
Thalita masuk kedalam rumahnya sambil senyum yang mengembang penuh kebahagiaan.
"Ayaaah... lita pulang" teriak Thalita
"Ehh...Non Lita udah pulang" sambut Bi Een
"Iya Bi. Ayah kemana Bi?"
"Ada Non diruang kerjanya"
"Ooh... yaudah Lita susulin Ayah dulu ya"
"Kok tumben...biasanya paling ogah kalo disuruh keruang kerja" ucap Bi Een
"Hehehe....Lita lagi seneng Bi"
Thalita melangkah keruang kerja Ayahnya. Dia ingin berbagi kebahagiaannya hari ini.
Thalita yang melihat pintu ruang kerja Ayahnya sedikit terbuka itupun ingin segera masuk dan memeluk Ayahnya
Namun belum sempat Thalita membuka pintu itu dia mendengar Ayahnya sedang berbicara.
"Ayah ngomong sama siapa ya?" gumam Thalita
Perlahan Thalita membuka pintu itu. Diruang kerja tampak Bayu sedang asik berbincang. Entah dengan siapa Bayu berbicara namun raut wajahnya menunjukkan kerinduan.
Bayu yang membelakangi pintu itu tidak mengetahui kedatangan Thalita. Thalitapun semakin bergerak maju. Dia ingin memberikan kejutan kepada Ayahnya dengan memeluknya.
Namun Thalita begitu terkejut saat mendengar apa yang Ayah bicarakan.
"____"
"Iya Sayang... tolong bersabarlah sedikit lagi. Setelah Thalita menikah aku akan membicarakannya..dan kita akan hidup bahagia" ujar Bayu kepada seseorang ditelfon itu
Thalita terkejut hingga menutup mulutnya mendengar Ayahnya meyebut sayang kepada orang disebrang sana.
"______"
"Jangan khawatir Sayang...secepatnya aku akan menikahimu. Tunggulah sampai Thalita menikah"
"_____"
"Aku mencintaimu Vina percayalah... aku hanya butuh waktu... sedikit lagi kita akan hidup bersama. mengertilah.."
"A-ayah..." lirih Thalita
Tak terasa matanya mengeluarkan air mata. Nafasnya menjadi sesak karna menahan amarah.
"Ayah...siapa dia? Apa dia perempuan itu? tanya Thalita dengan tatapan yang membidik.
__ADS_1
"Sayang...." panggil Bayu
"Jawab Ayah !!!" teriak Thalita
"Iya. Dia tante Vina" jawab Bayu sedikit menekan suaranya
"Jadi ini alesan Ayah pengen Lita cepet-cepet nikah. Supaya Ayah bisa menikah sama dia..? jadi selama ini Lita cuma penghalang buat Ayah ???
"Sayang Ayah akan jelasin tapi kamu tenang dulu yaa.."
"Ngga perlu !!! Ayah udah ngga butuh Lita lagi kan?? Ayah pergi aja sana, pergi ke orang yang Ayah cintai itu"
"Ngga gitu sayang...sampai kapanpun kamu segalanya buat Ayah. Ayah mau kita hidup bahagia bersama"
"Bohong...Ayah bohong kan. Ayah pengen Lita cepet-cepet nikah supaya Ayah bisa usir Lita dari rumah ini dan membawa pulang perempuan itu kerumah ini, iya kan???.....Ayah Jahat..!!!!!"
"Sayang dengar penjelasan Ayah dulu, kamu salah paham.. sayang..?
Thalita pergi kekamarnya dan mengambil kunci motor dan helmnya, tak lupa dia memakai jaketnya. Sambil menangis dia pergi keluar meninggalkan Bayu yang masih menahannya untuk tidak pergi.
"Sayang kamu mau kemana?"
"Bukan urusan Ayah.. toh sebentar lagi juga Lita akan pergi dari rumah ini.."
"Astaga !!! ngomong apa sih kamu.. lita berhenti..ini salah paham sayang.. Litaa!!!.."
"THALITA !!!!..." teriak Bayu namun Thalita tetap pergi
Thalita datang kebasecamp tempat dia dan teman-temannya berkumpul, dia mencari Revan. Yang dia butuhkan saat ini adalah Revan.
Thalita menghampiri Revan yang sedang duduk sendiri sambil minum minuman kaleng ditangannya lalu duduk disebelahnya. Kemudian Thalita menyandarkan kepalanya dipundak revan.
"Van.. lo marah ya sama gw? tanya Thalita
"Menurut lo???" jawab Revan datar dan menenggak minuman kalengnya
"Gw bener-bener minta maaf Van" Thalita meneteskan air matanya dengan kepala yang masih bersandar dipundak Revan
Revan hanya diam, Revan masih sangat kecewa dengan Thalita. Rasanya dia ingin marah semarah-marahnya, namun dia tidak bisa.
