
Sore itu Thalita, Safira, Kenan dan Axe mengunjungi Cafe. Saat sampai diCafe Safira masuk terlebih dahulu ia membuka pintu Cafe berniat mencari tempat duduk untuk mereka, namun ia melihat Winda dan Revan sedang saling tatap dengan wajah yang tegang.
"Windaaaaaa....."
Safira berteriak memanggil Winda membuat Revan terkejut dan tak dapat melanjutkan ucapannya tadi.
Begitupun dengan Winda yang tak kalah terkejutnya. Ia menjadi salah tingkah karna ia pergi diam-diam.
"Ya ampun Win, gw nyariin lo ngga taunya lo disini" ujar Safira, namun Winda hanya membalas dengan sedikit tawanya menutupi rasa bersalahnya.
"Kok gw ngga diajak si?" tanya Safira
"Gw ngajak kok waktu lo masih dikamar mandi, tapi lo nya diem aja" jawab Winda
"Masa sih... mungkin suara keran kali ya jadi ngga denger. Ehh...tapi kan gw berendem di bathup ngga ada suara deh.." ucap safira, namun ia terdiam setelahnya memikirkan seperti ada yang aneh karna ia tidak merasa menyalakan keran.
"Udah jangan ngomong mulu, duduk. Ngga aus apa lo" ujar Thalita yang sudah duduk dikursinya bersamaan dengan Kenan dan Axe. Safira pun menarik kursi dan mendudukinya.
"Btw... lo pada ngapain disini berduaan kaya orang pacaran" tanya Thalita
"Oh..anu..emm.." Winda gugup seakan lupa mau jawab apa
"Makanlah, mau ngapain lagi emang?" sambung Revan
"Tapi gw liat tadi muka lo berdua tegang banget, lo liat kan Thal tadi.. kalian ada masalah. cerita doong gw pasti bantuin kok"
Winda dan Revan diam hanya saling melempar pandangan sesaat. Sedangkan Thalita dan Safira menatap mereka seakan-akan menunggu jawaban.
"Masalahnya..emm.. masalahnya gw ngga punya duit bayar nih makan. Lo mau bantuin gw kan, bayarin yak..." jawab Revan asal, karna ia tak tahu harus jawab apa
"Ahh sialan lo!! gw kira apaan. Tenang aja itu mah kan Bos Kenan nan tampan, ya kan Thal?"
"Tuhh kalo begini aja laki gw"
"Ehh gelang siapa nih" tanya Safira ketika melihat sebuah kotak milik Revan diatas meja.
"Itu punya orang, pesenan hehhee..." jawab Revan yang langsung menyambar kotak itu dan memasukkannya kekantung Hoodie nya
"Ooh...lo jualan? gw mau dong pesen. ada modelnya ngga?" ucap Safira dengan polosnya
"Lo beli aja sendiri. tuhh dipinggiran pantai banyak" jawab Revan
"Serius.."
"Seriuslah.."
"lo beli disitu?"
"Iyee"
"Fix gw harus kesitu pokoknya, tapi ntar lo anterin gw yaa..gw kan ngga tau tempatnya"
"Males ahh.. lo ma siapa kek, tuh Axe nganggur"
"Ishh...apaan si Lo. Bikin malu aja"
"Lahh malu kenapa, Axe aja biasa aja tuh"
Axepun menjadi salah tingkah karna Revan. Sedangkan Winda hanya terdiam mendengarkan mereka berdua. Biasanya ia menimpali omongan mereka berdua namun entah kenapa semenjak sikap Revan berubah ia merasa grogi didekat Revan.
Mereka menikmati makanan yang mereka pesan, setelah itu mereka meninggalkan Cafe lalu ketepi pantai.
"Ehh..kita foto-foto yuk disitu" ucap Thalita mengajak Safira dan Winda
Mereka bertiga pun kepinggir pantai dan mengambil beberapa foto mereka. Revan menghampiri Kenan yang sedang memperhatikan istrinya itu.
__ADS_1
"Ken.. gw mo minta tolong sama lo" ujar Revan kepada Kenan, Kenanpun menoleh seraya bertanya kepada Revan.
"Lo bisa ngga, bawa pergi tuh anak 2 kemana kek..gw ada urusan sama Winda" lanjut Revan
"Ngga bisa" jawab Kenan datar
"Tolong Ken.. hidup gw ngga bakal tenang kalo belum kelar nih urusan"
"Kau pikir gampang memisahkan mereka, aku harus jawab apa kalau istriku tanya"
"Yaa apa kek.. serah lo. Yang penting jangan sampe ketauan kalo Winda lagi sama gw"
"Hahh...merepotkan. Kau kan bisa langsung panggil Winda tanpa harus diam-diam"
"Astaga Ken, mana bisa.. masa iya gw nembak Winda didepan mereka si"
"What??!! Nembak?? Kau mau membunuh Winda" ujar Kenan dengan panik dan marah, pasalnya ia memang tidak tahu nembak yang dimaksud Revan itu apa
Revan langsung membungkam mulut Kenan hingga ia diam.
