menuju ranjangnya menyelimutinya.
"Kamu jangan kemana-mana, temani aku disini" Kenan menahan tangan istrinya dan meminta berbaring bersamanya
"Aku ngga kemana-mana kok, cuma mau ke toilet" ucap Thalita dengan lembut sambil melepaskan tangannya, namun sang suami enggan melepaskan tangannya.
"Sayang.. temani aku. Kumohon, aku butuh kamu" ucap Kenan dengan wajah yang memelas
"Iya sebentar ya..aku mau pipis" jawab Thalita kemudian mengecup kening suaminya agar ia lebih tenang.
"Sayang..kemarilah. Jangan tinggalin aku" kenan semakin menarik tangan Thalita
"Ya Tuhan Kenan, aku mau pipis. Bodo ahh aku kebelet" ujar Thalita lalu menarik paksa tangannya hingga terlepas.
"Sayang..." panggil Kenan. Suaranya terdengar seperti rengekan anak kecil saat ditinggal Ibu nya.
Seminggu sudah berlalu, kehidupan Kenan dan Thalita masih sama. Thalita yang masih terbangun dimalam hari karna lapar dan Kenan yang setiap pagi mual mual bahkan Kenan sekarang nampak lebih kurus dan wajahnya juga pucat.
Tak jarang juga ia marah-marah tidak jelas, dan lagi-lagi yang menjadi korbannya adalah Axe.
Ueekkk... uekkk...
__ADS_1
Kenan berlari ke toilet yang ada diruangannya saat Axe datang dan masuk keruangannya.
"Bos.. sepertinya kau masih sakit, kenapa tidak istirahat saja dirumah" ucap Axe
Axe menghampiri Kenan berniat ingin membantu Bossnya, namun tangan Axe ditepis oleh Kenan.
"Diam kau!! ini semua gara-gara aroma tubuhmu yang bau"
"Aku? Bau?" tanya Axe, lalu ia mengangkat tangannya dan mencium dirinya sendiri, kanan dan kiri.
"Wangi kok, tidak ada yang bau. Malah wangi parfum"
"Kalau begitu ganti parfum mu, sungguh bau nya tidak enak membuatku mual. Apa kau sudah tidak punya uang sampai parfum abal abal yang kau pakai?"
"Abal abal apa maksudnya? Lagipula puluhan tahun aku bersama mu, dan aku tidak pernah ganti parfum"
"Sudah...jangan banyak ngomong. keluar sekarang, dan ganti bajumu itu, kau benar benar membuatku ingin muntah" perintah Kenan.
Dengan kesal Axe keluar dari ruangan Bosnya dan bertemu dengan Tika sang sekertaris.
"Hey..Tika. Apa itu abal abal?" tanya Axe.
"Abal abal itu artinya sama dengan palsu Pak" jawab Tika
"Apa?? Palsu?? Kurang ajar sekali Bos mu itu" ucap Axe dengan kesal sambil berjalan berlalu meninggalkan Tika yang terheran melihat tingkah Axe.
"Lo ngga makan Thal?" tanya Winda
"Ngga ahh. Bosen, itu itu lagi makanannya" jawab Thalita
"Halahhh...bosen. ntar ujung-ujungnya minta ma gw awas lo yaa.." ucap Safira, namun Thalita hanya cengengesan memamerkan giginya.
"Tau ihh..lo ngapa sekarang celamitan banget si Thal?" tanya Winda
"Ngga tau yaa.. ngiler aja gitu ngeliat mereka makan jadinya gw pengen" jawab Thalita
"Ya kan bisa beli Thal yang sama kaya gitu" sambung Safira
"Kalo beli pasti beda rasanya" jawab Thalita lagi.
Winda dan Safira saling tatap jengah setelah mendengar jawaban Thalita. Pikir mereka selagi yang jual sama pasti rasa juga sama.
__ADS_1
Dirumah sakit Axe terlihat panik sedang menelfon seseorang. Saat ini ia berada di IGD menunggu pemeriksaan Dokter.
"Axe, Kenan kenapa?" tanya Thalita.
"Tadi Bos pingsan setelah meeting, saya belum tau kenapa. Kita tunggu saja Dokter sedang memeriksanya" jawab Axe
Saat dikampus tadi Thalita di telfon Axe bahwa Kenan pingsan, wajahnya pun sangat pucat sehingga Axe langsung melarikannya kerumah sakit. Thalita nampak gusar memikirkan apa yang terjadi dengan suaminya saat ini. Ia hanya bisa menangis disamping sahabatnya.
"Udah Thal, yang sabar dulu ya Kenan juga lagi diperiksa Dokter" ucap Winda yang mencoba menenangkannya.
"Iya Thal, lagian lo lebay banget si, laki lo kan cuma pingsan nangisnya ampe kaya gitu banget" ucap Safira. Karna memang Thalita jarang sekali menangis bahkan ia bisa dibilang tak pernah menangis, ia selalu tegar menghadapi apapun.
"huuuaaa....huaaaaa..... lo ngga ngerti si.. hahhaa..." tangis Thalita bertambah saat mendengar ucapan Safira.
Dokter Wildan yang kebetulan lewat setelah ada pemeriksaan pasiennya melihat Thalita yang sedang menangis.
"Thalita.. ada apa" tanya Dokter Wildan yang ikut panik saat melihat Thalita menangis seperti itu.
Dokter Wildan yang semula Dokter yang menangani Thalita saat kecelakaan pada saat itu kini sudah seperti teman, karna ternyata Ayah Dokter Wildan adalah rekan bisnis Bayu Ayah Thalita.
"Dokter Wildan, huaaa.... Kenan dok, kenan pingsan" jawab Thalita tangisnya semakin pecah saat menjawab pertanyaan Wildan.
"Oh pingsan, aku pikir kecelakaan" jawab Wildan dengan suara terendah namun masih terdengar oleh Thalita.
"apa sih dokter nih..malah nyumpahin kecelakaan" ujar Thalita
"Bu bukan nyumpahin..tapi.." ucapan Dikter Wildan terhenti saat melihat Winda yang memberikan kode untuk diam.
"Ahh yaudah Aku minta maaf ya..udah kamu jangan nangis lagi kita tunggu apa kata dokter" ucap Dokter Wildan sambil menghapus air mata Thalita, memberikan ketenangan.
Ingin sekali Dokter itu memeluknya, karna ada rasa perih saat melihat wanita yang ia sayangi menangis seperti itu. Yaa sebenarnya Wildan menyukai Thalita. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Thalita adalah cinta lokasinya dan cinta pertamanya.
Dokter yang memeriksa Kenan akhirnya keluar membuat Thalita dan Axe langsung berhambur menghampiri Dokter itu.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Axe
"Hemm...untuk sementara pasien harus dirawat. Apa ada anggota keluarganya disini?"
"Saya dok, saya istrinya. Suami Saya kenapa Dok?"
"Baik, begini Bu, Saya belum bisa mendiagnosa apa-apa, untuk itu Pasien harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut karna dari gelajalanya sepertinya itu tanda tanda kehamilan" jawab Dokter
"Hahh!!! Hamil" ucap semua yang ada disitu secara bersamaan. karna terkejut mendengar pernyataan Dokter itu.
"Mak-maksudnya Bos Saya hamil Dok?"
__ADS_1