"Van...gw mau cerita" lirih Thalita
"Mo cerita apa?? Tentang perjodohan lo? Hehh....gw udah tau kali.." ketus Revan
"Bukan.. Gw lagi ada masalah.." lirih Thalita namun tak digubris oleh Revan
"Paling lo lagi ada masalah sama calon suami lo itu, daripada makin sakit hati gw mending gw cabut aja" ucap Revan dalam hati
Thalita melepaskan sandarannya dari pundak Revan. Matanya masih menggenang air mata yang belum jatuh kepipinya. Dengan menahan tangisnya Thalita mencoba bicara dengan Revan berharap bisa melepaskan sedikit bebannya malam ini.
__ADS_1
"Van... gw harus gimana? Gw..." ucap Thalita, namun ucapan Thalita terpotong oleh Revan hingga dia tak dapat melanjutkan ucapannya
"Thal, sorry... gw cabut dulu. Gw lagi ada urusan" ucap Revan berbohong.
Revan bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Thalita. Namun sebelumnya Thalita mencoba menahannya dengan menarik tangan Revan hingga Revan terhenti.
"Van...gw butuh lo saat ini Van, Gw bener-bener kalut Van" ucap Thalita dengan wajah sendu dan pipi yang basah karna air mata.
Revan yang melihat sebenarnya tak tega, hanya saja dia juga tidak mau hatinya tambah sakit karna mendengar kisah Thalita dengan Kenan.
Yaa Revan berfikir Thalita ingin bercerita masalahnya dengan Kenan. Revan pun lebih memilih untuk pergi daripada mendengerkan cerita Thalita yang pastinya akan semakin membuat sakit hatinya.
Revan terdiam sejenak, dia tak bisa berkata apa-apa. Kemudian Revan melepaskan tangan Thalita dan mengusap kepala Thalita setelah itu pergi meninggalkannya.
Thalita hanya bisa diam melihat kepergian Revan. Hatinya semakin hancur saat ini. Orang yang dia butuhkan saat ini pergi meninggalkannya.
Thalita tertunduk dengan kepala bertumpu dilututnya dan tangan yang memeluk kedua kakinya yang ditekuk.
Dia menangis sejadi-jadinya. Teman-temannya yang ada ditempat tongkronganya itupun menjadi khawatir mendengar isak tangis Thalita.
Tidak biasanya mereka melihat Thalita menangis, apalagi sampai terisak seperti itu. Salah satu temannya menghampiri mencoba menenangkannya.
"Thal, gw bukan mau tanya lo kenapa dan apa masalah lo.. tapi setiap orang pasti punya masalah bisa jadi kita salah satu orang yang masih beruntung dibanding mereka. Jangan ditahan Thal, nangis aja supaya lo bisa tenang. tapi..jangan berlarut-larut.. lo juga harus bangkit. Lo ngga sendiri Thal, ada gw temen-temen lo disini semua sayang sama lo Thal.." ucap Rio
Diantara teman-teman Thalita, Rio adalah orang kedua yang sangat dekat dengan Thalita setelah Revan
Mendengar ucapan temannya itu Thalita langsung menangis histeris, dia luapkan amarahnya dengan tangisnya. Rio mengusap punggung Thalita setelah itu pergi meninggalkan Thalita memberinya kesempatan untuk sendiri.
Ayah...kenapa Yah. Apa Ayah udah ngga sayang Lita lagi.. hiks..
Ibu... Ibu Ayah jahat hiks..hiks...
Ternyata selama ini Ayah menganggap Lita sebagai penghalang anatar Ayah dan tante Vina hiks...hiks..hikss.....
Lita kangen Ibu.. hiks..hikss..huhuhuuuuuu.....
"AYAH JAHAT......HUHUUUUUU......" Thalita berteriak sekencang-kencangnya dan menangis histeris.
Suaranya sampai terdengar teman-temannya. Teman-temannya merasa khawatir, mereka ingin menhampiri Thalita namun ditahan oleh Rio.
"Lo gimana si.. lo ngga denger tuh Thalita teriak-teriak sambil nangis kenceng gitu...
"Tau lo yo.. ngga khawatir apa lo ma dia..
"Yaa khawatirlah.. gw yakin ngga akan terjadi apa-apa.. lo pada tenang aja, dia cuma butuh sendiri buat nenangin pikirannya..." ucap Rio
Teman-temannya menatap Rio kesal.
"Udah Brooo... santuy aja.. percaya ma gw. Bentar lagi juga dia keluar..." Rio mencoba menenangkan teman-temannya itu.
__ADS_1
"Kalo dia sampe ngga keluar gw abisin lo...!!!!" ancam salah seorang temannya.