"ssttt....bukan nembak itu"
"Lalu?"
"ckk...udahlah intinya gw bukan mau bunuh dia, malah gw mau kasih kebahagiaan buat dia"
"Maksudmu?"
"Udah ntar deh gw ceritain"
"Kalau begitu aku tidak bisa menolongmu. aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan kepadanya. Biar bagaimanapun dia sahabat istriku"
"Oke oke.. tapi jangan sampe yang lain tau sekalipun Thalita. Gw cuma kasih tau sama lo doang"
"Oke.."
"Ken... Foto yuk.." ajak Thalita sambil menarik tangan Kenan
Revan pun tercengang, ia menyunggingkan senyumnya memikirkan kenapa setiap kali ia ingin bicara soal perasaannya dengan Winda selalu saja menggantung.
Revan menoleh kesamping, yang ternyata ada Axe disana. Ia pun menghampirinya.
"Axe..hari ini tuh gw kenapa yaa.. masa tiap kali gw mo ngomong soal perasaan gw nih selalu aja ngegantung, ibarat makan nih susah nelen"
"Mungkin firasat buruk"
"Hahh...buruk gimana maksudnya"
"Yaa mungkin saja Anda tidak boleh mengatakannya, karna jika Anda mengatakannya maka akan terjadi hal buruk"
"Ooh.. emang gitu yaa.."
"Itu menurutku"
Revan menghela nafasnya panjang
"hhh...jangan-jangan gw ditolak lagi ntar" ucapnya dalam hati
"Berarti gw ngga usah ngimong nih.." tanya Revan pada Axe
"Sebaiknya seperti itu" jawab Axe
"Hemm....oke dehh. Btw Thanks bro berkat lo gw jadi lega sekarang"
"Sama-sama Tuan"
__ADS_1
"Yaelah..Tuan. Sejak kapan lo jadi pelayan gw. panggil gw Revan, Re-Van..."
"Baik Revan.."
"Nahh gitu dong, kita kan Pren.." ujar Revan sambil menepuk nepuk pundak Axelle
"Woyy....curut, sini kita foto-foto" teriak Thalita
"Iya iya.." teriak Revan menjawab panggilan Thalita.
Ia mengajak Axe untuk menghampiri mereka, lalu berfoto bersama. Kenan dan Revan mulai lelah menuruti ketiga perempuan itu. Berbagai pose hingga berpindah tempat mereka lakukan demi mendapatkan gambar yang bagus.
Namun lelah mereka terbayarkan tatkala mendapatkan senyum kebahagiaan dari wanita yang mereka cintai.
Thalita meminta Axe untuk bergabung, meski awalnya ia menolak namun melihat tatapan Kenan yang seakan membunuhnya akhirnya ia pun menurutinya.
Pose demi pose mereka lakukan, Axe pun mulai terbiasa dengan itu. Ia mulai terbawa suasana seperti yang dilakukan Bosnya itu.
"Boss... kita harus kembali mempersiapkan diri untuk acara nanti malam"
"Oiya..."
"Ehh kita belom foto ramean"
Kenan melihat sekeliling, ia melihat ada dua orang gadis yang melintas lalu menghampirinya. Kenan meminta tolong padanya untuk mengambil foto mereka.
"Permisi.."
"I-iya ada apa yaa.."
Kedua gadis itu gugup, ia tak menyangka ada laki-laki tampan yang menghampiri mereka.
"Bisa kau fotokan kami disana" tanya Kenan, namun gadis itu tak menjawab ia terdiam dengan mulut sedikit menganga dan mata tak berkedip memandangi betapa indahnya pemandangan dihadapan mereka ini.
"Halooo...." Kenan melambaikan tangannya dihadapan mereka
"Oh iya bisa bisa..tapi nanti kita minta foto sama masnya yaa.. boleh kan? jawab salah satu gadis itu setelah tersadar dari lamunannya
"Oke.."
Gadis itu menerima ponsel yang Kenan berikan dan bersiap dengan fitur kameranya. Beberapa pose mereka ambil, setelah dirasa sudah cukup banyak merekapun menyudahi Foto nya.
"Terima kasih ya..
"Iya, sama-sama. Oiya fotonya jadi kan?"
"Oh maaf aku lupa"
"Mba tolong fotoin dong" ucap gadis itu meminta tolong kepada Thalita.
Thalita menurutinya namun lama kelamaan ia jengah dengan gadis itu yang selalu mengambil kesempatan kepada Kenan. Wajah Thalita semakin kesal saat gadis itu melingkarkan tangannya dilengan Kenan.
"Udah yuk.. kita buru-buru" ucap Thalita kepada Kenan, ia memberikan ponsel gadis itu kepada pemiliknya lalu menarik tangannya untuk pergi dari situ.
Sementara para gadis itu merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan diponselnya.
"iiiihhh...ganteng banget...."
.
.
.
.
__ADS_1
...----------------...