
Malam ini Kenan masih setia menemani Thalita di Rumah sakit.
Ceklek... terdengar suara pintu, terlihat dokter tampan bersama dua orang suster memasuki kamar melangkah menghampiri Thalita.
"Ehh... ada Dokter" senyum sumringah Thalita menyapa Dokter itu.
Kenan yang melihat ekspresi wajah Thalita begitu geram, dia terlihat kesal karna Thalita mengaggumi ketampanannya.
Yaa Dokter itu memang masih muda dan tampan, walaupun ketampanannya masih lebih tampan Kenan namun tetap saja kekaguman Thalita membuat Kenan cemburu.
"Selamat malam Nona cantik... bagaimana keadaanmu sekarang, lebih baik kah?" sapa Dokter kepada Thalita
"Baik dong Dok, apalagi ada Dokter disini" jawab Thalita sambil melirik kearah Kenan. Thalita sengaja menggoda Dokter itu untuk memanasi Kenan.
"Heyy...apa-apaan kamu ini. Dasar ganjen" ujar Kenan kesal. Lalu melanjutkan ucapannya
"Sudah Dok, jangan lama-lama.. periksa cepetan bagaimana kondisinya sekarang, ngga usah banyak basa basi" tegasnya
"Hahah...baik baik" jawab Dokter itu dengan tertawa renyahnya.
Kenan masih menahan cemburunya saat melihat Dokter itu menempelkan stetoskop didada Thalita, lalu beralih keleher Thalita. Dokter membuka Cervical Collar lalu meminta Thalita untuk menengok kekanan dan kekiri secara perlahan.
"Bagaimana? Apa sakit?" tanya Dokter sambil memegang tengkuk leher Thalita.
Kenan semakin kesal dibuatnya dan bergumam dalam hatinya
"Begitu saja pakai acara pegang-pegang leher segala..."
"Sakitnya kalau mendongak keatas Dok, kalau tengok kanan kiri sih udah ngga sakit"
"Bagus.. Saya pasang sekali lagi yaa, besok kita cek lagi.. sepertinya besok sudah bisa dibuka"
"Yess.... aku udah ngga betah Dok, kaya dipasung ngga bisa bergerak"
"Hemm...sabar yaa"
__ADS_1
Dokter itu berbicara sangat lembut kepada Thalita dan bibir yang yang selalu tersenyum. Sebenarnya memang itu sudah bagian dari tugas seorang Dokter memberikan kenyamanan kepada Pasiennya. Namun Kenan melihatnya tidak suka, menurutnya itu hanya akal-akalan sang Dokter untuk menggoda Thalita.
"Dok, sudah belum periksanya? Kalau belum lanjutkan kalau sudah cepat keluar.. jangan banyak basa basi"
"Hahaha...baiklah kalau begitu. Pemeriksaan sudah selesai, untuk tangannya besok saya akan coba untuk melepaskan arm slingnya dan menggerakan perlahan, kalau masih sakit masih harus dipakai arm sling. Untuk kakinya setelah 2 minggu kita akan melakukan rontgen ulang" Dokter menjelaskan.
Kali ini Kenan mendengarkan dengan serius penjelasan dari Dokter itu. Begitu juga dengan Thalita. Setelah selesai Dokter itu pamit namun ada hal yang membuat Kenan kembali dibakar api cemburu.
"Baik kalau begitu, Saya permisi dulu. Selamat malam nona, mimpi yang indah yaa..." ucap Dokter kepada Thalita sambil melemparkan senyuman manisnya.
"Malam juga Dok. Mimpiin dokter boleh ngga" ledek Thalita
Dokter membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Sedangkan Kenan yang mendengar itu langsung melotot, raut wajahnya terlihat marah karna cemburu.
Kenan membukakan pintu dan mempersilahkan Dokter untuk keluar, tentu saja tujuannya adalah agar Dokter itu segera keluar. Kenan menutup pintunya kembali dan menguncinya setelah Dokter itu keluar.
"Dasar ganjen" ujar Kenan kepada Thalita. Dia sangat terlihat Kesal. Sedang Thalita yang melihat sikapnya tertawa geli. Rasanya senang sekali menggoda kekasihnya itu.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" tanya Kenan kesal
"Happy?? Happy ketemu sama Dokter itu? Atau Happy karna dipegang-pegang sama Dokter itu Hahh??" ujar Kenan yang sangat geram.
"Dua-duanya..heheh.. oiya sama satu lagi. Mimpiin dia" ledek Thalita lalu dia memposisikan dirinya untuk tidur
"Geser" Kenan ikut berbaring diatas ranjang Thalita
"Ehh... kok tidur disini sih..biasanya juga disofa"
"Mulai malam ini aku akan tidur disini, disampingmu, supaya kamu ngga bisa macem-macem lagi kalau Dokter itu datang"
"Ishhh...sempit tau..awas aja kalau kena tangan gw"
Mendengar kata "gw" Kenan menjadi teringat sesuatu. Dia teringat Thalita berbicara dengan Dokter itu dengan bahasa "Aku".
"Mulai detik ini aku ngga mau dengar lagi kamu bilang "gw" dan "lo" pakai "aku" dan "kamu" ngerti?? "
__ADS_1
"Hahh!!!....emm..gw ngga mau"
Mendengar jawaban Thalita Kenan langsung bangun dan duduk dengan wajah menghadap ke wajah Thalita.
"Kenapa ngga mau?" tanya Kenan
"Yaa aneh aja, ngga bisa gw"
"Tadi aku dengar kamu ngomong sama Dokter itu pakai kata "aku" kenapa sama dia bisa sama aku ngga?" Ujar Kenan kesal.
"Ooh yaa bedalah.. dia kan...(mikir sejenak) ahh..pokoknya gw.." belum selesai Thalita bicara ucapannya terhenti karna Kenan membungkam mulutnya dengan mencium bibirnya.
"Apaan si..gw lagi.." Kenan mencium bibirnya lagi saat Thalita belum menyelesaikan ucapannya.
"Ken..."
"Mulai sekarang, setiap aku dengar kamu bilang "gw" atau "lo" aku akan menciummu sebagai hukumannya" ucap Kenan dengan senyum liciknya
"Oh..oke. Gw akan..." kenan menciumnya lagi kali ini hingga lama
Sebenernya Thalita sudah hampir kehabisan nafas, namun karna Cervical Collar dilehernya itu membuat Thalita tidak bisa bergerak. Thalita hanya bisa pasrah dengan perlakuan kekasihnya itu.
"Udah dong... gu..aku ngantuk" hampir saja Thalita keceplosan.
"Oke.. ayo kita tidur" Kenan pun berbaring di samping Thalita dengan posisi miring menghadap Thalita.
Setelah ada drama perdebatan kecil karna Kenan yang tidak bisa diam, akhirnya mereka pun terlelap dengan posisi Kenan yang memeluk Thalita.
Ini pertama kalinya bagi Thalita tidur bersama laki-laki yang memeluknya. Sejujurnya Thalita gugup jantungnya berdebar namun disisi lain Thalita juga sangat senang, pelukan Kenan memberi kehangatan dan kenyamanan untuk tubuhnya dan hatinya.
.
.
...----------------...
__ADS_1